Bersedekah Demi Konten: Kamu Bukan Baik, Tapi Lapar Pujian!

Jika kamu berbagi kepada sama karena konten viral di media sosial, maka niat tulus mu sudah dimakan algoritma. Mari bahas tuntas di sini!

Handphone berada di apitan tripot kecil
Ilustrasi handphone digunakan untuk merekam saat melakukan aksi berbagi

Sobat tintanesia.com, di era digital ini video-video seseorang yang bersedekah tidak sedikit kita jumpai di media sosial (Medsos). Dengan caption 'Mari berbagi kepada sesama' tampilan seorang memberikan uang kepada orang lain yang tampak membutuhkan terputar di gadget kita. Namun ada yang janggal, makin ke sini kok video itu semacam dipaksakan sampai ke guliran di tangan kita ya? Apakah itu yang dimaksud dengan sedekah digital, atau cuma seorang yang berbagi demi konten?

Kita tidak usah menyebut akun mereka satu persatu. Cukup mengkaji, lalu sebar tulisan ini kepada mereka, barangkali kuping orang yang narget viral dibalik bersedekah ini panas. Yuk telisik secara detail!

tintanesia.com pernah mendapat petuah dari tokoh islam di Madura bagian Sampang, yakni, 'jika tangan kanan memberi, usahakanlah tangan kiri tidak melihat'. Jka direnungi ujaran itu justru menganjurkan, agar saat bersedekah, kita mampu menyembunyikan dari sesama. Namun kejadian belakangan ini malah berbalik, mereka yang bersedekah seperti mencari momen kepedulian itu dijadikan konten.

Ingat, Bersedekah itu Tumbuh dari Hati Bukan Ide Konten!

Seharusnya saat seseorang bersedekah itu, niatnya lahir dari hati nurani. Tetapi hari berbeda, mereka yang kelihatan tulus berbagi ternyata terjebak kata kunci: Sedekah, Peduli Sesama, Berbagi, dan lain sebagainya.

"Lalu apa bedanya, Sedekah yang lahir dari hati dengan yang  lahir dari kata kunci?"Jelas jawabannya, sedekah yang lahir dari hati nurani akan jauh dari rasa pamir, apalagi memamerkan lewat video dengan tujuan like dan pengikut. Sedangkan sedekah yang lahir dari konten biasanya sudah tersusun rapi. Mulai dari jam upload video, konsep saat berbagi, mulai dari caption, tag, dan hashtag nya  tersusun demi target viral di media sosial.

Pasca video itu diupload, dia memantau siapa saja yang memuji, menghina, dan apresiasi lainnya. Yang memuji dikasih emot jempol, sedangkan yang menghina langsung dikritik' "Dari pada kamu hanya bisa komen, tapi gak bisa berbagi." Seakan-akan menunjukan bahwa dia haus pujian netizen.

Medsos Bisa Jadi Ukuran Kepedulian?

Media sosial itu bisa dijadikan ukuran sebuah kebaikan? Bisa dikatakan iya sih, namun untuk tahun 2026 ini lebih banyak ke sisi timpangnya, deh. Semacam tampak lebih banyak pamernya ketimbang benar-benar peduli kepada sesama. Seolah-olah orang yang bikin konten memberi kepada sesama, ingin menunjukkan keberadaan diri, kepunyaan harta dan lainya.

Menurut hemat pikir tintanesia.com, kepedulian itu bisa dilihat dari mereka yang  memberi tanpa gembar-gembor di konten. Bahkan saat ingin memberi, dia mencari siasat agar orang lain tidak mendengar atau melihatnya.

Coba bandingkan dua peristiwa ini. Pertama, ada seorang yang memberi uang sebesar Rp300 ribu kepada yang membutuhkan. Namun saat memberi, dia membawa orang lain untuk merekam kejadian itu lewat kamera, lalu menguploadnya ke medsos .

Sedangkan yang kedua, ada seorang yang memberi tanpa konten. Jangankan merekam jejak saat dia melakukan kepedulian terhadap sesama, teman dekat pun tidak mengetahui saat dia bekerja kepedulian.

Dari dua kejadian di atas, yang kedua mungkin tidak punya jejak digital atau kenangan. Namun tokoh utama di kisah kedua ini justru tampak kemurnian niatnya. Kalau kamu, lebih sepakat yang mana?

Kemanusiaan Bertopeng di Belakang Kamera

Orang yang berbagi lalu dikontenkan ke medsos, tampak terlihat seperti manusia yang memakai topeng di balik kamera. Artinya, dia pura-pura memberi dengan mengorbankan ratusan ribu, namun dibalik pemberian itu seolah ada target algoritma, misi kata kunci, dan tujuan viral yang memang direncanakan secara matang.

"Kan enak kang, saat berbagi sekalian ngonten," jika sanggahan mu begitu, maka perlu diketahui, bahwa niat awal orang itu bukan bersedekah, melainkan bikin konten. Sehingga kemurnian niatnya ternodai oleh target viral di medsos.

Berbeda dengan orang yang tulus saat memberi. Tanpa merencanakan deskripsi, hastag, tag dalam memberi. Paling mentok, dia hanya mengabadikan untuk disimpan di memori ponselnya.

Nilai Keikhlasan Runtuh Ditelan Algoritma

Saat kamu punya niatan mengejar visitor atau banyaknya penonton medsos lewat konten bersedekah, maka nilai keikhlasan hatimu telah hangus dimakan algoritma. "Kok gitu kang?" Ya sejelas karena kamu telah menodai keikhlasan itu sendiri. Yang seharusnya memberi tanpa pamrih, kamu justru berharap ribuan like, bahkan perasaanmu cemas jika yang menonton sedikit.

Yang seharusnya memberi langsung, kamu justru menyusun alur ribet hingga mengganggu waktu sang penerima sedekah dalam urusan mencari uang. "Berarti saya termasuk orang yang egois ya kang?" Ya begitulah akhirnya. Sehingga mau tidak mau, kita harus meriset prilaku berbagi kita. Yakni, mengembalikan sejati memberi pada hakikat berbagi sesungguhnya.

Begini kang, tidak semua hal itu boleh di upload ke media sosial. Tapi tidak semua hal dilarang di medsoskan. Bergantung dari situasi dan kondisinya saja. Paham, kan!

Ketergantungan pada Validasi Semut Maya

Jika kita tidak bisa menghindar dari 'saat memberi ingin viral di media sosial' maka nantinya, kita termasuk golongan yang haus validasi semut maya. Artinya, kita akan menjadi bergantung dan menunggu lanjutan algoritma saat hendak berbagi lagi ke sesama.  Bayangkan jika algoritma tidak menunjukkan kata kunci 'Bersedekah, Berbagi, Peduli', apakah kita tetap akan mengasihi orang-orang yang membutuhkan?

"Jika saya tetap berbagi meski tidak ada target viral, namun sewaktu-waktu saya bikin konten bersedekah, bagaimana kang?" Kalau begitu ya, boleh-boleh saja. Asal kamu bisa kuat dari nafsu ingin FYP dan lainnya, silahkan. Pada intinya, jangan sampai mencampur adukkan secara gamblang antara berbagi dengan  target algoritma. Bisa kan?* (Bram) #Sedekah #Konten #Algoritma_Viral

Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Bersedekah Demi Konten: Kamu Bukan Baik, Tapi Lapar Pujian!
  • Bersedekah Demi Konten: Kamu Bukan Baik, Tapi Lapar Pujian!
  • Bersedekah Demi Konten: Kamu Bukan Baik, Tapi Lapar Pujian!
  • Bersedekah Demi Konten: Kamu Bukan Baik, Tapi Lapar Pujian!
  • Bersedekah Demi Konten: Kamu Bukan Baik, Tapi Lapar Pujian!
  • Bersedekah Demi Konten: Kamu Bukan Baik, Tapi Lapar Pujian!

Posting Komentar