Iklan - Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Pitutur Madura Tentang Permainan Silep dan Nilai Kebersamaan Anak

Pitutur Madura tentang Silep di tanéan Lanjhang, nilai kebersamaan anak, refleksi budaya desa, dan makna sosial kehidupan harian.
Halaman dengan orang berjalan dan kopi
Halaman dan kopi

tintanesia.com - Di banyak kampung di Madura, tanéan bukan sekadar halaman rumah, melainkan ruang hidup yang menyimpan banyak cerita tentang tumbuhnya kebersamaan. Di tempat sederhana itu, anak-anak belajar mengenal dunia melalui permainan, tawa, serta interaksi kecil yang membentuk karakter mereka tanpa disadari. Salah satu permainan yang sering dimainkan adalah Silep, sebuah permainan petak umpet yang menjadi bagian dari keseharian anak desa dan diwariskan melalui kebiasaan bermain bersama di waktu senggang.

Pada suatu malam yang tenang di tanéan Lanjhang, suasana tampak seperti biasa. Lampu minyak menggantung dengan cahaya temaram, sementara angin malam bergerak pelan di antara pepohonan sekitar halaman. Tiga anak yang baru selesai mengaji masih enggan masuk ke rumah masing-masing karena masih ingin menikmati sisa waktu bersama. Dalam kesederhanaan itu, mereka sepakat memainkan Silep sebagai bentuk kebersamaan yang sudah menjadi bagian dari rutinitas masa kecil mereka.

Dullah bersedia menjadi pencari, lalu menutup mata sambil menghitung pelan dengan suara yang sesekali terputus oleh hembusan angin. Sementara itu, Mamat berlari kecil menuju kandang kambing yang sudah ia kenali, dan Bani memilih bersembunyi di balik rumpun singkong yang tumbuh rapat di sudut halaman. Tawa mereka yang semula terdengar ringan perlahan menjadi bagian dari suasana malam yang hangat, seolah tanéan itu memang diciptakan untuk menampung keceriaan sederhana anak-anak desa.

Ketika hitungan selesai, Dullah mulai mencari dengan penuh semangat. Ia menemukan Mamat dengan cepat, dan keduanya tertawa kecil seolah permainan berjalan seperti biasa. Namun, Bani tidak terlihat di mana pun, meski panggilan sudah berulang kali terdengar di seluruh penjuru halaman. Dari momen inilah suasana yang awalnya ringan mulai berubah menjadi lebih tenang, karena rasa peduli mulai tumbuh di antara mereka yang tersisa dalam permainan.

Kebersamaan yang sebelumnya terasa ringan berubah menjadi kesadaran kecil tentang arti kehadiran seseorang dalam sebuah kelompok. Anak-anak yang semula hanya bermain kini mulai belajar bahwa kehilangan dalam konteks permainan pun bisa menghadirkan rasa khawatir, dan dari situ muncul dorongan untuk saling menjaga. Warga sekitar yang kemudian ikut membantu mencari juga menunjukkan nilai yang sama, yaitu kepedulian yang tumbuh secara alami dalam kehidupan kampung.

Pencarian yang berlangsung hingga beberapa waktu menjadi pengalaman yang membekas bagi banyak orang. Setiap sudut tanéan diperiksa bersama, tidak hanya sebagai bentuk usaha menemukan seseorang, tetapi juga sebagai wujud tanggung jawab sosial yang mengikat hubungan antarwarga. Dalam proses itu, terlihat jelas bahwa kehidupan desa memiliki cara sendiri dalam merawat kebersamaan, bahkan dalam situasi yang sederhana sekalipun.

Pada akhirnya, Bani ditemukan di bawah bagian léncak atau bangku kayu yang berada di halaman. Kejadian itu kemudian menjadi bahan pembicaraan warga, bukan untuk mencari hal yang di luar nalar, melainkan untuk menegaskan pentingnya perhatian terhadap ruang bermain anak. Dari sana muncul kesadaran bersama bahwa anak-anak membutuhkan pengawasan yang cukup, terutama ketika bermain di waktu yang mulai larut.

Seiring waktu, cerita tersebut berubah menjadi pitutur yang disampaikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Anak-anak kembali bermain di tanéan seperti biasa, namun dengan batas waktu yang lebih teratur dan perhatian yang lebih besar dari orang dewasa. Permainan Silep tetap menjadi bagian dari kehidupan mereka, tetapi kini juga membawa pesan tentang kebersamaan, tanggung jawab, dan kepedulian yang tumbuh dari pengalaman sederhana di halaman rumah.

Dari kisah itu, masyarakat belajar bahwa tanéan bukan hanya ruang bermain, tetapi juga ruang pembelajaran sosial yang halus. Setiap tawa, setiap pencarian, dan setiap kebersamaan yang terjalin di sana menjadi bagian dari proses tumbuhnya nilai kehidupan yang tidak tertulis. Pada akhirnya, pitutur yang lahir dari permainan sederhana ini mengingatkan bahwa kebersamaan selalu membutuhkan perhatian, agar tidak hilang di tengah kesibukan dan perubahan zaman.* (Fau) #Pitutur_Madura #Tradisi_Lisan #Permainan_Anak

Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Pitutur Madura Tentang Permainan Silep dan Nilai Kebersamaan Anak
  • Pitutur Madura Tentang Permainan Silep dan Nilai Kebersamaan Anak
  • Pitutur Madura Tentang Permainan Silep dan Nilai Kebersamaan Anak
  • Pitutur Madura Tentang Permainan Silep dan Nilai Kebersamaan Anak
  • Pitutur Madura Tentang Permainan Silep dan Nilai Kebersamaan Anak
  • Pitutur Madura Tentang Permainan Silep dan Nilai Kebersamaan Anak

Posting Komentar