![]() |
| Ilustrasi kehidupan kota yang menuntut serba cepat. (Tintanesia/Fau) |
Tintanesia - Kita kadang lelah di hari-hari yang bahkan belum memulai apapun. Jadi semacam segalanya tersa berjalan terlalu cepat, seolah selalu mengejar tanpa mengetahui apa yang sebenarnya diintai. Dari itulah muncul perasaan yang sulit di urai. Jadi semacam ada hal yang terus menguras tanpa melihat.
Tak bisa dipungkiri, kadang kita berjalan dari satu kesibukan ke kesibukan lainnya, bahkan tanpa jeda. Sehingga dalam perkiraan, waktu menjadi sesuatu yang dikejar, bukan di jalani. Dan kadang, dari rutinitas itu muncul pertanyaan kecil yang terabaikan. Yakni, kapan terakhir kali benar-benar berhenti?
Sebenarnya masalah ini sudah pernah dipikirkan Georg Simmel. Dalam tulisannya (The Metropolis anda Mental Life: 1903) dia mengatakan, jika kehidupan kota itu dipenuhi rangsangan yang terus menerus. Dari itu manusia perlahan mengalami kelelahan mental dan hilangan kedalaman dalam merasakan atau menikmati hidup.
Diketahui di kota, segala sesuatu bergerak cepat seakan menuntut untuk segera di selesaikan. Sementara pekerjaan tidak benar-benar selesai, dan mungkin hanya berganti bentuk dalam setiap harinya. Bahkan saat tubuh harus beristirahat, itu tidak bisa karena pikiran masih berjakan tanpa henti.
Kemacetan, target, dan tekanan hidup menjadi bagian dari keseharian yang sulit dihindari. Kita mungkin menjalani itu hingga menyadari bahwa hal tersebut melelahkan. Sebab lelah biasanya tak selalu terlihat, dan diam-diam menetap di dalam diri.
Sehingga tanpa disadari, banyak dari kita kehilangan waktu untuk diri sendiri. Yakni, semacam waktu habis guna memenuhi kebutuhan, sedangkan ruang ruang untuk dia semakin sempit. Jadi seolah kita jarang memberi waktu pada diri sendiri hanya untuk sekedar beranapas.
Lain dengan kota, desa justru menawarkan ritme yang terasa lebih pelan. Di kampung, waktu tidak terus dikejar, dan percakapan tidak keburu untuk dirampungkan. Jadi semacam ada ruang yang memungkinkan untuk hadir sepenuhnya dalam setiap momen.
Bahkan di desa, kehidupan berjalan dengan cara sederhana. Yakni orang-orang masih menyapa, berhenti sejenak, dan memberi waktu pada hal-hal kecil. Nah kesederhanaan seperti itu tentu menyimpan ketenangan yang tidak mudah ditemukan di kota.
Saat kita kembali ke desa, tentu sering timbul perasaan yang sulit didefinisikan. Contoh, tentang udara yang terasa berbeda, langkah lebih ringan, dan pikiran yang perlahan melambat dan nyaman untuk dinikmati. Hal itu di kota bukan berarti hilang, tetapi di kampung, dikarenakan ada waktu untuk merasakan lebih jernih.
Membahas desa, mungkin ada sedikit rindu dan pikiran kita berimajinasi tentang suasana di sana. Jadi semacam ada perasaan yang tidak pernah penuh dan waktu seakan tidak cepat di kampung. Terus terang saja jika kamu sedang kangen tempat itu, berarti kamu sudah mulai menemukan tempat yang sewaktu-waktu harus kembali ke sana.
Namun kembali ke desa, tidak selalu mudah menghilangkan tentang kota. Kita akan terngiang-ngiang dan akan ada kekhawatiran terkait tempat yang memaksa serba cepat itu.
Dari uraian mendalam di atas, kita bisa mengatakan, bahwa antara kota dan desa bukan tentang mana yang lebih baik, sebab keduanya menawarkan hidup yang berbeda dengan masalah masing-masing. Terlepas dari itu, kita hanya mencari tempat untuk tenang, bernafas perlahan. Begitulah refleksi Tintanesia ini.*
Penulis: Fau #Hidup_di_Kota #Refleksi_Desa #Tekanan_Kehidupan #Makna_Hidup #Ruang_Bernapas
