Fenomena Orang Pintar Kalah dari yang Viral, Dampak Algoritma Medsos?

Orang pintar bisa kalah terkenal dari sosok viral yang minim pengetahuan. Algoritma medsos membuat perhatian menjadi ukuran baru yang perlu dikritisi.

Beberpa orang berdiri membelakangi kamera
Ilustrasi Orang Pintar

Ada pemandangan yang semakin sering terlihat di media sosial. Tahukah sahabat tintanesia.com, seseorang yang bertahun-tahun belajar, membaca buku, melakukan penelitian, bekerja di bidang tertentu, dan mengumpulkan pengalaman bisa kalah terkenal dari orang yang baru beberapa kali berbicara di depan kamera. Bedanya sederhana, satu orang punya pengetahuan yang dibangun perlahan, sementara orang lainnya memiliki kemampuan luar biasa dalam menarik perhatian.

Fenomena itu kemudian melahirkan pertanyaan yang lebih besar tentang cara masyarakat menentukan siapa yang layak didengar. Ketika jumlah pengikut mencapai jutaan, sebuah pendapat bisa terasa lebih penting meskipun orang yang menyampaikannya belum tentu memahami persoalan secara mendalam. Di sinilah algoritma media sosial ikut memainkan peran, karena perhatian publik dapat bergerak jauh lebih cepat daripada proses membangun keahlian.


Indonesia Sudah Menjadi Panggung Digital yang Sangat Besar


Besarnya fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari jumlah pengguna internet dan media sosial di Indonesia. DataReportal mencatat sekitar 212 juta orang di Indonesia menggunakan internet pada awal 2025, sementara jumlah identitas pengguna media sosial mencapai sekitar 143 juta. Angka tersebut setara dengan 50,2 persen populasi Indonesia, meskipun DataReportal mengingatkan bahwa angka identitas pengguna media sosial tidak selalu sama dengan jumlah individu unik.


Artinya, media sosial sudah menjadi ruang yang sangat besar untuk membentuk perhatian publik. Seseorang dapat dikenal melalui video pendek, potongan podcast, komentar, unggahan kontroversial, atau satu pernyataan yang kemudian disebarkan oleh banyak akun. Ketika sebuah materi sudah mendapatkan momentum, penyebarannya dapat bergerak jauh lebih cepat dibandingkan proses seseorang membangun reputasi profesional melalui pendidikan dan pengalaman.


Di ruang seperti ini, orang pintar menghadapi persoalan yang cukup unik. Pengetahuan membutuhkan waktu untuk dipahami, sedangkan perhatian pengguna sering kali hanya bertahan beberapa detik. Orang yang mampu membuat publik berhenti menggulir layar memiliki keuntungan awal, bahkan sebelum kualitas pengetahuannya diperiksa.


Algoritma Lebih Mudah Membaca Perhatian


Algoritma media sosial tidak bekerja seperti guru yang sedang memeriksa ujian. Sistem tidak memberikan nilai berdasarkan siapa yang paling banyak membaca buku, siapa yang memiliki pengalaman paling panjang, atau siapa yang paling memahami sebuah bidang. Sistem rekomendasi bekerja dengan memanfaatkan berbagai sinyal perilaku pengguna untuk menentukan konten yang dianggap relevan atau menarik bagi mereka.


Akibatnya, sebuah konten yang mengundang banyak respons dapat memperoleh distribusi lebih luas. Orang menonton sampai selesai, memberikan tanda suka, berkomentar, membagikan, atau kembali melihat konten tersebut, sehingga muncul sinyal bahwa materi itu berhasil mendapatkan perhatian. Mekanisme seperti ini dapat membuat seseorang yang sangat pandai memainkan perhatian tumbuh jauh lebih cepat daripada orang yang sebenarnya memiliki kapasitas pengetahuan lebih dalam.


Persoalannya menjadi rumit ketika publik mulai menyamakan sering muncul dengan paling memahami. Padahal, algoritma sedang membaca perilaku pengguna, bukan sedang menguji kompetensi seseorang. Orang yang viral berarti berhasil mendapatkan perhatian dalam skala besar, tetapi popularitas tersebut belum menjadi bukti bahwa semua pendapatnya memiliki dasar pengetahuan yang kuat.


Orang Pintar Bisa Kalah Sebelum Sempat Menjelaskan


Bayangkan seorang ahli ekonomi menjelaskan sebuah persoalan dengan data, konteks, dan beberapa kemungkinan penyebab. Penjelasannya mungkin membutuhkan waktu sepuluh menit karena persoalan ekonomi memang memiliki banyak variabel. Pada saat yang sama, seseorang yang tidak memiliki latar belakang ekonomi membuat video berdurasi tiga puluh detik dengan satu kesimpulan sederhana dan terdengar meyakinkan.


