Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

Mitos di Desa Ciburial Bandung yang Membuat Malam Lebih Panjang

Pemandangan jalan berbatu di kota kecil Eropa pada malam hari, dihiasi lampu jalan hangat, hiasan lampu di pepohonan, serta kastil di atas bukit yang bercahaya, menciptakan suasana romantis dan festif.
Ilustrasi suasana malam yang menawan di desa kecil: jalan berbatu diterangi lampu hangat dan hiasan lampu di pepohonan, dengan kastil bercahaya di atas bukit, menghadirkan nuansa romantis, festif, dan penuh pesona budaya. (Gambar oleh Christian B. dari Pixabay)

Tintanesia - Sore di desa sering datang tanpa banyak suara. Di Desa Ciburial Bandung, langit biasanya berubah warna pelan-pelan, dari biru pucat menjadi jingga tipis. Anak-anak pulang lebih cepat, pintu rumah ditutup lebih awal, dan suara langkah mulai jarang terdengar. 

Di daerah ini, ada kebiasaan kecil yang diwariskan dari mulut ke mulut: jangan keluar rumah terlalu malam, karena malam di sini kadang terasa lebih panjang dari biasanya. Tidak ada yang benar-benar bisa menjelaskannya dengan pasti. Kita hanya tahu, saat gelap datang, waktu seolah berjalan dengan cara yang lain.

Mitos itu sering diceritakan setengah berbisik. Katanya, ada malam-malam tertentu ketika jam terasa lambat, ketika jarak antara magrib dan subuh seperti direntangkan. Bukan karena arlojinya rusak, tapi karena perasaan kita yang berubah. 

Mendengarnya, kita mungkin tersenyum, menganggapnya sekadar cerita lama. Namun entah mengapa, ketika malam benar-benar turun, ada kegelisahan kecil yang ikut duduk bersama kita. Apakah waktu memang selalu sama bagi setiap orang, atau ada saat-saat ketika ia sengaja melambat agar kita memperhatikannya?

Pada malam-malam seperti itu, orang-orang memilih diam. Lampu dipadamkan lebih awal, televisi dikecilkan, percakapan dipotong seperlunya. Bukan karena takut pada sesuatu yang kasat mata, melainkan karena ada rasa enggan untuk melawan sunyi. 

Sementara kita selama ini, tumbuh dengan keyakinan bahwa tidak semua hal harus dijelaskan. Mitos tentang malam yang panjang menjadi semacam penanda, bahwa ada batas antara aktivitas dan jeda, antara ramai dan pulang ke diri sendiri.

Menariknya, mitos ini tidak selalu membawa ketakutan. Ada kehangatan di dalamnya. yakni saat malam terasa lama, kita punya lebih banyak waktu untuk duduk, mendengar napas sendiri, atau mengingat hal-hal kecil yang sering terlewat di siang hari.

Di tengah kesibukan yang biasa kita anggap wajar, mitos ini seperti mengetuk pelan, mengingatkan bahwa hidup tidak hanya bergerak maju, tetapi juga perlu berhenti sejenak, meski kita tidak tahu untuk apa.

Kadang kita menyadari, yang membuat malam terasa panjang bukanlah kisah gaib, melainkan pikiran yang belum selesai. Kegelisahan yang disimpan siang hari, mencari ruangnya sendiri ketika suara lain mereda. Di desa, mitos memberi bahasa pada perasaan itu. 

Mitos semacam ini pasalnya tidak memaksa kita mengerti, hanya menemani. Dengan percaya pada cerita, kita memberi izin pada diri sendiri untuk tidak selalu kuat dan tidak selalu sibuk.

Malam yang panjang juga mengajarkan kesabaran yang halus. Tidak ada yang menyuruh kita merenung, tidak ada tuntutan untuk berubah. Kita hanya duduk bersama waktu yang melambat, membiarkannya berlalu dengan caranya sendiri. Dalam keheningan itu, kita mungkin merasa tidak sendirian, meski tidak ada siapa pun di samping kita.

Saat subuh akhirnya datang, tidak ada perayaan. Waktu kembali berjalan seperti biasa. Orang-orang bangun, air mendidih, dan hari dimulai lagi. Mitos tentang malam panjang tidak dibahas panjang lebar. 

Kepercayaan semacam ini kembali menjadi cerita yang disimpan, siap muncul lagi ketika malam berikutnya terasa berat. Jadi seolah kita diperkenankan melanjutkan hidup tanpa kesimpulan yang jelas, membawa pengalaman itu sebagai bagian kecil dari keseharian.

Mungkin, mitos di Desa Ciburial tidak pernah bertugas menjelaskan apa pun. Ia hanya membuka ruang bagi kita untuk menyadari bahwa ada saat-saat ketika hidup meminta kita melambat, tanpa alasan yang gamblang. Dan ketika malam terasa lebih panjang dari biasanya, kita belajar untuk tinggal sedikit lebih lama di dalamnya, tanpa tergesa mencari pagi, membiarkan waktu mengalir, dan mendengarkan apa yang pelan-pelan ingin kita pahami.*

Penulis: Fau #Mitos_Lokal #Budaya_Sunda #Cerita_Rakyat #Refleksi_Hidup #Kehidupan_Desa #Tradisi_Lokal

Baca Juga
Posting Komentar
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad