![]() |
| Tembakau sudah setinggi paha tumbuh hijau di Sampang |
Tintanesia - Udara di Madura kerap kering, angin tak terlalu kencang, namun para petani di pulau tersebut memulai hari biasa dengan tenang, tanpa banyak protes. Salah satu contoh pada saat musim tembakau, yang memang menjadi andalan petani di sana dalam bertahan hidup. Penduduk setempat menjuluki tanaman ini dengan sebutan daun emas.
Dijuluki daun emas oleh petani Sampang dan Pamekasa Madura, karena tembakau termasuk bagian penting dari aktivitas ekonomi masyarakat. Sehingga tidak salah, jika musim tanam tiba, masyarakat dengan semangat menyiapkan lahan, menanam bibit dengan perawatan yang rutin.
Sebenarnya proses penanam tembakau apalagi khas Madura tidak rumit. Hanya saja tak bisa dipungkiri, yakni memang membutuhkan ketalentaan. Yaitu, tanaman ini harus diperhatikan setiap harinya, mulai dari kondisi daun hingga pertumbuhannya.
Salah satu petani asal Sampang, Abdul Aziz mengatakan, bekerja di lahan sejak pagi hingga sore guna tanaman tembakau terawat dengan baik. "Namun saat dhuhur dan asyar saya pulang untuk sembahyang dan makan," ujarnya pada Senin (30/326) kepada Tintanesia lewat Whatsapp.
Baik masyarakat laun maupun dirinya, biasanya melakukan pekerjaan yang berkenaan dengan tembakau ini dilakukan secara manual. Tentunya bisa dikatakan alat sederhana dan pengalaman yang sudah terbentuk dari musim ke musim.
Apalagi tembakau ini termasuk salah satu sumber penghasilan utama bagi dirinya dan masyarakat Madura terutama di Sampang.
Ditanya soal lahan tanam tembakau, dia mengaku tanah milik pribadi. Terlepas dari itu, ada tetangganya yang menyewa lahan guna bisa pemperoleh penghasilan dari daun emas. "Namun bagi yang tidak memiliki lahan, juga ikut andil, yakni menjadi buruh," ungkap dia.
Lebih lanjut Abdul menguraikan, ketika daun tembakau sudah siap dipetik, maka proses lanjutannga adalah di ranjang terlebih dahulu. Namun proses tidak ia dan warga sekitar lakukan. "Bisanya kami langsung menjual tembakau di sawah kepada pedagang yang datang," imbuhnya.
Berkenaan dengan proses tembakau diranjang ini, sebelum dipasok ke pabrik, biasanya di jemur terlebih dahulu. Proses tersebut bergantung pada cuaca. Jika matahari cukup, pengeringan akan berjalan lancar. Namun apabila cuaca jauh dari yang diharapkan, maka penjemuran juga membutuhkan waktu lama.
Setelah kering tembakau kering, baru daun emas ini di jual ke pedagang pengepul atau langsung dipasok ke pabrik.
Berkenaan dengan biaya tanam dan perawatan, Aziz mengeluarkan cukup uang. Yakni sekira Rp2 jutaan ke atas. Bahkan kadang petani setempat tidak untung. Apalagi seperti tahun 2025 kemarin, lantaran cuaca tak menentu masyarakat Sampang bisa dibilang sangat merugi.
Berkenaan dengan aktivitas tembakau, ternyata muncul ekonomi lain. Masing-masing pedaganh yang membeli hasil panen, jasa angkutan distribusi, dan warung kecil yang melayani kebutuhan pekerja lahan.
Pasalnya hal yang berkenaan dengan kegiatan tanam, perawatan dan panen tembakau ini ikut bergerak seiring musim tembakau. Sehingga bisa dikatakan, bahwa perputaran ekonomi tidak hanya berkutat pada petani saja, melainkan melibatkan banyak profesi.
Menelisik pengamatan bertahun-tahun Tintanesia pada ekonomi rakyat Madura lewat tembakau, ternyata tidak lepas dari tantanga. Seperti yang tertera sebelum, yakni, harga jual sering berubah dan sulit diprediksi akibat cuaca tak menentu.
Pasalnya, petani tembakau tidak selalu bisa menentukan kapan harga akan naik atau turun. Sehingga mereka kerap membuat penyesuaian rancangan tanam dan pengeluaran setiap musimnya.
Tak hanya imbas dari cuaca tak menentu, kadang naik turunnya tempakau juga dipengaruhi kebijakan terkait industri hasil tembakau. Selain itu, perubahan pada cukai atau permintaan pasar, ternyata juga berdampak pada harga jual. Meskipun tidak secara langsung, namun tetap merubah hasil yang diterima oleh petani.
Terlepas dari kendala-kendala yang diatas, tembakau tetap menjadi pilihan utama petani. Hal itu dikarenkan tanaman berjuluk daun emas ini dianggap paling sesuai dengan kondisi lahan di Madura. Artinya, ketimbang tanaman lainnya, tembakah lebih mampu bertahan dan bisa diandalkan saat kemarau datang.
Lantaran terbiasa di setiap musimnya, kini menanam tembakau bagi masyarakat Madura sudah menjadi pola hidup yang seakan enggan tergantikan. Hai itu bisa dilihat dari kebiasaan petani dari mulai menanam, merawat dan mendatangkan pedagang atau merajang mandiri.
Membaca ulang jawaban petani Madura (Abdul Aziz) dan pengamatan Tintanesia di atas tentu bisa dikatakan, jika tembakau berperan dalam menjaga aktivitas ekonomi tetap berjalan di Madura. Aplagi proses yang melibatkan banyak orang, justru membuka lapangan kerja mini di sekitar petani. Meski ada risiko dan ketidakpastian hasil, tanaman daun emas ini tetap menjadi salah satu penopang penghasilan yang terus di jalani oleh masyarakat Madura.
Penulis: Fau #Tembakau_Madura #Ekonomi_Madura #Petani_Tembakau #Sampang #UMKM_Madura