Video kedua bisa lebih cepat menarik perhatian. Kalimatnya pendek, ekspresinya kuat, dan kesimpulannya terasa mudah dicerna. Sementara itu, penjelasan sang ahli meminta penonton bersabar sebelum memahami inti persoalan.


Inilah salah satu alasan mengapa kepintaran tidak selalu menghasilkan popularitas. Keahlian dan kemampuan komunikasi merupakan dua keterampilan berbeda. Seseorang bisa sangat menguasai sebuah bidang, tetapi belum tentu mampu mengemas pengetahuannya menjadi pesan yang menarik bagi jutaan pengguna media sosial.


Viral Tidak Sama dengan Pintar


Kita perlu memisahkan tiga hal yang sering tercampur dalam percakapan digital: terkenal, menarik, dan pintar. Seseorang bisa sangat terkenal karena kontennya menghibur. Seseorang juga bisa sangat menarik ketika berbicara meskipun pengetahuannya terhadap topik tertentu masih terbatas.


Masalah muncul ketika popularitas dianggap sebagai bukti keahlian. Jutaan penonton memberikan kesan bahwa seseorang memiliki otoritas besar, padahal angka tersebut sebenarnya lebih banyak menunjukkan kemampuan menjangkau perhatian. Jumlah pengikut juga tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang memiliki kompetensi pada semua topik yang dibicarakannya.


Riset Pew Research Center memberikan gambaran mengenai perubahan sumber informasi tersebut. Dalam survei Amerika Serikat yang dilakukan pada 2024, sekitar satu dari lima orang dewasa mengatakan mereka secara rutin mendapatkan berita dari news influencer di media sosial. Di kalangan usia 18–29 tahun, angkanya mencapai 37 persen. Studi tersebut mendefinisikan news influencer sebagai individu dengan pengikut besar yang sering membahas berita atau isu sosial dan politik.


Data tersebut memang berasal dari Amerika Serikat, bukan Indonesia, sehingga tidak tepat digunakan untuk menggambarkan perilaku masyarakat Indonesia secara langsung. Namun, temuan tersebut memperlihatkan sebuah perubahan yang relevan secara lebih luas: individu dengan popularitas besar semakin berperan sebagai perantara informasi, termasuk pada topik yang membutuhkan pengetahuan dan konteks.


Orang yang Viral Bisa Lebih Dipercaya karena Familiar


Ada alasan lain mengapa orang viral mudah mendapatkan kepercayaan. Ketika wajah yang sama muncul berkali-kali di beranda, penonton menjadi semakin familiar dengan sosok tersebut. Familiaritas kemudian dapat membuat seseorang terasa dekat, seolah-olah sudah dikenal secara personal meskipun hubungan tersebut sebenarnya berlangsung melalui layar.


Pew Research Center menemukan bahwa 65 persen warga Amerika yang rutin memperoleh berita dari news influencer mengatakan konten dari influencer membantu mereka memahami peristiwa atau isu kewargaan dengan lebih baik. Temuan tersebut menunjukkan bahwa audiens tidak selalu melihat influencer sebagai sumber hiburan; sebagian juga memanfaatkannya sebagai sumber informasi.


Namun, rasa dekat dan kemampuan menjelaskan tetap berbeda dengan kompetensi pada bidang tertentu. Seorang kreator bisa sangat piawai membuat isu rumit terasa sederhana, tetapi penyederhanaan tersebut perlu tetap diperiksa. Jika konteks penting dipotong terlalu jauh, penjelasan yang mudah dipahami justru dapat menghasilkan pemahaman yang tidak lengkap.


Masalah Muncul Ketika Sensasi Mengalahkan Verifikasi


Konten yang viral juga dapat membawa persoalan lain, terutama ketika informasi yang belum terverifikasi ikut memperoleh perhatian besar. Dalam riset Pew terhadap konsumen berita di TikTok, 23 persen pengguna dewasa AS yang rutin memperoleh berita melalui TikTok mengatakan mereka sangat sering atau cukup sering melihat berita yang tampak tidak akurat, sedangkan 49 persen mengatakan mereka kadang melihat informasi semacam itu.


Angka tersebut tidak berarti seluruh konten viral adalah informasi keliru. Banyak konten populer yang benar, bermanfaat, dan dibuat oleh orang yang memang memiliki kompetensi. Data tersebut lebih tepat menunjukkan bahwa lingkungan media sosial memungkinkan informasi yang meragukan ikut mendapatkan perhatian dalam jumlah besar.


Karena itu, persoalan sebenarnya bukan tentang melarang orang viral untuk berbicara. Persoalannya adalah bagaimana pengguna membedakan antara orang yang terkenal karena sering dilihat dengan orang yang layak dipercaya karena memiliki pengetahuan dan bukti. Dua hal tersebut dapat bertemu dalam satu orang, tetapi tidak selalu demikian.


Orang Pintar Juga Harus Belajar Merebut Perhatian


Ada satu hal yang perlu dikritisi dari sisi orang pintar sendiri. Ketika seseorang memiliki ilmu mendalam tetapi tidak mampu menyampaikannya dengan bahasa yang mudah dipahami, publik bisa saja tidak pernah mengetahui kualitas pengetahuan tersebut.


Media sosial memang menuntut bentuk komunikasi yang berbeda. Seorang ahli tidak perlu mengubah dirinya menjadi pemburu sensasi, tetapi bisa belajar membuka pembahasan dengan contoh yang dekat, menggunakan bahasa yang sederhana, membuat visual yang jelas, serta menyusun informasi secara bertahap.


Pengetahuan yang bagus membutuhkan pintu masuk. Jika pintu tersebut terlalu sulit ditemukan, orang bisa berhenti sebelum sampai pada isi yang sebenarnya bernilai. Karena itu, kemampuan berkomunikasi bukan musuh bagi kepintaran, melainkan salah satu cara agar kepintaran dapat menjangkau lebih banyak orang.


Jangan Sampai Algoritma Menentukan Siapa yang Dianggap Pintar


Fenomena orang pintar kalah dari orang yang viral memperlihatkan perubahan besar dalam cara reputasi dibangun. Dulu, seseorang mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dikenal melalui karya dan profesinya. Sekarang, satu potongan video dapat mengubah seseorang menjadi nama yang dibicarakan banyak orang dalam waktu sangat singkat.


Algoritma memperbesar peluang tersebut karena perhatian pengguna menjadi salah satu bahan penting dalam distribusi konten. Ketika perhatian tinggi menghasilkan jangkauan yang lebih besar, orang yang pandai memancing respons memiliki peluang untuk terus muncul. Di sisi lain, orang yang memiliki pengetahuan mendalam harus bekerja lebih keras agar kualitas pesannya tidak tenggelam sebelum sempat dipahami.


Maka, masyarakat perlu membedakan antara popularitas sebagai ukuran jangkauan dan keahlian sebagai ukuran kapasitas. Jumlah tayangan menunjukkan berapa banyak orang melihat sesuatu, bukan seberapa benar isi sesuatu tersebut. Jumlah pengikut menunjukkan seberapa besar seseorang mampu membangun audiens, bukan otomatis seberapa luas pengetahuannya.


Masa Depan Ada pada Orang yang Pintar Sekaligus Mampu Berkomunikasi


Fenomena ini tidak harus berakhir pada kesimpulan bahwa orang pintar selalu kalah. Justru perubahan media sosial menunjukkan kebutuhan baru: orang berpengetahuan perlu belajar menyampaikan ilmu dengan cara yang menarik tanpa mengorbankan akurasi.


Sementara itu, pengguna media sosial perlu belajar bahwa viral bukanlah sertifikat keahlian. Ketika melihat sebuah klaim, latar belakang pembicara, sumber data, konteks, dan bukti tetap perlu diperhatikan sebelum sebuah pendapat dianggap benar.


Dunia digital akan terus membuat persaingan mendapatkan perhatian semakin ketat. Orang yang paling sering muncul belum tentu orang yang paling memahami persoalan, sebagaimana orang yang paling pintar juga belum tentu mampu mendapatkan perhatian. Tantangan zaman sekarang adalah memastikan keduanya bisa bertemu: pengetahuan yang kuat memiliki kemampuan berbicara, sementara popularitas tetap disertai tanggung jawab terhadap informasi yang disampaikan.* (Bram) #Orang_Pintar_Kalah_Viral #Algoritma_Medsos

Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Fenomena Orang Pintar Kalah dari yang Viral, Dampak Algoritma Medsos?
  • Fenomena Orang Pintar Kalah dari yang Viral, Dampak Algoritma Medsos?
  • Fenomena Orang Pintar Kalah dari yang Viral, Dampak Algoritma Medsos?
  • Fenomena Orang Pintar Kalah dari yang Viral, Dampak Algoritma Medsos?
  • Fenomena Orang Pintar Kalah dari yang Viral, Dampak Algoritma Medsos?
  • Fenomena Orang Pintar Kalah dari yang Viral, Dampak Algoritma Medsos?

Posting Komentar