![]() |
| Ilustrasi usungan bambu di sawah |
tintanesia.com - Sudah ngopi, Cak? Kisah usungan bambu di tengah sawah ini pernah jadi bahan obrolan panjang di teras surau karena suasananya terasa menempel di kepala sampai pagi datang. Malam di Desa Bancelok berjalan pelan, sementara angin sawah bergerak selembut tangan ibu yang mengusap kepala anaknya sepulang bermain.
Samsul duduk santai di beranda Surau Tonggul bersama Rifa’i dan Siroj setelah selesai mengaji malam. Lampu teras yang redup membuat suasana terasa hangat seperti warung kopi kecil di pinggir jalan desa. Obrolan mereka mengalir begitu ringan sampai waktu terasa melaju secepat kereta tanpa suara.
Malam Sawah yang Membawa Cerita
Selepas Isyak, Rifa’i mengajak mencari jangkrik untuk umpan burung esok pagi karena sawah biasanya ramai suara serangga saat udara mulai dingin. Samsul langsung tertarik, sementara Siroj ikut berjalan sambil membawa botol plastik berlubang dan senter dari ponsel lama mereka. Jalan setapak di tengah sawah tampak membentang seperti garis panjang yang tak habis dipandang mata.
Udara malam terasa lembab, sehingga langkah mereka pelan sambil sesekali tertawa membahas cerita pesantren yang lucu. Suara kodok dan jangkrik saling bersahutan dari pematang sawah yang mulai tertutup kabut tipis. Suasana malam itu terasa setenang halaman rumah selepas hujan turun perlahan.
Jam di ponsel Samsul menunjukkan tengah malam ketika suara jangkrik terdengar dari arah area makam kampung dekat pohon beringin tua. Cahaya senter mengarah ke semak-semak, lalu tampak seekor jangkrik besar melompat cepat ke balik susunan batu lama. Rasa penasaran mereka membesar seperti anak kecil yang menemukan mainan baru di pasar malam.
1. Usungan Bambu yang Tampak Bergeser
Mereka melangkah hati-hati menuju sisi area makam sambil menjaga suara agar tidak terlalu keras. Di dekat pohon tua, tampak sebuah usungan bambu lama yang diletakkan miring di atas tanah berumput. Angin malam saat itu terasa dingin sampai menusuk seperti air sumur di waktu subuh.
Belum sempat Samsul mendekat penuh, terdengar suara bambu berderak pelan dari arah usungan tersebut. Rifa’i langsung memegang lengan Siroj karena benda itu tampak sedikit bergeser terkena hembusan angin malam. Suasana mendadak terasa sunyi seperti sawah yang kehilangan suara jangkrik.
Samsul mencoba tetap tenang sambil menyorotkan cahaya ponselnya ke arah usungan bambu itu. Bambu pada bagian samping tampak bergerak kecil, seolah ada gerakan dari dalamnya. Detak jantung mereka terdengar nyaris seramai tabuhan rebana saat acara kampung dimulai.
2. Rasa Penasaran di Tengah Malam
Siroj meminta pulang karena suasana sekitar mulai membuatnya tidak nyaman, tetapi Samsul justru semakin ingin tahu isi usungan tersebut. Langkah Samsul bergerak pelan sambil membawa ranting kecil untuk membuka sedikit bagian penutup bambu. Malam itu terasa panjang seperti waktu yang sengaja berjalan lambat.
Saat penutup usungan terbuka sedikit, cahaya senter masuk ke bagian dalam dan memperlihatkan beberapa gerakan kecil bergerak cepat. Ternyata ada beberapa tikus sawah yang saling berkejaran di dalam usungan bambu kosong tersebut. Ketegangan mereka pecah begitu saja seperti balon anak-anak yang tersentuh ujung jarum.
Rifa’i langsung tertawa keras sambil duduk di rumput karena sejak tadi pikirannya terlalu jauh membayangkan sesuatu. Samsul ikut tertawa sampai matanya berair, sementara Siroj menggeleng sambil menarik napas lega. Suasana hati mereka perlahan berubah hangat seperti pagi desa yang mulai terkena cahaya matahari.
3. Pelajaran dari Tengah Sawah
Mereka akhirnya duduk di pinggir pematang sambil menikmati udara malam sebelum pulang ke surau. Samsul berkata bahwa banyak hal terasa rumit hanya karena pikiran terlalu cepat mengambil kesimpulan. Ucapan sederhana itu terasa hangat seperti teh manis yang baru diangkat dari tungku.
Perjalanan pulang berjalan santai karena suasana hati mereka sudah jauh lebih ringan dibanding sebelumnya. Cahaya bulan terlihat menggantung tenang di atas sawah, sementara suara jangkrik kembali terdengar biasa saja. Malam kecil itu meninggalkan cerita yang akan dikenang mereka bertahun-tahun lamanya.
Sesampainya di Surau Tonggul, mereka masih tertawa mengingat wajah kaget masing-masing saat melihat usungan bambu yang tampak bergeser tadi. Samsul lalu menyimpan botol jangkrik di sudut beranda sambil memandang langit desa yang mulai cerah menjelang dini hari. Kenangan malam itu terasa membekas seperti coretan kecil yang sulit hilang dari dinding masa remaja.
Kadang suasana sunyi membuat pikiran melangkah terlalu jauh sebelum melihat kenyataan yang sebenarnya terjadi. Dari situ, Samsul dan teman-temannya belajar bahwa hati yang tenang sering kali membuat keadaan terlihat lebih jernih. Sambil ngopi pelan malam-malam, mungkin ada cerita sederhana di kampungmu yang sampai sekarang masih membuat senyum muncul sendiri.*
Penulis: Fau #Usungan_Bambu #Cerita_Budaya #Pitutur_Kisah
