Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

Petis Madura Terbuat dari Ikan Apa? Berikut Tiga Kelas Berkualitasnya

Enam petis dengan dua susun tampak menggugah selera
Petis Madura Kualitas Super

Tintanesia - Seruput dulu kopinya, Cak, biar obrolan kita kali ini makin nendang, seperti petis yang levelnya beda-beda tapi tetap bikin lidah tunduk. Petis Madura, kecil bentuknya, tapi ceritanya bisa lebih panjang dari antrean janji yang tak kunjung ditepati.

Di pasar, orang sering menyederhanakan petis seperti hidup yang dipaksakan lurus tanpa tikungan. Katanya, semua petis itu hitam, seakan warna adalah takdir yang tidak bisa digugat. Padahal kenyataannya, petis Madura punya lapisan makna yang tidak bisa ditakar dari suatu warna saja.

Petis Madura itu punya kelas, Cak, tapi bukan kelas yang sibuk pamer gelar. Jadi semacam orang tua bijak yang diam tapi dalam, tidak banyak bicara namun sekali menjelaskan langsung kena. Ada rendah, sedang dan super, seperti hidup yang diam-diam mengelompokkan manusia tanpa papan pengumuman.

Yang kualitas rendah, warnanya coklat, seperti senja yang belum benar-benar matang. Rasanya tetap petis, tapi belum sampai membuat lidah berhenti dan berpikir panjang. Jadi sama kayak cerita yang masih setengah jadi, yakni cukup dimengerti tapi belum membekas.

Yang sedang juga coklat, tapi lebih dalam, seperti kopi yang diseduh dengan kesabaran. Teksturnya lebih halus, rasanya tentu berlapis, kayak obrolan yang mulai meninggalkan basa-basi. Alias saat dirasakan, tidak hanya lewat di lidah, melainkan mulai menetap seperti kenangan yang enggan pulang.

Lalu datang yang super, yang premium, yang seperti tamu penting dalam  jamuan sederhana. Warnanya kuning keemasan, seperti matahari yang diperas cahayanya. Di titik ini, petis tidak lagi hanya pelengkap, tapi berubah menjadi pusat perhatian tanpa perlu meminta.

Iya, kuning, Cak, bukan hitam seperti yang sering kita yakini. Seolah petis sedang berbisik bahwa kebenaran tidak selalu sesuai prasangka. Yang selama ini dianggap biasa ternyata hanya pintu masuk menuju sesuatu yang lebih tinggi.

Di sinilah hidup terasa seperti satire yang menertawakan kita pelan-pelan. Yitu yang gelap sering dianggap kuat, yang terang justru diragukan. Padahal yang paling bernilai justru yang berani tampil berbeda dari bayangan umum.

Petis super itu bukan hanya soal warna, Cak, tapi hasil dari kesabaran yang direbus berkali-kali. Semacam lahir dari bahan yang terpilih dan proses yang tak kenal lelah. Sama halnya dengan mimpi yang tidak dibangun dalam semalam, tapi dikukus perlahan sampai matang.

Rakyat kecil di Madura tidak butuh teori panjang untuk memahami kualitas. Mereka cukup percaya pada lidah, pengalaman, dan kejujuran rasa yang sukar dimanipulasi. Sedangkan di luar pulau, kualitas petis sering diukur dari kemasan yang lebih fasih berbicara daripada isinya.

Lucunya lagi, kita sering terjebak pada persepsi yang dibangun sendiri. Mengira yang lebih gelap paling kuat, yang pekat lebih hebat. Padahal yang paling tinggi justru yang tampil sederhana tapi menyimpan kedalaman.

Kelas yang Tidak Perlu Diumumkan

Petis Madura mengajarkan bahwa kualitas tak butuh pengeras suara untuk digelar. Jadi produk dari pulau garam ini semacam hadir begitu saja, dan orang yang paham akan datang tanpa dipanggil. Seperti kebenaran yang tidak perlu dibela mati-matian karena ia berdiri sendiri 

Kelas rendah, sedang dan super bukan hanya pembagian produk semata. Tetapi termasuk cara masyarakat memahami nilai tanpa harus belajar dari buku tebal. Mereka tahu mana yang cukup, mana yang layak, dan mana yang istimewa tanpa perlu seminar.

Di sisi lain, dunia sering berjalan terbalik seperti bayangan di air keruh. Yang biasa saja tampak luarbiasa karena dibungkus rapi. Yang luar biasa kadang lewat begitu saja karena tidak pandai bersuara.

Petis super yang kuning keemasan itu seperti sindiran yang dibungkus manis. Yakni mengingatkan, bahwa yang terbaik tidak selalu mengikuti pola yang kita hafal. Tampilan itu justru berbeda, dan di situlah letak kejujurannya.

Petis Madura memang dari ikan, dari laut yang tidak pernah pelit memberi. Dari tangan nelayan, dari dapur yang sabar, dari waktu yang tidak pernah tegesa. Jadi produk unggulan ini semacam hasil dari perjalanan panjang yang tidak semua orang mau menempuhnya.

Tapi lebih dari itu, petis terbuat dari cara berpikir yang tidak suka menyia-nyiakan. Dari kecerdikan yang lahir karena keadaan, bukan lantaran fasilitas. Serta dari keyakinan yang sederhana itulah jadi produk berkelas dan berkualitas.

Di tengah dunia yang serba sibuk berteriak soal (Premium), petis Madura seolah memilih diam. Produk ini tak menawarkan janji, tidak juga menjual ilusi. Jadi seperti ingin menunjukkan rasa, lalu membiarkan kita menilai kedalamannya.

Penulis: Fau #Petis_Madura #Petis_Super #Filosofi Petis #Kuliner_Madura

Baca Juga
Posting Komentar
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad