![]() |
| Suasana sore hari saat Anak-anak Lembung main Desa Plakaran Kecamatan Jrengik Kabupaten Sampang bermain layangan di sawah sekitar |
Tintanesia - Anak-anak kampung Lembung Desa Plajaran Kecamatan Jrengik Kabupaten Sampang Madura bermain di tengah sawah yang baru saja dipanen padinya. Kaki-kaki meraka, menyentuh tanah yang masih menyisihkan batang padi, sesekali tersangkut jerami. Sementara di tangan kanak-kanak ktu, ada gulungan benang yang terulur panjang. Mata mereka tampak sibuk mengikuti arah layangan yang mulai naik ke langit.
Pada sore itu (6/4/26), angin sawah di kampung tersebut seolah menjadi teman baik mereka. Satu babak berdiri lebih depan dengan tangan yang siap menarik senar, sedangkan yang lainnya, bersiap memberi aba-aba menyemangati layangan agar tertarik ke llangit
Saat layangan itu sempat goyah, suara kecil terdengar saling menyahut, kemudian berubah menjadi tawa kecil saat layangan itu kembali stabil. Tintanesia lihat tidak ada cemas berlebihan, bahkan bisa dikatakan mereka bermain dengan sepenuh hati.
Di jalan setepat pemisah sawah satu dengan lainnya, ember putih diletakkan begitu saja, mungkin sebagai tempat penyimpanan benang cadangan atau hanya terbawa dari rumah. Tak ada yang memperhatikan ember tersebut seusai layangan mereka menari di langit, semacam membawa harapan kecil, sederhana, tapi terasa begitu menyenangkan untuk diikuti.
Sementata di bawah layangan yang melangit itu, terdapat rumah-rumah beratap genteng merah tampak diam dari kejauhan, bangunan itu berdiri di antara pepohonan yang sesekali mengibaskan rantingnh perlahan.
Sehingga dengan adanya layangan di langit, rumah-rumah dan pepohonan suasana kampung terasa utuh, tenang, tanpa gangguan. Seperti gangguan dari msmesin yang bising, dan kesibukan yang menuntut pekerjaan harus rampung secepatnya.
Jika ditelisik, permainan layangan di kampung ini bmtifak hanya sebagai cara anak-anak untuk menghabiskan waktu. Di dalamnya ada kebersamaan yang tumbuh tanpa dibuat-buat. Bisa dilihat, saat benang kusut mereka mengurai bersama. Ketika layangan jatuh, merek mengejar bersama. Jadi bisa dipastikan tidak sedang bermain sendiri.
Perlahan, matahari mulai turun, dan bayangan mereke memanjang di atas tanah sawah bersama layangan yang masih mengudara dengan berbagai arah. Namun tidak ada yang terburu-buru. Mereka masih menikmati setiap detiknya, seolah tahu bahwa momen seperti ini tidak selalu datang dua kali.
Mereka mulai menurunkan layangannya saat Nyai Suterah (Nenek dari salah satu anak-anak yang bermain layangan) memanggil cucunya.
"Latip, mole conk sé ngajhiãh/Latip, pulang nak, sana berangkat ngaji," kata Nyai Suterah saat memanggil cucunya ikut bermain layangan.
Menjadi anak kampung Lembung terasa sederhana, tapi perlu kita ketahui, bahwa hal itu justru letak keindahannya. Tidak banyak yang dibutuhkan u tuk merasa bahagia terutama saat main layangan. Cukup langit yang luas, angin yang bersahabat, dan teman-teman yang selalu ada di samping. Dari hal-hal kecil itulah kenangan tumbuh perlahan, kemudian menetap diam-diam dalam hati untuk kenangan masa tua.
Penulis: Fau #Layangan_Anak_Kampung #Sore_di_Sawah #Kehidupan_Desa_Jrengik #Cerita_Anak_Indonesia
