Budayakan Mengajar Cara Berpikir Kepada Siswa, Seperti yang Dilakukan Tjokroaminoto
![]() |
| Ilustrasi siswa sedang belajar dan berpikir |
Sahabat tintanesia.com, dulu pendidikan hanya berkutat pada menulis ulang materi yang tertulis di papan, menghafal materi yang ditulis, kemudian setoran hafalan, atau bahkan menjawab pertanyaan yang jawabannya harus sama dengan yang ada di buku materi.
Sebenarnya pembelajaran seperti itu normal-normal saja bagi kehidupan belajar mengajar. Namun, kapan kita memberikan kesempatan kepada siswa untuk merenungi, memikirkan, dan melakukan uji kebenaran atau melakukan banding dengan pendapat lainnya terkait pembelajaran yang ada.
Maka dari itu sebagai pendidik, seharusnya seorang guru membudayakan mengajar siswa dengan cara mengajak atau mengarahkan peserta didik untuk berpikir terkait apa yang diketahui melalui bahan bacaan atau dari fakta lapangan secara langsung.
Dengan cara itu kebiasaan akan berpikir secara mendalam siswa, perlahan bisa terbentuk dengan sendirinya. Kemudian jangan salahkan jika pembelajaran berlangsung menarik, tidak monoton, dan tentu tidak hanya berkenaan dengan hafalan.
Sahabat tintanesia.com perlu kita ketahui bersama, bahwa setiap pendidik itu menginginkan muridnya berhasil. Hanya saja keberhasilan tidak bisa ditakar dengan nilai yang tinggi saja, melainkan juga bisa dilihat dari cara siswa berpikir saat menghadapi berbagai persoalan.
Berpikir tinggi itu, biasanya, terdapat proses atau bekal panjang yang yang lebih jauh dari usia. Pasalnya, bekal itulah yang akan menemani siswa nanti, bahkan setelah ia lulus dari jenjang pendidikan.
Ternyata pembelajaran memberikan waktu untuk siswa membaca, berpikir, dan menyampaikan pendapat ini pernah dilakukan oleh H.O.S Tjokroaminoto, hingga melahirkan tokoh pemikir yang hebat, salah-satunya presiden pertama Indonesia, yakni Soekarno.
Tjokroaminoto terkenal tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga cara mendidiknya yang unik, sampai-sampai rumahnya itu menjadi tempat untuk bertukar pikiran.
Seberapa Berharga Mengajak Siswa Berpikir?
Jadi begini, terkadang orang tua dan guru ingin semuanya cepat selesai. Yakni anak bertanya,lalu jawabannya langsung diberikan melalui membaca beberapa kalimat yang ada di buku.Tentu cara tersebut tergolong praktis dan mudah dilakukan. Namun ada satu yang hilang di samping pertanyaan dan jawaban berlangsung, yakni berkurangnya kesempatan berpikir peserta didik.
Berbeda dengan pendidik yang selalu mengajak siswa mencari alasan di balik semua jawaban. Yaitu anak bisa belajar berlogika, menghubungkan informasi, lalu menyimpulkan sementara dengan bahasa sendiri.
Nah, proses seperti itulah yang biasanya membentuk rasa percaya pada diri anak terkait pikirannya sendiri. Melalui itu, pembelajaran terus berjalan dengan melahirkan temuan baru.
Ciptakan Diskusi Santai, Hingga Siswa Menganggap itu Bersenang-senang
Suasana Belajar seharusnya tidak benar-benar sunyi, contoh guru yang memberikan informasi pengetahuan tanpa adanya timbal balik dari dari siswa. Atau memberikan waktu siswa bertanya, hanya saja dengan cara kaku alias terlalu formal.
Ciptakanlah suasana diskusi santai ala warung kopi, namun tetap jangan sampai keluar dari etika pendidikan. Melalui komunikasi santai itu, ilmu terbahas dengan mengalir lewat obrolan seorang pendidik dengan puluhan siswa di kelas.
Kesalahan Bukan Musuh dalam Belajar
Sahabat tintanesia.com, tidak sedikit peserta didik takut menjawab karena khawatir salah. Akibatnya, mereka memilih diam meski memiliki gagasan yang baik. Kita harus ingat teman-teman, bahwa kesalahan itu merupakan bagian dari proses pembelajaran. Artinya kesalahan merupakan batu loncatan untuk kebenaran.
Jadi begini, kita lihat anak kecil yang sedang belajar berjalan. Tentu tidak lepas dari jatuh berkali-kali sebelum kemudian mampu berjalan tertatih-tatih, lalu bisa berjalan dengan baik. Nah, belajar berpikir juga demikian, yakni kesalahan bukan akhir dari pembelajaran, namun sebuah temuan yang harus diperbaiki.
Zaman Sudah Serba AI, Lalu Siapa yang Mampu Berfikir?
Kini, teknologi semakin canggih bahkan dalam hitungan detik mampu menjawab banyak pertanyaan dan berbagai jenis soal. Namun ada yang perlu kita renungi bersama, yakni, kemampuan memilih informasi yang benar, memahami keadaan, kemudian mengambil. Nah itulah yang dimaksud dengan proses berpikir.
Lalu, apakah AI ini tidak berpikir? Berkenaan dengan pertanyaan ini tentu bisa kita perkirakan jawabannya, yakni, Kecerdasan buatan atau AI memang mengolah data yang pernah diketahuinya. Sehingga hasilnya pun kaku, alias tidak ada pembaharuan.
Maka dari itu, sekarang ini sekolah memiliki peran penting dalam hal berpikirnya anak-anak akan pembelajaran. Pasalnya anak-anak tidak hanya belajar mengetahui banyak hal, melainkan mereka perlu belajar menimbang, menganalisis dan memahami alasan dari setiap informasi yang mereka dapatkan.
Warisan Guru Ada dalam Cara Berpikir Siswa
Mungkin nama guru tidak tertulis dalam buku sejarah. Namun perlu kita sadari bersama, bahwa secara histori, guru penyumbang terbesar akan cara pandang dan daya pikir seorang peserta didik.
Apalagi, melalui berpikir, siswa akan menyadari bahwa dirinya telah dituntun menjadi pribadi yang mandiri. Tak hanya itu, mereka tidak mudah percaya akan sesuatu bukan karena curiga, melainkan karena insting dan dampak dari cara berpikir itu sendiri.
Jadi begitulah dampak positif mengajak anak atau siswa berpikir akan suatu pelajaran. Namun teman-teman tintanesia.com, hal itu tidak mudah, artinya membutuhkan usaha lebih, kesabaran ekstra, dan ketelatenan yang konsisten.* (Fau)
Disclaimer: Bagi teman-teman yang ingin membaca langsung terkait berpikir ini, tintanesia.com menyarakan beberapa sumber di bawah ini. Kebetulan, penulis membuat artikel ini pasca membaca beberapa acuan di bawah ini:
- Dewantara, Ki Hajar. (2013) Pemikir Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka. Yogyakarta: UST-Pres
- Gonggong, A. (1985) H.O.S Tjokroaminoto. Jakarta: Departemen Pendidikan da Kebudayaan.
- Undang-undang republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan
#Mengajak_Berpikir #Siswa #Tjokroaminoto

Posting Komentar