Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

Nyelasé Madura: dari Makam Sunyi, Kita Belajar Tidak Lupa Diri

Makam dengan banyak kuburan dan satu pohon besar di tengah
Ilustrasi Makam di Madura

Tintanesia, Tradisi Nyelasé Madura - Sruput kopinya, Cak… Kadang hidup ini berisik sekali sampai kita lupa suara hati sendiri, seolah dunia berteriak lebih keras dari nurani yang pelan tapi jujur. Di sela hiruk-pikuk itu, ada tradisi sederhana dari Madura yang rasanya seperti rem darurat yang bisa menghentikan laju kesombongan dalam sekejap.

Tradisi itu namanya Nyelasé (Ziarah kubur), dan rasanya dalam satu langkah ke makam, kita seperti diajak menengok seluruh perjalanan hidup dari nol lagi.

Bayangkan, Cak, di tengah dunia yang berlomba jadi paling hebat, ada orang-orang yang justru menyempatkan diri datang ke tanah sunyi, tempat segala ambisi akhirnya berhenti total.

Mereka datang bukan membawa kebanggaan, tapi justru membawa doa yang lirih, seperti angin sore yang pelan tapi menembus sampai ke tulang. Dan anehnya, dari tempat yang kelihatan sepi itu, pelajaran hidup bisa terasa lebih ramai dari pasar pagi.

Saat Kita Berhenti Sebentar, Dunia Seperti Ikut Diam

Oh ya, Tintanesia lahir di Madura, Cak, jadi akrab banget dengan tradisi Nyelasé ini. Bahkan ini bukan cuma budaya ziarah kubur semata, melainkan seperti jeda panjang yang membuat hati kita mendadak jernih seperti air pegunungan yang belum tersentuh tangan manusia.

Di makam, tidak ada jabatan, tidak ada pencapaian, semuanya seperti dilepas begitu saja tanpa sisa. Berkenaan dengan Nyelasé itu, Cak, Tintanesia ada pertanyaannya sederhana tapi unik: kita ini sebenarnya sedang mengejar apa?

Coba bayangkan lagi, Cak. Ada yang datang sendirian ke makam leluhur, duduk diam, membaca doa dengan suara pelan seperti bisikan yang ingin disampaikan langsung ke langit.

Dalam diam itu, sering kali justru muncul suara paling jujur dari dalam diri, suara yang selama ini tenggelam oleh kesibukan yang terasa tidak ada ujungnya. Rasanya seperti seluruh dunia tiba-tiba berhenti berputar hanya untuk memberi ruang pada satu kesadaran: kita ini kecil sekali.

Dan dari situ, tanpa terasa, hati yang tadinya penuh jadi seperti dikosongkan paksa oleh kenyataan yang tidak bisa dibantah. Kita diingatkan bahwa hidup ini bukan soal siapa paling tinggi, tapi siapa yang masih ingat dari mana ia berangkat. Maka itu, Cak, bagi Tintanesia Nyelasé seperti cermin raksasa yang memantulkan diri kita apa adanya, tanpa hiasan.

Mengingat Leluhur, Mengingat Diri Sendiri

Setiap langkah menuju makam itu, Cak, seperti perjalanan mundur yang membawa kita kembali ke akar yang sering diabaikan. Leluhur bukan hanya nama di batu nisan, tapi bagian dari cerita panjang yang membuat kita bisa berdiri hari ini. Dan jujur saja, tanpa mereka, mungkin kita ini bahkan tidak punya tempat untuk pulang.

Menurut pengalaman Tintanesia, Cak, saat membaca Yasin, tahlil, dan doa, suasananya terasa begitu dalam seperti laut yang menyimpan ribuan rahasia. Dari itu ada kesadaran, bahwa kita tidak hanya mendoakan mereka, tapi juga seperti sedang merawat benang halus yang menghubungkan masa lalu dan masa sekarang.

Nah, Kadang yang membuat hati tercekat bukan suasananya, Cak, tapi kesadaran yang datang tiba-tiba seperti petir di siang bolong. Bahwa hidup ini bukan milik kita sepenuhnya, tapi warisan yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. Nyelasé seperti mengingatkan: jangan sampai kita jadi generasi yang lupa asal-usulnya sendiri.

Kesederhanaan yang Menampar Kesombongan

Tidak ada aturan ribet dalam Nyelasé, dan justru di situlah letak kekuatannya yang terasa seperti tamparan halus tapi dalam. Orang datang apa adanya, berdoa seikhlasnya, lalu pulang dengan hati yang sering kali jauh lebih ringan dari sebelumnya. Tidak ada pamer, tidak ada sorotan, hanya hubungan yang jujur antara manusia dan ingatannya.

Di zaman sekarang, di mana segalanya ingin terlihat, tradisi ini seperti oase yang menyegarkan jiwa yang kelelahan berpura-pura. Bayangkan, Cak, di saat orang sibuk menunjukkan diri, Nyelasé justru mengajak kita menundukkan kepala serendah mungkin. Dan anehnya, dari situ justru kita merasa lebih utuh.

