Jalur Tercepat Menuju 5 Warung Instagramable di Trawas, Nikmati Perjalanannya!

Jalan raya area pedesaan dengan kanan dan kirinya terdapat hamparan sawah
Ilustrasi jalan menuju Trawas

tintanesia.com - Pagi di Lamongan selalu terasa berjalan lebih pelan daripada biasanya. Cak, bahkan sebelum matahari benar-benar tinggi, beberapa warung kopi sudah dipenuhi obrolan kecil yang terdengar samar bercampur suara motor para pekerja yang lalu-lalang di jalan utama.

Sementara itu, aroma kopi hitam dan gorengan hangat seperti ikut menahan orang untuk duduk sedikit lebih lama sebelum kembali sibuk dengan urusannya masing-masing. Dari suasana sederhana seperti itulah perjalanan menuju Trawas dimulai, bukan dengan tergesa-gesa, melainkan dengan perasaan santai yang pelan-pelan ikut terbawa sepanjang jalan.

Tidak lama setelah motor dinyalakan, udara pagi langsung terasa mengenai wajah dengan hawa yang masih cukup bersahabat. Karena itu, perjalanan keluar kota pun terasa ringan, apalagi jalur tercepat menuju Trawas dari Lamongan, memang cukup nyaman untuk kendaraan roda dua. Biasanya pengendara memilih arah Duduksampeyan, kemudian lanjut ke Cerme, Menganti, Krian, hingga Mojosari.

Demikian itu, selain karena akses jalannya cenderung lurus, perjalanan sekitar 1,5 sampai 2 jam juga masih terasa pas untuk dinikmati tanpa harus terlalu lelah di jalan.

Jalan Panjang yang Perlahan Mengubah Suasana

Awalnya jalanan masih dipenuhi hamparan sawah luas yang terbentang di sisi kanan dan kiri. Sesekali terlihat truk besar melaju pelan, sambil meninggalkan suara mesin berat yang menggema cukup panjang di jalanan pagi.

Namun, semakin jauh meninggalkan pusat Lamongan, suasana perlahan berubah menjadi lebih ramai. Deretan toko bangunan mulai bermunculan, kemudian disusul bengkel motor kecil, penjual buah pinggir jalan, hingga warung kopi sederhana yang asap dapurnya sesekali terlihat mengepul ke udara.

Perubahan suasana itu memang tidak terasa tiba-tiba, melainkan datang pelan seperti alur perjalanan yang sengaja dibuat santai. Karena itulah perjalanan menuju Trawas sering terasa menyenangkan, meskipun tujuan masih cukup jauh di depan.

Mata seperti selalu punya sesuatu untuk dilihat. Kadang ada bapak-bapak membawa rumput setinggi badan di belakang motor, kemudian beberapa anak sekolah terlihat bercanda sambil menunggu jemputan di pinggir jalan. Sementara itu, penjual gorengan mulai sibuk melayani pembeli pagi sehingga aroma minyak hangat sesekali ikut terbawa angin sepanjang perjalanan.

Dari sana suasana hati juga ikut berubah perlahan. Jalan yang tadinya terasa biasa saja, mendadak menjadi lebih hidup karena perjalanan tidak hanya tentang berpindah tempat, tetapi juga tentang menikmati potongan-potongan kecil kehidupan yang dilewati di sepanjang jalan.

Krian yang Padat, Mojosari yang Mulai Teduh

Memasuki kawasan Krian, ritme perjalanan mulai berubah lagi. Kendaraan terlihat semakin padat, lampu merah terasa sedikit lebih panjang, lalu suara klakson sesekali bersahutan dari berbagai arah. Meski begitu, suasana seperti itu justru membuat perjalanan terasa lebih nyata karena jalanan sedang berada di fase paling sibuk sebelum akhirnya berganti dengan udara pegunungan yang jauh lebih tenang.

Karena perjalanan masih cukup panjang, banyak pengendara biasanya memilih berhenti sejenak di sekitar Krian. Ada yang sekadar mengisi bensin, ada pula yang duduk santai sambil membeli minuman dingin sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Setelah itu, motor kembali diarahkan menuju Prambon lalu masuk Mojosari, dan dari titik itulah suasana mulai berubah secara perlahan.

Pohon-pohon di tepi jalan mulai terlihat lebih rapat. Selain itu, udara yang tadi terasa hangat perlahan berubah lebih adem. Sementara langit pegunungan mulai muncul samar di kejauhan, seperti sedang menyambut siapa saja yang datang dari bawah kota. Perubahan kecil seperti itu memang sederhana, tetapi justru membuat perjalanan terasa semakin nikmat, karena suasana jalan berubah tanpa terasa.

Lampu merah Mojosari pun sering dianggap seperti gerbang tidak resmi menuju Trawas. Dari sana pengendara biasanya memilih jalur Ngoro dan Watukosek, hal itu karena akses jalannya lebih lebar serta tanjakannya terasa lebih nyaman untuk motor. Sementara itu, suasana perjalanan juga mulai berubah total, karena kawasan kota perlahan tertinggal jauh di belakang.

Tanjakan Panjang dan Udara Gunung yang Mulai Turun

Selepas kawasan Watukosek, perjalanan mulai memasuki bagian yang paling sering dirindukan banyak orang. Jalan menanjak muncul perlahan, kemudian tikungan demi tikungan mulai menemani perjalanan menuju kawasan Trawas. Karena jalurnya khas pegunungan, motor sesekali harus turun gigi rendah, pastinya suara mesin terdengar sedikit lebih berat ketika melewati tanjakan panjang.

Namun justru di bagian seperti itulah suasana perjalanan terasa semakin hidup. Udara dingin mulai turun perlahan hingga terasa jelas di tangan dan wajah, lalu aroma tanah serta pepohonan sesekali datang terbawa angin yang bergerak cukup cepat dari arah lereng gunung. Bahkan di beberapa titik, kabut tipis terlihat menggantung santai di sela pohon besar pinggir jalan sehingga perjalanan terasa seperti bergerak lebih lambat dari biasanya.

Karena suasananya terlalu sayang dilewatkan begitu saja, banyak pengendara akhirnya memilih berhenti sebentar di warung kecil sekitar tanjakan. Tempatnya memang sederhana, tetapi justru suasana itulah yang membuat semuanya terasa nyaman. Secangkir kopi hitam, teh hangat, dan gorengan sederhana mendadak terasa luar biasa nikmat ketika dinikmati sambil melihat lereng hijau yang terbentang luas di depan mata.

Sementara itu, obrolan kecil antar pengendara biasanya mulai muncul dengan sendirinya. Ada yang membahas kondisi jalan, ada yang berbagi rekomendasi tempat singgah, lalu ada juga yang sekadar tertawa kecil sambil menikmati udara dingin pegunungan. Meskipun tidak saling mengenal, suasana seperti itu tetap terasa akrab karena semua orang sedang menikmati perjalanan yang sama.

Menikmati 5 Warung Instagramable di Trawas

Setelah perjalanan panjang yang penuh perubahan suasana tadi, kawasan Trawas akhirnya terasa seperti hadiah kecil yang menyenangkan. Udara menjadi jauh lebih dingin, pepohonan terlihat semakin rapat, lalu tempat-tempat ngopi estetik mulai bermunculan di sepanjang jalan pegunungan.

Salah satu yang paling sering dicari tentu Gartenhütte. Kaffee und Aussicht karena tempat ini punya view pegunungan yang terasa luas dan menenangkan. Terlebih lagi, area outdoor-nya membuat suasana sore terasa semakin nyaman ketika kabut mulai turun perlahan di antara udara dingin khas Trawas.

Tidak jauh dari sana, ada juga Dimension Coffee Trawas yang suasananya lebih modern dan cocok buat nongkrong sampai malam. Selain tempatnya nyaman, suasana dingin pegunungan yang bercampur lampu-lampu malam membuat obrolan sederhana terasa betah berlangsung lebih lama.

Sementara itu, Alas Trawas menawarkan suasana yang lebih hijau dan dekat dengan alam. Area outdoor-nya cukup luas sehingga pengunjung bisa menikmati udara pegunungan sambil mendengar suara pepohonan bergerak pelan tertiup angin.

Kemudian ada Estusae Cafe Trawas yang punya suasana lebih tenang dengan view kaki gunung yang terasa adem dipandang. Tempat ini sering dipilih untuk menikmati malam dengan suasana santai tanpa terlalu banyak keramaian.

Lalu, perjalanan biasa ditutup di Temu Tawa Trawas Cafe & Resto yang suasananya lebih kalem dan nyaman buat duduk lama. Tempat ini terasa pas untuk mengakhiri perjalanan karena atmosfernya hangat, santai, dan membuat orang malas cepat-cepat turun gunung.

Perjalanan yang Rasanya Selalu Ingin Diulang

Pada akhirnya, perjalanan menuju Trawas memang bukan sekadar soal rute tercepat, biaya perjalanan, atau soal naik apa agar cepat sampai. Justru jalan panjang yang berubah perlahan, udara dingin yang datang sedikit demi sedikit, hingga warung kecil di pinggir tanjakanlah yang membuat perjalanan terasa hidup dan sulit dilupakan.

Kadang perjalanan sederhana memang punya cara sendiri untuk membuat pikiran terasa lebih ringan. Tidak perlu suasana mewah atau perjalanan mahal, karena: suara motor, jalan pegunungan, udara dingin, dan secangkir kopi hangat di Trawas sudah cukup membuat hari terasa berjalan jauh lebih tenang dari biasanya.*

Penulis: Fau #Jalur_ke_Trawas #Warung_Kopi_Trawas #Lamongan_Trawas

Baca Juga
Posting Komentar
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad