Jejak Hewan, Nafas Alam, dan Laku Manusia Jawa

Ayam sedang mencari makan dibalas
Ilustrasi ayam nyari makan

tintanesia.com - Sudah ngopi, Cak? Pagi tadi seekor burung prenjak hinggap di pagar bambu belakang rumah sambil berbunyi kecil seperti sedang mengabarkan sesuatu yang penting sekali. Suaranya terasa mampu membelah sunyinya kampung sampai ke dapur-dapur warga yang mulai mengepul aroma bawang goreng.

Orang-orang tua di Jawa sejak dulu memang terbiasa memperhatikan hewan di sekitar rumah, Cak, karena dari gerak sederhana kadang tersimpan tanda tentang cuaca, musim, bahkan suasana hati manusia. Seekor cicak yang ramai di malam hari sering dianggap membuat rumah terasa hidup seperti pasar malam kecil yang tidak pernah tidur. Dari situ obrolan tentang alam biasanya mengalir pelan sambil menemani kopi yang mulai dingin di atas meja kayu.

Saat Alam Tidak Lagi Diajak Bicara

Dulu halaman rumah jarang sepi dari suara ayam, burung, atau kodok sawah, Cak, sehingga anak-anak tumbuh sambil mengenali bunyi alam tanpa perlu diajari panjang lebar. Pemandangan seperti itu sekarang terasa makin mahal seperti emas jatuh dari langit karena banyak orang lebih sibuk menatap layar dibanding mendengar suara sekitar. Padahal hubungan manusia Jawa dengan alam sejak lama bukan sekadar urusan tempat tinggal, melainkan cara menjaga rasa hormat terhadap kehidupan.

1. Burung Kecil yang Mengajarkan Ketenangan

Pernah ada seorang bapak penjual pecel yang setiap pagi menyisihkan remah nasi untuk burung gereja di depan rumahnya, Cak, sehingga halaman sempit itu selalu ramai sebelum matahari naik tinggi. Burung-burung kecil itu terbang rendah dengan riuh yang terasa mampu menghidupkan gang sempit seperti alun-alun besar penuh manusia. Bapak itu tidak pernah bicara soal filosofi, namun dari kebiasaan sederhana terlihat kalau hidup kadang cukup dijalani tanpa tergesa-gesa.

Kebiasaan orang lama memandangi burung sebenarnya bukan karena percaya hal aneh-aneh, Cak, melainkan karena mereka belajar sabar dari gerak alam yang tidak pernah terburu-buru. Seekor burung tidak pernah memakan semua biji sekaligus sehingga pelajaran tentang cukup terasa mengalir begitu saja ke kehidupan sehari-hari. Dari situ banyak orang tua Jawa lebih suka hidup pelan asal hati tetap tenang.

Sekarang banyak halaman rumah berubah menjadi tempat parkir penuh besi dan semen, Cak, sehingga suara burung perlahan kalah oleh deru kendaraan yang seperti ombak tidak pernah berhenti. Anak-anak akhirnya lebih hafal nada notifikasi ponsel dibanding suara prenjak atau tekukur. Padahal suasana rumah sering terasa lebih hangat ketika alam masih diberi ruang kecil untuk singgah.

2. Sawah, Kodok, dan Rasa Syukur Sederhana

Malam di desa dulu terasa akrab dengan suara kodok sawah, Cak, apalagi ketika musim hujan datang pelan sambil membawa aroma tanah basah. Suara itu menggema seperti orkes besar yang dimainkan langsung oleh alam tanpa panggung mewah. Orang-orang tua biasanya tidur lebih nyenyak karena merasa sawah sedang sehat dan air masih mengalir baik.

Petani Jawa zaman dulu terbiasa membaca keadaan alam lewat hewan kecil di sekitar sawah, Cak, sehingga mereka tahu kapan harus mulai menanam atau menunggu hujan reda. Seekor capung beterbangan rendah sering membuat hati warga kampung berbunga-bunga seperti baru menerima kabar panen melimpah. Semua itu tumbuh bukan dari buku tebal, melainkan dari kebiasaan hidup dekat dengan alam sejak kecil.

Sekarang sawah banyak berubah menjadi bangunan tinggi yang membuat udara terasa makin sesak, Cak, sementara suara kodok perlahan hilang dari malam-malam kampung. Orang memang makin mudah mendapatkan banyak hal, tetapi ketenangan justru terasa kabur seperti asap tertiup angin. Alam akhirnya hanya dilihat sebagai tempat mengambil manfaat tanpa diajak hidup bersama.

3. Manusia Jawa dan Rasa Tahu Batas

Orang Jawa dulu sering mengingatkan supaya manusia tidak serakah terhadap alam, Cak, karena semua yang berlebihan biasanya meninggalkan masalah di belakang hari. Keserakahan manusia kadang meluas seperti api musim kemarau yang melahap apa saja tanpa sisa. Dari situ lahir kebiasaan mengambil seperlunya dan menjaga keseimbangan hidup sehari-hari.

Kebiasaan sederhana seperti tidak menebang pohon sembarangan sebenarnya menyimpan rasa hormat yang dalam, Cak, karena manusia sadar alam juga membutuhkan waktu untuk pulih. Pohon-pohon besar di pinggir kampung dulu membuat udara terasa sejuk seperti rumah yang dipayungi awan sepanjang hari. Sikap seperti itu membuat hubungan manusia dengan sekitar terasa lebih manusiawi.

Sekarang banyak orang mulai sadar kembali pentingnya menjaga lingkungan meski pelan-pelan, Cak, sehingga gerakan kecil seperti menanam pohon atau memberi makan hewan liar mulai terlihat lagi. Harapan itu tumbuh diam-diam seperti mata air kecil yang terus mengalir di tengah batu keras. Mungkin manusia memang perlu kembali belajar mendengar alam supaya hidup tidak terasa kosong.

Menjelang sore begini kopi tinggal setengah cangkir, Cak, sementara suara burung mulai terdengar lagi dari kabel listrik depan rumah. Kehidupan sebenarnya tidak selalu meminta manusia menjadi paling hebat karena kadang cukup dengan menjaga hubungan baik terhadap alam sekitar. Bukankah hati terasa lebih ringan ketika manusia mampu hidup berdampingan tanpa saling merusak?*

Penulis: Fau #Hewan_Alam #Manusia #Pitutur_Jawa

Baca Juga
Posting Komentar
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad