![]() |
| Ilustrasi tempat angker |
Tintanesia - Ngopi yuk, Cak. Dunia ini terkadang terasa seperti panggung raksasa yang tak pernah kosong, seolah ada ribuan mata tak terlihat yang ikut menyaksikan setiap langkah kita. Di warung kecil, Cak, dialog ringan bisa berubah jadi renungan yang terasa dalam seperti sumur tanpa dasar. Kita sering berjalan sendirian, padahal ruang di sekitar kita bisa terasa lebih penuh dari pasar yang tak pernah sepi.
Di Madura, ada kebiasaan kecil bernama Sé' Ngisé', Cak, yang sekilas tampak ringan tapi maknanya bisa menggetarkan kesadaran seperti petir di siang hari bolong. Tradisi ini bukan sekadar ucapan, namun cara manusia tanah garam menata diri di hadapan ruang yang tidak sepenuhnya bisa ia pahami. Kesadaran itu tumbuh perlahan, lalu mengendap seperti batu besar di dasar pikiran yang sulit dipindahkan.
Sé' Ngisé' itu Semacam Langkah Kaki dan Rasa Izin
Seolah satu kata bisa mengubah suasana, Sé' Ngisé' hadir seperti jeda kecil yang maknanya melebar seluas langit tak bertepi. Saat seseorang melewati pohon tua, persimpangan, atau tempat yang dianggap angker, ia mengucapkan “Glãnun” dengan nada yang sederhana. Kata itu terasa ringan di bibir, tapi gaungnya bisa menjalar jauh seperti gema di dalam gua yang tidak terlihat.
1. “Glãnun”: Kata Kecil yang Menjaga Besar
Seakan membuka pintu yang tak kasat mata, ucapan “Glãnun” mengalir pelan dari mulut seseorang saat melintas. Kata itu sederhana yang maksudnya semacam izin, namun mampu menenangkan suasana yang terasa berat seperti awan yang menggantung terlalu rendah. Dalam sekejap, ruang atau tempat yang terasa asing bisa berubah lebih lunak seperti tanah yang baru disiram hujan.
Orang Madura mengucapkan "Glãnun" bukan hanya sebagai kebiasaan, Cak, tapi seperti pengakuan diam yang ada di dalamnya bisa sedalam lautan malam. Ada kesadaran bahwa hidup tidak hanya berisi apa yang terlihat, tapi juga sesuatu yang tak bisa disentuh. Rasa itu tumbuh perlahan seperti akar yang menjalar ke segala arah tanpa pernah terlihat.
Tanpa upacara, tanpa keramaian, kata ini hidup seperti detak jantung yang tak pernah berhenti. Kehadirannya terasa kecil, namun pengaruhnya bisa melebar seperti riak air yang menyentuh tepi tanpa batas. Dari kebiasaan sederhana itu, terbentuklah sikap yang kokoh seperti batu yang tidak mudah tergeser.
2. Tempat yang Tidak Pernah Benar-Benar Sepi
Seperti menyimpan napas waktu yang panjang, pohon tua dan jalan sunyi terasa lebih hidup dari yang terlihat. Setiap sudutnya seperti memelihara cerita yang tidak pernah benar-benar hilang. Suasananya bisa menebal seperti kabut yang memikirkan pikiran tanpa disadari.
Tempat-tempat itu tidak dipandang sekedar lokasi, tapi seperti ruang yang memiliki lapisan makna yang bertumpuk seperti halaman buku yang tak pernah habis. Kehadiran di sana terasa berbeda, seperti memasuki ruang yang memiliki ingatannya sendiri. Rasa itu bisa mengalir pelan, lalu memenuhi dada seperti udara yang tiba-tiba menjadi lebih berat.
Dengan Sé' Ngisé', Cak, langkah manusia berubah menjadi lebih halus seperti angin yang tak ingin mengusik apa pun. Setiap gerakan terasa dipertimbangkan, seolah ada batas yang tak terlihat. Kehati-hatian itu tumbuh diam-diam, lalu menguat seperti akar yang mencengkeram tanah.
3. Etika yang Tidak Diajarkan dengan Kata-Kata
Bagaikan udara yang meresap tanpa suara, tradisi ini mengalir dalam kehidupan tanpa perlu dijelaskan panjangnya. Anak-anak melihat orang tuanya, lalu menirunya tanpa sadar bahwa mereka sedang membawa warisan besar. Kebiasaan itu masuk perlahan, tapi jejaknya bisa melekat seperti tinta yang tidak mudah hilang.
Tidak ada paksaan, Cak, tapi ikatannya terasa kuat seperti tali yang menahan di tengah badai. Etika ini tumbuh dari pengalaman, bukan dari teori yang sering terasa jauh dari kenyataan. Dari situ, nilai itu berkembang seperti pohon besar yang akarnya tak terlihat tapi kokoh.
Di tengah dunia yang bergerak cepat, cara seperti ini tetap bertahan seperti batu yang tidak larut oleh arus. Ia tidak membutuhkan penjelasan yang panjang, namun tetap hidup dalam kesekharian. Keberadaannya terasa diam-diam, namun pengaruhnya bisa mencakup samudra.
4. Antara Takut dan Tahu Diri
Seperti bayangan yang selalu mengikuti, rasa takut sering dianggap sebagai bagian dari tradisi ini. Padahal di baliknya, ada kesadaran yang lebih dalam seperti jurang yang tak terlihat pada dasarnya. Perasaan itu perlahan meredam ego yang kadang menjulang seperti menara tanpa batas.
Saat seseorang mengucapkan izin atau "Ghãlãnun, ada bagian diri yang diturunkan perlahan seperti beban yang dilepas satu per satu. Dia mengakui bahwa ada hal lain yang lebih dulu hadir di ruang itu. Pengakuan itu terasa ringan di bibir, tapi beratnya bisa seperti batu yang jatuh ke dasar hati.
Dari situ, cermin Sé' Ngisé' menjadi yang memantulkan posisi manusia dalam hidup. Kebiasaan ini tidak menggurui, tapi ditampilkan dengan cara yang sunyi. Maknanya terasa luas, seperti langit yang tak pernah selesai dipandang.
5. Tradisi Kecil di Tengah Dunia yang Terlalu Bising
Seperti bisikan yang tidak pernah benar-benar hilang, Cak, Sé' Ngisé' tetap hidup di tengah hiruk pikuk zaman. Jadi kebiasaan ini, seperti tidak membutuhkan perhatian besar, tapi tetap berjalan dalam langkah-langkah sederhana. Kehadirannya terasa tenang seperti malam yang memeluk tanpa suara.
Anak-anak muda di Madura masih melakukannya, membawa kebiasaan yang usianya terasa setua waktu itu sendiri. Tradisi ini bergerak mengikuti perubahan, namun tidak kehilangan bentuknya. Semacam akar yang tetap mencengkeram meski permukaan terus berubah.
Tentunya kesadaran itu tumbuh perlahan, Cak, lalu menyebar seperti cahaya kecil yang tidak pernah benar-benar padam. Manusia diingatkan bahwa hidup tidak sepenuhnya menjadi miliknya. Dari kebiasaan kecil ini, muncul rasa yang lebih besar hanya dari langkah kaki.
Pamit yang Lebih dari Sekadar Kata
Seperti pesan yang disampaikan tanpa suara, Sé’ Ngisé’ hadir sebagai cara manusia memahami batas dirinya. Pamit semacam ini tidak besar, Cak, tapi maknanya bisa terasa memenuhi ruang hidup yang luas. Dalam kesederhanaannya, seperti menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan tapi mudah dirasakan.
Berkenaan dengan Kebiasaan Sé' Ngisé', Cak, tentu beberapa kalimat ini bisa mewakili: Semacam langkah pelan membawa kesadaran yang lebih dalam dari langkah yang tergesa. Rasa hormat itu tumbuh diam-diam, lalu menguat seperti sesuatu yang tidak mudah runtuh. Barangkali dari kebiasaan kecil ini, manusia bisa kembali belajar menempatkan dirinya di dunia yang tidak pernah benar-benar mereka kuasai.*
Penulis: Fau #Kebiasaan_Madura #Tradisi_Madura #Kearifan_Lokal
