Aryowirojo dan Pohon Tua di Torjun yang Menyimpan Pitutur Kehidupan

Suasana senja dengan matahari terbenam
Ilustrasi pohon tua dan senja

tintanesia.com - “Ngopi yuk, Cak.” Malam di Torjun Madura selalu punya cerita yang berjalan pelan bersama angin sawah, apalagi ketika warga mulai membicarakan pohon tua di pinggir sungai yang dianggap penuh pesan kehidupan. Suasana desa terasa seperti menyimpan seribu kenangan yang belum selesai diceritakan.

Di sebuah rumah sederhana milik Majidun, beberapa tetangga duduk melingkar sambil menyeruput kopi hangat karena kondisi tubuh lelaki itu mendadak melemah sejak beberapa pekan terakhir. Wajah Halimah tampak cemas, sementara udara malam terasa berat seperti memikul kegelisahan seluruh kampung.

Cerita Lama yang Kembali Dibicarakan Warga

Warga Desa Dejeh sebenarnya sudah lama mengenal kisah tentang pohon besar di tepi jalan desa yang dianggap sebagai bagian dari warisan alam. Pohon itu berdiri kokoh sejak puluhan tahun lalu, bahkan bayangannya terasa seperti payung raksasa yang menaungi cerita warga dari generasi ke generasi.

Majidun sendiri dikenal sebagai petani pendiam yang setiap hari bekerja di sawah tanpa banyak bicara. Namun beberapa waktu terakhir tubuhnya sering lemas, sehingga banyak orang mulai menghubungkan keadaan itu dengan kelelahan batin dan tekanan hidup yang menumpuk perlahan.

Halimah berkali-kali meminta bantuan orang pintar kampung untuk sekadar memberi doa dan menenangkan suasana rumah. Aroma minyak herbal memenuhi ruangan kecil itu, lalu suasana malam terasa semakin sunyi seperti desa yang sedang menahan napas panjang.

1. Kedatangan Aryowirojo dari Plakaran

Kabar tentang kondisi Majidun akhirnya sampai ke telinga Aryowirojo yang tinggal di Plakaran. Lelaki muda itu dikenal tenang dan bijak, bahkan kehadirannya sering membuat suasana panas berubah sejuk seperti embun turun di musim kemarau.

Ketika tiba di rumah Majidun menjelang Subuh, Aryowirojo tidak banyak bicara karena lebih memilih mendengarkan cerita warga satu per satu. Dari situ dirinya memahami bahwa keresahan masyarakat ternyata bukan hanya soal sakit, tetapi juga tentang rasa takut kehilangan ketenangan hidup.

Kiai Ahmad kemudian mengajak Aryowirojo duduk di serambi rumah sambil menikmati kopi panas buatan Halimah. Obrolan mereka mengalir sederhana, namun setiap kalimat terasa hangat seperti pelita kecil di tengah malam panjang.

2. Pohon Tua dan Pesan Tentang Alam

Keesokan harinya Aryowirojo berjalan menuju pohon besar yang berada dekat aliran sungai kecil di ujung desa. Daun-daunnya bergerak pelan tertiup angin, sementara suasana sekitar terasa teduh seperti halaman rumah masa kecil yang sulit dilupakan.

Ghulam, pemuda lulusan teknik lingkungan dari Surabaya, ikut menemani pengamatan di sekitar lokasi. Menurutnya, akar pohon besar memang dapat memengaruhi kondisi tanah dan sumber air sehingga keberadaannya penting untuk menjaga keseimbangan alam desa.

Aryowirojo hanya mengangguk sambil memperhatikan aliran air di bawah pohon tersebut. Baginya, alam selalu menyimpan pelajaran hidup yang luasnya terasa seperti lautan tanpa tepi ketika manusia mau mendengarkan dengan hati tenang.

3. Musyawarah Warga dan Jalan Tengah

Beberapa hari kemudian pihak proyek datang untuk membahas pelebaran jalan desa bersama warga. Suasana balai dusun sempat memanas, tetapi kepala desa mencoba menenangkan semua orang agar keputusan diambil tanpa saling menyalahkan.

Aryowirojo mengingatkan bahwa pembangunan sebaiknya tetap mempertimbangkan keseimbangan lingkungan dan kenyamanan masyarakat sekitar. Ucapannya terdengar sederhana, namun masuk ke hati warga seperti hujan pertama setelah musim panjang yang kering.

Rais sebagai mandor proyek akhirnya bersedia mendengar masukan warga setelah melihat kondisi tanah di sekitar sungai cukup rawan. Dari situ pembicaraan berubah lebih tenang karena semua pihak mulai memahami bahwa kemajuan desa juga perlu berjalan bersama alam.

4. Malam Refleksi di Pinggir Sungai

Malam itu Aryowirojo duduk bersama Ghulam di dekat sungai sambil menikmati suara air yang mengalir perlahan. Langit tampak mendung tipis, sementara suasana sekitar terasa damai seperti ruang sunyi yang memeluk hati lelah.

Ghulam bercerita bahwa manusia modern sering sibuk mengejar banyak hal hingga lupa mendengar dirinya sendiri. Aryowirojo tersenyum pelan karena menurutnya ketenangan batin kadang hadir dari hal kecil yang selama ini diabaikan.

Percakapan mereka berlangsung panjang hingga larut malam sambil ditemani kopi hitam dan suara jangkrik dari arah sawah. Suasana sederhana itu terasa lebih berharga daripada keramaian kota yang bergerak tanpa jeda.

5. Penemuan yang Mengubah Pandangan Warga

Beberapa hari sesudah pengamatan dilakukan, warga menemukan sumber mata air kecil di dekat akar pohon tua tersebut. Aliran air itu ternyata membantu menjaga kelembapan tanah dan kebutuhan sawah warga sekitar, bahkan keberadaannya terasa seperti nadi kecil bagi kehidupan desa.

Kepala desa akhirnya memutuskan mengubah jalur proyek agar pohon tetap berdiri tanpa mengganggu pembangunan jalan baru. Keputusan itu disambut lega oleh warga karena mereka merasa desa masih memiliki ruang untuk menjaga warisan alam.

Aryowirojo hanya tersenyum melihat warga mulai memahami pentingnya keseimbangan hidup. Baginya, manusia yang menghormati alam akan menemukan ketenangan yang tumbuh perlahan seperti padi menguning di musim panen.

Sejak kejadian itu, suasana Desa Dejeh kembali tenang dan warga mulai melihat pohon tua bukan sebagai sumber ketakutan, melainkan pengingat tentang hubungan manusia dengan lingkungan sekitar. Angin sore yang melewati sungai terasa lembut seperti membawa pesan agar manusia tidak berjalan terlalu jauh dari akar kehidupannya.

Aryowirojo kemudian berpamitan pulang ke Plakaran setelah semua keadaan membaik dan warga kembali beraktivitas seperti biasa. Dari kisah sederhana itu, masyarakat belajar bahwa ketenangan sering lahir dari sikap saling menjaga, saling mendengar, dan menghormati alam dengan hati yang lapang.*

Penulis: Fau #Pohon_Tua #Cerita_Budaya #Pitutur_Madura

Baca Juga
Posting Komentar
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad