![]() |
| Celurit Ghãl Duã' masih tersarunh dengan baik |
Tintanesia, Celurit Madura - Sudah ngopi cak? Warung kopi itu kadang seperti panggung kecil kehidupan, tempat orang menaruh lelah sambil pura-pura santai. Dari percakapan yang diterima, Tiba-tiba nyelonong ke hal yang diam-diam menampar pikiran.
Di meja kayu yang sudah hafal siku dan gelasnya, celurit sering jadi bahan cerita baik di dalam maupun luar Madura. Bukan karena tajamnya, tapi karena maknanya yang lebih tajam dari luka. Orang kota mungkin melihat besinya, tapi orang Madura membaca arah hidup di lengkungannya.
Pernah kepikiran gak, Cak, kenapa celurit itu melengkung seperti bulan sabit yang setengah menahan diri? Kenapa tidak lurus saja, seperti ambisi manusia yang sering kebablasan. Jangan-jangan bentuk itu bukan kebetulan, tapi sindiran halus untuk kita yang lupa arah.
Tiga Jenis Celurit Khas Madura
Cak, Tintanesia ini pernah ngobrol dengan salah satu sesepuh di Sampang Madura (Sawadi), dia mengatakan bentuk cerulit itu ada tiga macam menurut versi Plakaran, Kecamatan Jrengik Kabupaten Sampang. Masing-masing Ghãl Tong, Ghãl Duã', dan Ghãl Tello'.
1. Ghãl Tong, Api yang Merasa Matahari
Ghãl Tong itu seperti angka satu yang berdiri tegak penuh percaya diri. Ujungnya menengadah seperti angin menantang langit. Biasanya dipegang pemuda yang berdarah lebih panas dari kopi baru turun dari tungku.
Di fase ini, keberanian sering berubah jadi gangguan yang merasakan kebenarannya. Langkah yang diambil seperti petir, cepat namun menyambar solah tanpa arah. Hatinya seperti mesin tanpa rem, malaju sambil berharap jalan ikut menyingkir.
Bukankah kita pernah jadi seperti itu, Cak? Merasa dunia harus paham terhadap kita, padahal kita saja belum paham diri sendiri. Api kecil di dada terasa seperti matahari, padahal hanya percikan yang padam.
2. Ghãl Dua', jalan yang Mulai Memilih
Dhãl Duã' mulai melengkung seperti angka dua yang sedang mulai menunduk. Ujungnya tidak lagi manantang langit, tapi mulai terlihat ke depan. Fase ini semacam ketika manusia mulai sadar hidup bukan hanya berani, tapi juga memilih.
Di titik ini, langkah tidak lagi seperti kuda lepas dari kandang. Artinya mulai ada arah, meski terkadang masih ragu seperti kompas yang diganggu badai. Serta dalam tingkatannya, keputusan tidak lagi soal cepat, tapi berkaitan dengan tepat.
Lucunya, semakin tau arah, semakin terasa berat langkahnya. Hal itu karena setiap pilihan seperti jalan bercabang yang tidak bisa diputar ulang. Di sinilah manusia mulai belajar bahwa hidup tidak hanya berkenaan dengan menang, tapi soal memahami.
3. Ghãl Tello', Menunduk Seperti Labgit yang Sudah Punah
Ghãl Tello' melengkung lebih dalam, seperti angka tiga yang sedang menunduk. Ujungnya tidak lagi menantang, tapi seperti memberi hormat pada bumi. Biasanya dipegang oleh mereka yang sudah kenyang rasa pengalaman.
Difase ini, kekuatan tidak lagi berisik seperti petasan tahun baru. Tetapi tampak diam seperti gunung yang tidak perlu membuktikan tingginya. Orang seperti ini tahu, satu langkah tanpa emosi lebih tajam dari seribu amarah.
Sampean pernah tidak, Cak, melihat yang benar-benar kuat justru seperti udara tenang. Tidak memaksa, tapi selalu menemukan jalan. Karena mereka tahu, melawan tidak selalu menang.
Celurit, Cermin, dan Sindiran untuk Diri Sendiri
Kalau dipikir-pikir, celurit itu seperti cermin yang tidak mau berdusta. Senjata yang sering digunakan berduel orang Madura ini memantulkan siapa kita dari cara memegangnya. Tajamnya sama, tapi arah dan niatnya berbeda.
Hari ini, Cak, banyak orang yang sibuk terlihat seperti Ghãl Tello', tapi sikapnya masih Ghãl Tong. Artinya, bicaranya bijak di depan, tapi emosinya meledak di belakang. Seperti toples yang dipoles rapi, tapi retaknya jelas dari dekat.
Cak, kita ini hidup di zaman yang baru, di mana pencitraan lebih cepat dari pendewasaan. Orang ingin terlihat dewasa tanpa mau lelah belajar. Ingin dihormati seperti orang Sepuh, tapi tersinggungan seperti anak kecil.
Padahal hidup itu bukanlah soal seberapa tajam kita bisa menyakiti. Tapi seberapa dalam kita bisa menahan diri agar tidak melukai. Apalagi sudah banyak diketahui, jika celurit paling berbahaya itu bukan yang paling tajam, tapi yang dipegang oleh hati yang belum berdamai.
Saat Tajam Belajar Menunduk
Hidup ini seperti perjalanan dari api ke abu yang belajar memahami makna. Dari yang membara tanpa arah, yang tenang tanpa perlu pembuktian. Setiap fase punya luka, tapi juga punya pelajar.
Tidak semua orang sampai di titik menunduk dengan sadar. Ada yang terus berdiri tegak sampai patah oleh kerasnya sendiri. Ada juga yang belajar perlahan, meski tertatih.
Dan mungkin, yang paling penting bukan seberapa tinggi kita pernah menengadah. Namun sejauh mana dalam diri kita mampu menunduk tanpa kehilangan arah. Karena di situlah manusia berhenti menjadi tajam, dan mulai menjadi bijaksana.
Penulis: Fau #Pitutur_Kehidupan #Celurit_Madura #Filosofi_Hidup #Refleksi_diri #Budaya_Madura
