Telisik Makna dari Tradisi Terater Madura yang Sarat Nilai Kebersamaan
![]() |
| Ilustrasi bingkisan yang akan di antar atau yang disebut dengan tradisi terater |
Sahabat tintanesia.com, tahukan sampean, bahwa di tengah derasnya perubahan zaman, masyarakat Madura masih menyimpan banyak tradisi yang mengandung nilai kebersamaan. Salah satunya adalah terater, sebuah kebiasaan mengantar bingkisan makanan atau jajanan kepada keluarga, tetangga, maupun kerabat saat ada acara keagamaan atau kegiatan keluarga.
Bagi masyarakat Madura, terater tidak hanya membagikan makanan. Tradisi ini pasalnya menjadi cara sederhana untuk mempererat hubungan antar sesama sekaligus berbagi kebahagiaan. Nilai yang terkandung di dalamnya tetap relevan hingga sekarang, bahkan ketika gaya hidup masyarakat mulai berubah.
Apa Itu Tradisi Terater?
Tradisi terater merupakan kebiasaan mengirim atau mengantar bingkisan makanan yang telah dibungkus rapi kepada orang lain. Isi bingkisan tersebut bisa berupa aneka jajanan tradisional, nasi berkat, lauk-pauk, maupun hidangan lain sesuai acara yang sedang diselenggarakan.
Di berbagai daerah di Madura, tradisi ini biasanya dilakukan setelah acara selesai atau menjelang kegiatan berlangsung. Bingkisan kemudian diantar langsung ke rumah-rumah warga oleh anggota keluarga, anak-anak, maupun kerabat yang membantu pelaksanaan acara.
Meskipun bentuk dan isi bingkisan dapat berbeda di setiap daerah, tujuan utamanya tetap sama, yakni berbagi rezeki sekaligus menjaga tali silaturahmi.
Tradisi yang Hadir dalam Berbagai Acara
Terater sering dijumpai dalam berbagai kegiatan yang memiliki makna religius maupun sosial.
Beberapa di antaranya meliputi:
- Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
- Acara haul atau peringatan wafat seseorang.
- Tujuh harian setelah meninggal dunia.
- Empat puluh harian.
- Seratus harian.
- Tahlilan keluarga.
- Syukuran atau selamatan tertentu.
Pada momen-momen tersebut, keluarga yang mengadakan acara menyiapkan makanan dalam jumlah banyak. Sebagian disajikan kepada tamu yang hadir, sementara sebagian lagi dibungkus untuk dibagikan melalui tradisi terater.
Lebih dari Sekadar Membagikan Makanan
Jika dilihat dari luar, terater mungkin hanya tampak sebagai kegiatan mengantar makanan. Namun, masyarakat Madura memaknainya jauh lebih dalam.
Tradisi ini mencerminkan semangat berbagi kepada sesama tanpa memandang latar belakang penerima. Semua orang yang masih memiliki hubungan kekerabatan, bertetangga, atau memiliki kedekatan sosial dapat menerima bingkisan tersebut.
Di sisi lain, terater juga menjadi bentuk penghormatan kepada orang lain. Dengan mengantarkan makanan secara langsung, hubungan kekeluargaan tetap terjaga dan komunikasi antar masyarakat terus berlangsung.
Menumbuhkan Rasa Kebersamaan
Tradisi terater juga mengajarkan pentingnya gotong royong. Saat sebuah keluarga mengadakan acara besar, biasanya banyak tetangga yang ikut membantu menyiapkan makanan, membungkus bingkisan, hingga mengantarkannya.
Kegiatan tersebut menciptakan suasana kebersamaan yang sulit ditemukan dalam kehidupan modern. Anak-anak pun sering dilibatkan untuk mengantar bingkisan ke rumah-rumah warga sehingga mereka belajar menghargai pentingnya berbagi sejak usia dini.
Tanpa disadari, tradisi sederhana ini menjadi media pendidikan sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Simbol Doa dan Ungkapan Syukur
Dalam berbagai acara keagamaan, makanan yang dibagikan melalui terater bukan sekedar hidangan. Bingkisan tersebut menjadi simbol rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat yang diterima sekaligus harapan agar doa-doa yang dipanjatkan membawa keberkahan.
Pada acara seperti haul, tujuh harian, maupun empat puluh harian, pembagian berkat juga menjadi bagian dari penghormatan kepada almarhum. Keluarga berharap doa yang dipanjatkan bersama dapat menjadi amal kebaikan sekaligus mempererat hubungan dengan masyarakat sekitar.
Karena itulah, terater selalu dilakukan dengan penuh kesungguhan dan rasa hormat.
Tetap Bertahan di Tengah Perubahan Zaman
Saat ini, bentuk kemasan terater memang mengalami perubahan. Jika dahulu menggunakan daun pisang atau anyaman bambu, kini banyak masyarakat memilih kotak makanan, besek, atau wadah praktis lainnya.
Meski demikian, perubahan kemasan tidak menghilangkan makna utama tradisi tersebut. Nilai berbagi, menghormati sesama, dan menjaga hubungan kekeluargaan tetap menjadi inti dari terater.
Di sejumlah daerah, tradisi ini bahkan masih dinantikan masyarakat karena menjadi salah satu cara memperkuat hubungan sosial di lingkungan sekitar.
Warisan Budaya yang Layak Dijaga
Tradisi terater menunjukkan bahwa sebuah budaya tidak selalu diwujudkan dalam upacara besar atau perayaan yang meriah. Kebiasaan sederhana mengantar bingkisan makanan ternyata mampu menyimpan pesan tentang kepedulian, kebersamaan, dan rasa syukur.
Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, tradisi seperti ini mengingatkan bahwa hubungan baik dengan keluarga dan tetangga perlu terus dipelihara. Sebuah bingkisan mungkin terlihat sederhana, tetapi perhatian yang menyertainya seringkali memiliki makna yang jauh lebih besar.
Tradisi terater Madura merupakan warisan budaya yang memperlihatkan eratnya hubungan antara nilai agama, kehidupan sosial, dan semangat berbagi dalam masyarakat. Kebiasaan mengantar berkat atau bingkisan makanan pada acara seperti Maulid, haul, tujuh harian, hingga empat puluh harian bukan hanya menjaga tradisi leluhur, tetapi juga memperkuat ikatan persaudaraan.
Selama nilai saling menghormati, berbagi, dan menjaga silaturahmi terus dipertahankan, tradisi terater akan tetap memiliki tempat di tengah kehidupan masyarakat modern sebagai salah satu identitas budaya Madura yang patut dilestarikan.* (Fau) #Tradisi_Terater #Budaya_Madura #Kearifan_Lokal
Meta Deskripsi:

Posting Komentar