Tentu hal itu termasuk sederhana, Cak, dan kesederhanaan itu seperti pisau yang tajam, memotong habis rasa sombong tanpa banyak suara. Kita jadi sadar bahwa semua yang kita banggakan hari ini bisa hilang dalam satu tarikan napas yang bahkan tidak kita sadari. Lalu, apa lagi yang mau disombongkan, coba?

Kamis Sore dan Waktu yang Terasa Lebih Dalam

Dalam Nyelasé ini, Cak, ada momen tertentu yang terasa lebih hidup, salah satunya Kamis sore menjelang malam Jumat, yang bagi banyak orang Madura terasa seperti pintu yang terbuka lebar ke ruang spiritual. Di waktu itu, langkah menuju makam terasa lebih khusyuk seperti ada panggilan yang tidak terdengar tapi begitu kuat. Seolah waktu sendiri ikut melambat untuk memberi ruang pada doa.

Kemudian menjelang Idul Fitri atau Idul Adha, makam-makam jadi lebih ramai, tapi bukan ramai yang riuh, melainkan ramai yang hangat seperti pelukan keluarga besar. Orang-orang membersihkan makam, berdoa bersama, dan suasananya terasa seperti reuni yang tidak biasa. Yang hidup dan yang sudah pergi seperti saling menyapa dalam cara yang tak kasat mata.

Di situ, kita melihat bahwa hubungan tidak pernah benar-benar putus, hanya berubah bentuk saja. Nah, dari bisa dibilang, Nyelasé mengajarkan bahwa jarak antara hidup dan mati tidak sejauh yang kita bayangkan. Dan mungkin, justru di sanalah letak kedekatan yang paling tulus, Cak.

Doa yang Mengalir ke Dua Arah

Menariknya, Cak, doa dalam Nyelasé tidak hanya mengalir ke mereka yang telah pergi, tapi juga kembali kepada yang masih hidup seperti ombak yang tak pernah berhenti datang. Orang memohon ketenangan, rezeki, dan keberkahan, seolah doa itu menjadi jembatan dua arah yang menghubungkan harapan dan kenangan. Bukankah itu sesuatu yang luar biasa sederhana tapi dalam, Cak?

Dalam setiap lantunan doa, ada harapan yang menggantung setinggi langit, tapi juga kerendahan hati yang terasa begitu membumi. Seolah kita jadi sadar bahwa hidup ini tidak bisa dijalani sendirian, bahkan doa pun terasa lebih kuat ketika terhubung dengan mereka yang telah mendahului. Darinitu bisa dikatakan, Cak, jika Nyelasé jadi seperti ruang temu antara masa lalu dan masa depan.

Dan di titik itu, kita tidak lagi hanya mengenang, tapi juga belajar menata langkah ke depan. Karena bagaimana mungkin kita bisa berjalan jauh, kalau arah pulang saja kita sudah lupa?

Tradisi yang Tidak Lekang oleh Zaman

Di tengah dunia yang berubah secepat kilat, Nyelasé tetap bertahan seperti batu karang yang tidak goyah diterjang ombak zaman. Banyak tradisi memudar, tapi yang satu ini justru tetap hidup karena akarnya tertanam begitu dalam di hati masyarakat. Dan mungkin, justru karena ia sederhana, jadi sulit tergantikan.

Tradisi ini bukan soal masa lalu semata, Cak, tapi cara hidup yang terus relevan seperti napas yang tidak pernah berhenti. Kebiasaan itu semacam mengajarkan, bahwa modernitas tidak harus memutus hubungan dengan asal-usul. Justru dari situlah kita menemukan keseimbangan yang sering hilang.

Nyelasé seperti pengingat abadi bahwa manusia tanpa ingatan adalah seperti pohon tanpa akar. Tinggi mungkin bisa, tapi mudah tumbang saat badai datang.

Pelan-Pelan, Kita Diingatkan untuk Kembali

Akhirnya, Cak, Nyelasé bukan hanya tentang makam, tapi tentang perjalanan pulang yang seri kita lupakan. Tradisi ini mengajak kita berhenti sebentar, menunduk, dan mengingat bahwa hidup ini tidak dimulai dari kita sendiri. Dan dari kesadaran itu, hati terasa seperti dipeluk oleh sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.

Mungkin kita tidak harus menunggu momen tertentu untuk belajar rendah hati, karena pelajaran itu sebenarnya sudah ada di sekitar kita, tinggal mau atau tidak untuk melihatnya. Nyelasé hanya salah satu cara, tapi maknanya bisa setinggi langit yang tak berbatas. Lalu sekarang, Cak… kapan terakhir kali kita benar-benar ingat dari mana kita berasal?*

Penulis: Fau #Ziarah_Makam #Budaya_Madura #Ziarah_Leluhur #Refleksi_Hidup #Nilai_Kerendahan_Hati

Baca Juga
Posting Komentar
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad