Iklan - Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Budaya Madura: Tradisi Rasol di Kampung Lémbung Sarat Makna Luhur

Ayo kita telisik makna luhur tradisi Rasol Madura. Tak hanya itu, terdapat keunikan tersendiri dari kebiasaan yang berkenaan dengan rasa syukur ini.
Beberapa ibu-ibu duduk dan memilah beberapa makanan
Ilustrasi ibu-ibu kampung Lémbung mempersiapkan berkat untuk tradisi Rasol

tintanesia.com - Para ibu-ibu dan embak-embak sedang memasak nasi dan ayam yang baru dipotong. Kemudian sebagian ibu-ibu itu, sambil memilah jajanan pasar dan jajan olahan sendiri, mereka tampak bergembira dengan bahasa Madura. Sementara sebagian lainnya, menyiapkan wakul sebagai wadah untuk nasi, masakan ayam, jajanan pasar, dan jajan olahan sendiri. Itulah aktivitas persiapan dari tradisi Rasol di Kampung Lémbung Desa Plakaran Kecamatan Jrengik Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur.

Tradisi Rasol seolah lahir dari kehidupan masyarakat Kampung yang menjunjung tinggi nilai syukur dan kebersamaan. Pasalnya kebiasaan ini termasuk cara masyarakat mengungkapkan rasa terimakasih atas rezeki yang mereka peroleh. Hal itu diungkapkan langsung oleh Sesepuh Kampung Lémbung, Abdul Azis, kepada tintanesia.com.

Menurut Abdul, lewat tradisi Rasol masyarakat meyakini, bahwa rezeki tidak hanya untuk dinikmati sendiri, mengingat kadang rezeki orang lain lewat manusia lainnya. Maka itu masyarakat bisa menerapkan ajaran luhur itu lewat tradisi tersebut.

Apa itu Tradisi Rasol?

Dituturkan Abdul, tradisi Rasol termasuk kebiasaan turun menurun masyarakat kampung Lémbung, yakni berupa sedekah besar-besaran lewat pembagian berkat pada tetangga satu kampung. "Hal itu merupakan wujud dari rasa syukur dan kepedulian sosial," katanya.

Tentunya tidak hanya satu keluarga yang pernah melakukan ini. Menurut Abdul, semua keluarga di Kampung Lémbung pernah melakukan tradisi tersebut, dan berlangsung tiap tahu yakni setiap bulan Rasol (istilah nama penanggalan bulan di Kampung tersebut).

"Kami bergantian, dengan khidmat melakukan tradisi Rasol tiap tahun," ungkapnya.

Asal Usul Tradisi Rasol di Kampung Lémbung

Disinggung soal asal muasal tradisi Rasol, sesepuh tersebut menjawab, jika kebiasaan itu telah ada sejak zaman dulu, diperkirakan setelah Islam berkembang di Kampung Lémbung.

"Kalau waktu pastinya saya tidak tahu. Namun tradisi ini ada sejak dulu, mungkin saat Islam telah berkembang di Lémbung ini," singkapnya.

Meski pencetusnya belum diketahui, namun hingga sekarang tradisi Rasol masih dilestarikan oleh warga Lémbung. Bahkan, kata Abdul melanjutkan, tiap tahun satu kampung melaksanakan kebiasaan tersebut.

Waktu dan Tata Cara Pelaksanaan Tradisi Rasol

Dijelaskan Abdul terkait pelaksanaan tradisi Rasol, yaitu keluarga biasanya memasak nasi dalam jumlah besar dan menyembelih satu hingga tiga ayam kampung. Setelah masak, nasi dan ayam dimasukkan ke berkat kecil, dengan ditambah jajan olahan keluarga dan jajanan pasar yang telah dibeli sebelumnya.

"Ya jumlah berkatnya lumayan banyak, ini kan buat satu kampung," jelasnya.

Kemudian berkat itu, diantar ke setiap keluarga di kampung itu. Sedangkan waktu pembagiannya, kata Abdul tidak selalu sama, yakni: ada yang pagi, kadang siang, namun ada yang dibagikan pada sore hari.

"Nah berkatnya itu di letakkan di Ghãddãng (tempat lebar seperti nampan kopi), disusun lalu diso'on (Diletakkan di atas kepala), kemudian diantar ke setiap rumah atau keluarga," imbuhnya.

Makna Tradisi Rasol bagi Masyarakat Lémbung

Abdul berpendapat, bahwa Rasol memiliki makna luhur, yakni bisa dikatakan simbol rasa syukur atas nikmat yang warga kampung Lémbung terima. Mereka yakin, bahwa nikmat rezeki yang diperoleh bukan hanya untuk pribadi saja, melainkan untuk orang lain juga.

Selain itu, makna lain dari tradisi Rasol terletak pada kedekatan keluarga yang mengantar berkat ke tiap rumah.

"Dengan pertemuan itu, hubungan antar tetangga akan tambah erat," tambah dia.

Diharapkan Abdul, agar generasi di Kampung Lémbung tetap melaksanakan tradisi Rasol hingga kapan pun. Apalagi di tengah zaman yang serba modern ini, yang banyak budaya asing masuk lewat handphone.

"Mudah-mudahan tradisi ini berlanjut hingga kapan pun," pungkasnya.* (Fau)

Disclaimer: Tradisi Rasol tidak hanya ada di Kampung Lémbung, melahirkan di kampung atau desa lainnya. Bahkan tradisi ini ada di seluruh area pedesaan di Sampang. #Tradisi_Rasol #Budaya_Madura #Kearifan_Lokal #Sampang

Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Budaya Madura: Tradisi Rasol di Kampung Lémbung Sarat Makna Luhur
  • Budaya Madura: Tradisi Rasol di Kampung Lémbung Sarat Makna Luhur
  • Budaya Madura: Tradisi Rasol di Kampung Lémbung Sarat Makna Luhur
  • Budaya Madura: Tradisi Rasol di Kampung Lémbung Sarat Makna Luhur
  • Budaya Madura: Tradisi Rasol di Kampung Lémbung Sarat Makna Luhur
  • Budaya Madura: Tradisi Rasol di Kampung Lémbung Sarat Makna Luhur

Posting Komentar