Tradisi Mulod Makam, Cara Santri Tongghul Mengingat Leluhur
![]() |
| Ilustrasi Makam Tangghulung |
tintanesia.com - Pada malam hari mereka berkumpul di makam dengan pencahayaan lampu terang yang di pasang saat sore hari. Sambil membaca sholawat Fihubbi bersama, mereka tampak tenang seakan nyambung kepada leluhur. Itulah suasana tradisi Mulod Makam di Pemakaman Tangghulung Kampung Thonggul Desa Bancelok Kecamatan Jrengik Kabupaten Sampang Madura.
Tradisi ini bertahan dari dulu hingga sekarang, mempertemukan antara manusia dengan manusia lainnya, manusia dengan alam, dan manusia dengan leluhur. Tak ada yang unik dari tradisi ini, kecuali tempat yang dilaksanakan di makam dan diikuti oleh warga dari empat Kampung dua desa sekaligus.
Hal itu diungkap langsung oleh salah satu Tokoh Masyarakat yang juga Santri Sepuh Langghãr Tongghul, Abah Mat, Minggu 5 Juli 2026.
"Masing-masing dari empat Kampung itu: Kampung Thonggul, Kasong, Klampis dari Bancelok. Kemudian dari Kampung Lembhung Desa Plakaran," tuturnya.
Abah Mat mengutarakan, pelaksanaan tradisi tersebut pada malam hari dengan penerangan yang sudah diurus sejak sore hari. Tentunya persiapan hingga acara di lakukan secara gotong royong.
"Namanya juga Santri, baik Santri Sepuh, muda dan anak-anak pastinya saling bantu," katanya.
Namun lokasi tradisi Mulod Makam, kata beliau lebih lanjut menjelaskan, tidak hanya di pemakaman Tangghulung, melainkan juga di Makam Kebbhun Kampung Lémbhung. Hanya saja dengan waktu yang berbeda dan jaraknya cukup lama, bahkan hingga 6 bulanan lebih.
"Di Makam Tangghulung, selain ada tempat pemakaman Buyut Thonggul, juga ada pesarean Raden Kiyai Syarifuddin (Salah satu penyebar agama islam di Kecamatan Jrengik). Selain itu ada guru-guru Sepuh yang juga dimakamkan di tempat itu. Sementara di Pemakaman Kebhhun, ada makam Buyut Kebbhun, serta santri konah Thonggul tempo dulu" ungkapnya.
Di tanya soal rangkai acara, Abah Mat menjawab, acaranya sama dengan bacaan Maulid nabi yang umum di Madura. Yakni, bertawassul, Sholawat Fihubbi, Doa, lalu dapat berkat. Hanya saja sebelum mulai, biasanya kiyai Sepuh masih memberikan wejangan terkait sejarah, ilmu, akhlak dan hal-hal yang berkenaan dengan kebaikan lainnya.
Menurut Abah Mat, tradisi tersebut memiliki makna mendalam dan berguna sekali bagi masyarakat setempat jika ditelisik secara seksama. Yakni mulai dari gotong royong yang akan mempererat sosial, bersih-beraih yang berhubung dengan alam, tawassul yang berhubungan dengan leluhur, Kemudian Doa yang berhubungan dengan Gusti Allah.
Dikatakan Abah Mat, "Jadi ada yang benar-benar sakral, dan santai namun Bemakna. Menurut saya beberapa poin itu bisa dikatakan latihan tirakat bagi yang Sepuh, generasi muda dan anak-anak dalam berhubungan baik,"
Dia berharap kedepan, tradisi ini bisa dilanjutkan oleh generasi-generasi selanjutnya. Artinya tidak tergerus oleh modernisasi atau zaman yang semakin tua, manusianya banyak yang lupa akan nilai luhur.
"Semoga para generasi mendatang, tetap melanjutkan tradisi Mulod Makam ini," pungkasnya.* (Fau) #Mulod Makam #Tradisi_Sampang #Kearifan_Lokal

Posting Komentar