Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

Remehkan Pamali Rambut Terbakar, Pemuda Madura Kena Batunya

Rambut seorang bergelombang seorang pria
Ilustrasi Rambut

Tintanesia - Sudah ngopi, Cak? Pagi kadang datang pelan, ya, kayak utang yang ditagih pakai senyum. Baiklah cak aku mau cerita, tentang kisah pemuda madura yang pamali rambut yang terbakar. Coba kita bayangkan ya, Cak!

Angin laut di kampung berembus lembut, membawa bau asin yang bercampur wangi kayu bakar dari dapur tetangga. Di depan rumahnya, Samara Sajus duduk santai dikursi bambu, rambutnya baru saja habis dicukur sendiri.

Cermin tua peninggalan ayahnya masih berdiri setia di dinding, memantulkan wajah yang terlihat lebih ringan, atau mungkin lebih kosong. Di tangannyan kaleng bekas jadi wadah kecil. Isinya rambut-rambut halus yang tadi jatuh seperti sisa masa lalu yang tak sempat disimpan. Lalu api kecil Samara nyalakan. Rambut itu kemudian terbakar.

Bau khas itu langsung menyengat. Bau yang entah kenapa selalu terasa seperti sesuatu yang tak selesai. Orang-orang yang lewat melirik. Ada yang pura-pura tidak melihat, ada yang tak tahan mengingatkan. "Jangan dibakar, nak. Bau rambut terbakar bisa menarik sial."

Samara cuma senyum. Senyum tipis yang sering kita pakai saat merasa lebih pintar dari nasehat orang tua. Bukankah begitu, Cak? Kadang kita merasa logika sudah cukup untuk menertawakan semua yang tak kasat mata. Tapi siapa yang benar-benar tahu batas antara yang tidak masuk akal dan belum kita pahami?

Api Kecil Gangguan Besar

Awalnya biasa saja. Malam pertama setelah rambut itu jadi abu, hanya ada suara kecil di dapur, seperti bara yang lupa mati. Samara mengecek. Kosong. Tapi bau rambut terbakar masing menggantung di udara, seperti tamu tak diundang namun ogah pulang. Sesaat kemudian lampu minyak bergoyang sendiri. Jendela tertutup rapat seketika.

"Akh, paling angin," kata samara dalam hati. Kita juga sering begitu, kan Cak? Menamai sesuatu dengan angin, hanya supaya tidak perlu mengakui ada yang lain.

Besoknya, air sumur keruh. Bau. Aneh. Padahal kemarin jernih. Mata bisa perih saat kena airnya, seperti disentuh yang tak terlihat.

Lalu hari-hari mulai terasa berat.

Langkah jadi lambat.  Pikiran jadi penuh. Hati seperti disusupi bisikan-bisikan kecil yang tak jelas asalnya.

Apa benar semua itu cuma kebetulan? Atau memang ada hal-hal yang tak suka kita remehkan. Bagaimana menurut sampean, Cak?

Cermin yang Tak Lagi Jujur

Hari ketiga, Samara berdiri lagi di depan cermin tua itu. Cermin yang selama ini jujur, apa adanya, tanpa  tambahan, tanpa drama. Tapi kali ini beda, di pantulan wajahnya pucat. Matanya satu. Dan ada sesuatu di belakangnya. Semacam ada siluet hitam yang diam namun nempel. Samara menoleh, tak ada siapa-siapa. Tapi di cermin, bayangan itu masih setia.

Pernah tidak sih, Cak, sampean merasa dilihat padahal sendirian? Atau merasa ada yang mengikuti, tapi setiap ditengok selalu kosong?

Kadang, yang membuat kita takut bukan karena ada sesuatu. Tetapi karena kita ragu, apa yang dilihat ini nyata, atau justru justru kita yang sedang dibuka matanya?

Ketika Soal tak lagi Sopan

Hujan datang seperti ditumpahkan dari langit yang kesal. Petir menyambar, suara menggelegar seperti dunia sedang marah.

Samara pulang malam itu, membawa belanjaan ibunya. Belum sempat masuk rumah, lampu tiba-tiba padam. Gelap total. Lalu terdengar langkah yang pelan, menyeret, dekat, berhenti di belakangnya. Seketika udara jadi dingin. Bukan dingin biasa, tapi dingin yang seperti menyusup ke dalam tulang. Sesaat, bau itu kembali. Bau rambut terbakar.

Saat petir menyambar, sesaat terlihat bayangan hitam di ujung pagar, tak bergerak, tapi terasa hidup.

Mengetuk Pintu yang Labih Tua dari Logika

Setelah kejadian itu, akhirnyah Samara datang ke Mbah Jaring, sesepuh yang masih memegang teguh hal-hal yang sering kita sebut kitab kuno.

"Kau telah memanggil sesutu," kata Mbah Jaring. Tidak marah. Tak menghakimi. Hanya seperti orang yang sudah terlalu sering malihat manusia mengulangi kesalahan yang sama.

Samara cerita semuanya. Dari api kecil sampai bayangan cermin. Jawaban Mbah Jaring sederhana, yakni, kadang yang kita sebut mitos itu bukan untuk ditakuti, tapi dihormati.

Berkenaan dengan pernyataan Mbah Jaring ini, bukankah aneh, Cak? Kita bisa percaya pada hal-hal yang terbaca di internet, tapi menertawakan hal yang diwariskan turun-temutun oleh orang yang hidup jauh sebelum kita?

Mengubur yang Seharusnya Tak Dibangunakan

Seusai menerima petunjuk dari Mbah Jaring. Samara pulang menunggu malam, saat waktu-waktu yang ditunggu datang, dia menggali tanah di bawah pohon kelapa yang tidak berbuah. Tangannya kotor. Napasnya berat. Abu rambut itu telah ia tanam. Semacam mengembalikan sesuatu pada asalnya.

Saat proses penguburan rambut, ia merasakan angin sedang berbisik. Tanah terasa menahan. Dan saat semuanya selesai, terdengar tawa kecil dari arah gelap. Lalu hujan turun tiba-tiba. Semacam ada yang menutup cerita itu, tapi tidak benar-benar mengakirinya.

Yang Tak Terlihat, Bukan Berarti Tak Ada

Jadi begitu ceritanya, Cak. Hehe, kadang hidup ini seperti di warung kopi pinggir jalan. Tidak semua yang datang bisa kita kenali, dan tidak semua yang kita lihat bisa dipahami. Ada yang sekedar lewat, ada yang meninggalkan rasa. Bahkan ada juga yang diam-diam menetap tanpa kita sadari 

Kita mungkin sering merasa modern hanya karena bisa menjelaskan banyak hal dengan logika. Tapi anehnya, Cak, semakin banyak yang bisa dijelaskan, semakin sedikit yang kita hormati. Mungkin kita lupa bahwa ada wilayah hidup yang tidak membutuhkan pembuktian, artinya, cukup kesadaran untuk tidak sembarangan.

berkaitan dengan pamali itu, sebenarnya bukan soal takut, kan cak. Bisa jadi itu cara orang dulu menjaga kita dari sesuatu yang tidak mereka kuasai, tapi mereka paham batasnya. Sementara kita datang dengan kepala penuh teori, merasa semua bisa ditertawakan. Sampai suatu hari, hidup menertwakan balik.

Ironinya, manusia sekarang lebih takut ketinggalan tren dariapada kehilangan arah hidup. Salah satu buktinya, kadang kita sibuk mengejar yang terlihat, tapi ceroboh terhadap yang tak kasat mata. Padahal, seringkali yang tak terlihat justru punya dampak paling nyata.

Mungkin yang perlu kita pelajari bukan apakah pamali itu benar atau tidak. Tetapi, apakah kita cukup rendah hati untuk tidak selalu merasa paling tahu. Karena dalam hidup, yang paling berbahaya bukan ketidaktahuan, tapi keyakinan bahwa kita sudah tahu segalanya.

Penulis: Fau #Pitutur_Madura #Cerita_Madura #Pamali_Rambut_Terbakar #Kisah_Inspiratif

Baca Juga
Posting Komentar
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad