![]() |
| Salah satu pohon besar di Indonesia |
tintanesia.com - “Ngopi yuk, Cak.” cerita tentang Pohon Aeng di Dusun Tamaser Madura memang sudah lama jadi bahan obrolan warga, apalagi sejak rencana pelebaran jalan mulai masuk kampung. Pohon besar di tepi sungai itu bukan cuma peneduh, karena banyak orang menganggap tempat tersebut menyimpan jejak sejarah yang dijaga turun-temurun. Suasana desa mendadak seramai pasar pagi ketika alat proyek mulai berdatangan, sementara percakapan warga mengalir lebih ramai daripada arus sungai di samping jalan.
Siang itu matahari terasa menyengat sampai ke ubun-ubun, tetapi warga tetap berdiri di sekitar pohon sambil memperhatikan para pekerja yang mulai mengukur jalan. Ibu Saripah yang dikenal paling sepuh di dusun berkali-kali mengingatkan agar batang tua itu tidak ditebang sembarangan karena menurut cerita leluhur, tempat tersebut berkaitan dengan sumber mata air lama. Warga lain ikut saling menatap dengan hati gelisah, seolah suasana desa berubah lebih berat hanya karena suara mesin mulai meraung.
Warga dan Rencana Pelebaran Jalan
Kepala dusun bernama Darlan mencoba menenangkan keadaan supaya warga tidak terpancing emosi, karena proyek pelebaran jalan dianggap penting untuk akses desa. Ucapannya terdengar tenang, tetapi beberapa warga tetap khawatir sebab mereka tumbuh bersama cerita tentang Pohon Aeng yang dianggap bagian dari warisan kampung. Suasana sore itu terasa penuh ketegangan kecil yang bergulung pelan seperti awan mendung di musim hujan.
Seorang pekerja proyek bernama Sahwan akhirnya mendekat sambil membawa alat pemotong kayu, lalu mencoba memulai pekerjaan meski beberapa warga melarang dengan nada cemas. Baru beberapa saat alat itu menyentuh batang pohon, mesinnya mendadak berhenti dan mengeluarkan panas berlebihan sehingga membuat semua orang mundur terkejut. Burung-burung di atas dahan beterbangan begitu cepat sampai suasana jalan mendadak riuh oleh suara kepakan sayap.
Ibu Saripah segera meminta warga membawa air dan membantu Sahwan yang terlihat lemas setelah memegang alat tersebut terlalu lama. Beberapa orang mulai mengaitkan kejadian itu dengan cerita lama tentang pentingnya menjaga alam di sekitar sungai, sementara sebagian lain menganggap mesin hanya mengalami gangguan teknis biasa. Percakapan warga menyebar dari satu mulut ke mulut lain secepat angin sore yang menyelinap di sela pohon bambu.
Pak Juri selaku kepala desa akhirnya meminta semua pekerjaan dihentikan sementara agar suasana tidak semakin memanas. Warga perlahan membubarkan diri sambil tetap memandangi Pohon Aeng yang berdiri kokoh di tepi jalan seperti bagian penting dari sejarah kampung. Dedaunan di atasnya bergoyang pelan dan membuat suasana dusun terasa tenang sampai ke ujung gang kecil.
Kedatangan Aryowirojo dari Plakaran
Keesokan sore Aryowirojo datang ke Dusun Tamaser dengan pakaian sederhana dan kain batik Madura yang dililit rapi di pinggangnya. Pembawaannya tenang sehingga warga yang sejak tadi gelisah mulai merasa sedikit lega ketika melihat dirinya turun dari kendaraan. Kehadirannya membuat suasana balai desa terasa teduh seperti halaman rumah yang baru diguyur hujan.
Setelah salat Magrib berjamaah di musala kecil dekat sungai, Aryowirojo bersama beberapa warga berjalan menuju lokasi Pohon Aeng. Cahaya senter menerangi jalan setapak, sementara suara air sungai terdengar lembut di sela malam yang mulai turun perlahan. Udara di sekitar pohon terasa lebih sejuk dibanding biasanya sampai beberapa warga memilih berbicara lebih pelan.
Aryowirojo berdiri cukup lama di depan batang pohon sambil memperhatikan akar besar yang menjalar ke tepi sungai. Tangannya menyentuh batang tua itu dengan hati-hati, kemudian dirinya membaca doa pelan sambil memejamkan mata beberapa saat. Angin malam berembus perlahan dan membuat dedaunan di atas kepala bergerak lembut tertiup udara sungai.
Kepala desa bertanya dengan suara lirih tentang cerita yang selama ini dipercaya warga, tetapi Aryowirojo tidak langsung memberi kesimpulan. Menurut dirinya, banyak tempat tua menyimpan nilai sejarah, alam, dan kenangan masyarakat yang perlu dihormati bersama. Kalimatnya terasa menenangkan seperti air dingin yang jatuh ke tanah kering di musim kemarau.
Dialog Alam dan Penjelasan Lingkungan
Pagi berikutnya Aryowirojo mengajak Ghulam, pemuda lulusan teknik lingkungan, untuk memeriksa kondisi tanah di sekitar pohon. Mereka membawa alat sederhana untuk melihat struktur akar dan aliran air yang berada di bawah permukaan tanah. Sungai kecil di samping pohon terdengar mengalir pelan seperti sedang menemani percakapan mereka.
Ghulam menjelaskan bahwa pohon besar berusia tua biasanya memiliki hubungan kuat dengan cadangan air tanah dan kestabilan lingkungan sekitar. Jika ditebang sembarangan, tanah di dekat sungai bisa berubah rapuh sehingga memengaruhi aliran air desa. Penjelasan itu membuat beberapa warga tercengang karena akar Pohon Aeng ternyata membentang lebih luas daripada dugaan mereka.
Aryowirojo kemudian menambahkan bahwa manusia sering lupa menghormati alam ketika terlalu tergesa mengejar pembangunan. Menurut dirinya, cerita yang diwariskan leluhur kadang menjadi cara sederhana untuk menjaga tempat penting agar tidak rusak sembarangan. Ucapannya membuat warga mulai memahami keadaan dengan hati yang lebih tenang.
Saat penggalian kecil dilakukan di dekat akar, ditemukan batu tua dan bekas struktur lama yang diduga peninggalan masa lampau. Temuan itu membuat warga semakin yakin bahwa lokasi tersebut memang punya nilai sejarah bagi desa mereka. Aroma tanah basah yang muncul dari lubang kecil terasa memenuhi udara sampai suasana sekitar menjadi lebih tenang.
Musyawarah di Tengah Pembangunan Desa
Beberapa hari kemudian pihak proyek kembali datang bersama alat berat untuk melanjutkan pekerjaan jalan. Mandor proyek bernama Rais meminta pekerjaan segera diteruskan karena jadwal pembangunan dianggap sudah terlalu mundur. Nada bicaranya keras, sementara warga mulai berkumpul lagi di bawah pohon dengan wajah tegang.
Pak Juri mencoba mengajak semua pihak duduk bersama agar tidak terjadi keributan baru di tengah desa. Sebagian warga meminta pohon tetap dipertahankan, sedangkan pihak proyek berharap jalan tetap bisa diperlebar demi akses masyarakat. Perdebatan kecil sore itu terasa bergulung panjang seperti ombak yang tidak kunjung reda di musim angin timur.
Aryowirojo menyampaikan pendapat dengan suara pelan bahwa pembangunan dan pelestarian alam seharusnya berjalan beriringan. Menurut dirinya, desa yang maju bukan hanya memiliki jalan luas, tetapi juga mampu menjaga warisan lingkungan dan sejarahnya. Kata-kata itu membuat suasana balai desa perlahan melunak seperti tanah liat yang terkena air hujan.
Setelah diskusi cukup panjang, pemerintah desa bersama pihak kabupaten akhirnya memutuskan mengubah sedikit jalur proyek agar Pohon Aeng tetap berdiri. Warga menyambut keputusan itu dengan lega karena sungai, pohon, dan jalan baru tetap bisa hidup berdampingan. Senyum warga sore itu terasa merekah selebar hamparan sawah selepas panen raya.
Pohon Tua yang Menjadi Pengingat
Beberapa minggu kemudian lokasi di sekitar Pohon Aeng mulai ditata menjadi taman kecil untuk tempat singgah warga dan para pengendara. Anak-anak bermain di dekat sungai, sementara orang tua duduk santai di bawah rindang pohon sambil berbincang tentang cerita kampung. Tempat itu berubah hangat seperti halaman rumah yang selalu dirindukan saat senja.
Ghulam masih sering memikirkan ucapan Aryowirojo tentang pentingnya mendengar hati sebelum mengambil keputusan besar. Pengalaman di Dusun Tamaser membuat dirinya sadar bahwa ilmu pengetahuan dan penghormatan terhadap alam bisa berjalan bersama tanpa saling meniadakan. Pemahaman itu tumbuh di dadanya perlahan seperti akar pohon yang menembus tanah selama puluhan tahun.
Sebelum pulang ke Plakaran, Aryowirojo sempat menatap Pohon Aeng sekali lagi sambil tersenyum tipis kepada warga yang mengantarnya. Cahaya matahari pagi menembus sela dedaunan dan jatuh lembut ke permukaan sungai kecil di samping jalan. Dari situ warga belajar bahwa menjaga alam bukan soal rasa khawatir, melainkan tentang merawat keseimbangan hidup bersama.*
Penulis: Fau #Pohon_Aeng #Dusun_Tamaser #Cerita_Budaya #Pitutur_Madura
