Dongeng Nusantara Sepi Peminat, Kalah Saing dengan Konten Modern?

Meski di era digital ini dongeng sangat mudah di akses, namun tidak bisa mengembalikan minat audien. Ada beberapa hal yang kita bahas di sini!

tangan memegang handphone yang menampilkan konten di salah satu media sosial
Ilustrasi nonton konten modern di ponsel

Hai sobat tintanesia.com, di tahun 2026 ini teknologi digital bisa dikatakan mampu meruntuhkan tembok batas informasi. Bahkan hanya dengan usapan jari di layar ponsel, ratusan kisah Nusantara bisa di jamah oleh siapa saja. Secara kasat mata, digital semacam ini seolah mampu menjadi juru selamat bagi kisah-kisah lisan warisan leluhur.

Namun, benarkah manusia modern Indonesia minat konten dongen Nusantara itu? Jangan-jangan mereka, justru lebih suka melihat kisah-kisah modern yang digarap corak lokal. Apalagi di tengah rimba algoritma seperti sekarang, pertarungan keyword atau kunci semakin marak. Sehingga jadinya, kisah rakyat semakin terpinggirkan dari peminat.

"Lantas, apa tujuan artikel ini?" Sudah jelas, kita memiliki misi nasional, yakni mengembalikan minat baca, nonton, dan penyimak terhadap kekayaan Nusantara seperti dongeng rakyat. Mengingat hari ini, kreator konten terkait dongeng lokal semakin membeludak, sementara visitor-nya kian waktu semakin menipis.

DIgitalisasi Dongeng Memang Iya, Tapi Semakin Paradoks

Sekarang cerita rakyat memang gampang dicari. Lewat gadget, kita bisa mendapatkan kisah-kisah yang berkaitan dengan dongeng Nusantara. Namun minat pembaca atau penonton terkait kisah lokal, relatif menurun dari waktu ke waktu. Dugaan sementara tintanesia.com terkait menurunnya minat itu, lantaran dipicu oleh perilaku manusia Indonesia dalam mengkonsumsi informasi digital. Jadi semacam ada faktor utama yang menyebabkan pola keterlibatan merendah terhadap dongeng, yakni sebagai berikut:

1. Kompetisi Konten

Dulu kisah rakyat banyak peminatnya, dikarenakan tidak ada saingan. Namun tidak dengan sekarang yang semua orang memiliki ide menarik dengan konten-konten modernnya. Sehingga mau tidak mau, konten kisah lokal harus bertanding algoritma dengan konten modern, baik di website maupun platform media sosial lainnya seperti: TikTok, Instagram, Facebook.

Tak hanya itu, kita kehabisan peminat dari usia anak-anak hingga remaja, dikarenakan game digital semakin marak dikalangan mereka. Terlebih permainan di ponsel hari ini, memang hadir dengan konsep unik dan terdapat beberapa kejutan di dalamnya.

Sedangkan di kalangan orang tua, dongeng Nusantara tersingkirkan oleh drama-drama asing yang bikin adrenalin penonton membara. Coba bandingkan, pertama 'Drama yang mengajak penonton hadir di zaman kerajaan, dengan tambahan alur dan alat-alat modern.' dengan 'Kisah lokal yang alurnya begitu-begitu saja, aktornya itu-itu saja, dan latar settingannya tak berubah.' Pastinya kamu akan memilih drama asing, bukan!

2. Kurang Kreatif di Penggarapan

Garapan konten lokal biasanya kurang ada pengembangan. Seolah hanya memindahkan dari teks cetak ke layar gawai tanpa adanya format baru, atau pengembangan ke alur setting dan penokohan. Sehingga kalah dengan konten modern yang setiap temanya terdapat kejutan yang bikin penyimak penasaran.

Sedangkan generasi sekarang, cendrung suka yang singkat ketimbang durasi baca atau nonton panjang. Hal itu telah menjadi budaya di era digital ini, hasilnya konten dongeng nusantara terdepak dari minat masyarakat.  

Coba bayangkan dua kisah ini. Pertama cerita bawang merah dan bawang putih yang hanya menceritakan percintaan dan dunia tak kasat mata. Sedangkan yang kedua, kisah pangeran mahkota terpinggirkan bangkit dengan alat alat modern. Tentu yang paling menarik adalah yang kedua, karena menghadirkan atau mengadu kemapuan kuno dengan keahlian modern. 

3. Lemah di Pesan Moral

Biasanya dongeng lokal itu lemah di pesan moral. Bahkan nilai-nilainya bisa ditebak sebelum cerita selesai. Terlebih, nilai moralnya terlalu kaku alias hitam putih ketimbang konten modern. Contoh 'kisah letusan gunung berapi' yang lebih fokus pada action. Berbeda dengan konten modern yang bisa disetting nilai moralnya dari awal.

Ditambah lagi, konten dongeng nusantara tergolong tidak relevan dengan kompleksitas kehidupan modern anak muda saat ini. Anak muda sekarang tidak hanya membaca pesan moral dari kisah tulis maupun video, melainkan meminta kejutan dan pembungkusan keren dari pesan moral itu sendiri. Jadi hasilnya, konten dongeng Nusantara jarang dimintai pemuda Indonesia.

Kemudahan Akses Tak Mampu Menggeser Konten Instan

Sebenarnya perkembangan digital bisa dikatakan membuka peluang besar bagi dongeng untuk menjangkau audien. Pasalnya, dengan adanya layar ponsel ini, anak-anak dan remaja tidak harus menunggu orang tua untuk mendengarkan cerita. Cukup dengan membuka handphone lalu buka youtube, TikTok, dan media sosial lainnya mereka sudah bisa mendapat dongeng secara mudah.

Meski begitu, kemudahan tak mampu mengembalikan minat seseorang ke dongeng. Kok Gitu kang? Jelas karena kemudahan digital justru membuat dongeng harus bersaing dengan beragam hiburan lainnya yang dikemas lebih unik dan menarik. Nah itulah yang menjadi masalah terbesar konten-konten dongeng Nusantara.

Coba bayangkan popularitas konten instan modern seperti video berdurasi pendek, unggahan lucu dan lain sebagainya. Konten semacam itu bisa dipastikan menyuguhkan hiburan dalam hitungan detik, bukan! Apalagi formatnya cendrung merangsang emosional secara cepat, sehingga audien tertarik dalam waktu singkat.

Berbeda dengan konten modern, dongeng lebih monoton dan terasa kaku. Jadi seolah membutuhkan waktu lama hanya untuk mengenalkan tokoh, pengembangan konflik, dan menyampaikan pesan moral.

Apalagi gen z dan milenial seperti sekarang sudah terbiasa dengan konten pendek yang setiap menggulir langsung menemui tema beda yang sama-sama menarik antar konten. 

Menurut tintanesia.com, penggarap konten dongeng Nusantara perlu mengedukasi aau mengembangkan baik dari alur, setting dan lainya. Namun jangan sampai menghilangkan maksud dan makna dari konten dongeng itu sendiri. Terimakasih.* (Bram) #Dongeng_Nusantara #Konten_Modern

Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Dongeng Nusantara Sepi Peminat, Kalah Saing dengan Konten Modern?
  • Dongeng Nusantara Sepi Peminat, Kalah Saing dengan Konten Modern?
  • Dongeng Nusantara Sepi Peminat, Kalah Saing dengan Konten Modern?
  • Dongeng Nusantara Sepi Peminat, Kalah Saing dengan Konten Modern?
  • Dongeng Nusantara Sepi Peminat, Kalah Saing dengan Konten Modern?
  • Dongeng Nusantara Sepi Peminat, Kalah Saing dengan Konten Modern?

Posting Komentar