Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

Potensi Besar, Mengapa Ekonomi Madura Masih Tak Maksimal?

Penjual kopi dan es di Madura dengan warung kecil sederhana
Ilustrasi pedagang kecil di Madura

Tintanesia - Saat pagi di Madura, kerap dimulai tanpa banyak kata. Perahu-perahu kecil berangkat ke laut, membawa hasil yang tak selalu pasti. Di sisi lain, ada petak-petak tambak garam yang menunggu matahari cukup tinggi untuk bekerja. Adapun di pasar, ibu-ibu membuka lapak sederhana yang didalamnya ada hasil bumi, ikan segar dan olahan rumahan yang dibuat sejak subuh. Sebenarnya tak ada istimewa, artinya semuanya berjalan seperti biasa, namun justru di situlah kehidupan ekonomi Madura berdenyut.

Bahkan sebagian besar aktivitas ekonomi di Marura masih bertumpu pada hal-hal yang sudah lama di kenal. Masing-masing garam, hasil laut, dan usaha kecil. Jadi pekerjaan tersebut semacam telah dipahami sejak dulu. Sehingga bisa dipastikan hal ini berjalan stabil.

Dalam cara yang lebih luas, apa yang terjadi di Madura ini pernah dijelaskan oleh W. Arthur Lewis dalam bukunya The Theory of Economic Growth (1955). Yakni di menguraikan, jika ekonomi di wilayah berkembang cendrung terbagi antara sektor tradisional yang menyerap banyak tenaga kerja namun produktivitas rendah dan sektor modern.

Jadi gambaran terkait sektor tradisional itu terasa dekat dengan perekonomian di pulau garam. Di Madura, banyak orang bekerja di sektor seperti pertanian garam, perikanan, dan usaha kecil. Tentunya tiga hal ini padat tenaga kerja, namun hasilnya sering tidak memberikan lonjakan pendapatan yang berarti. Bisa dikatakan, bahwa ekonomi tetap bergerak, tetapi sulit melompat jauh.

Misalnya, petani garam yang sangat bergantung pada cuaca. Nah saat musim mendukung, hasilnya tergolong cukup. Namun saat hujan, produksi langsung terganggu. Hal demikian tak luput juga dialami oleh nelayan Madura, yakni tidak hanya bergantung pada laut, tetapi harga pasar yang sulit diprediksi juga menjadi kendala yang sukar ditangani. 

Tak terkecuali UMKM di Madura seperti warung kecil, produksi makanan ringan, dan kerajinan tangan. Yakni, skalanya kecil dan sulit naik kelas. Jadi semacam banyak pelaku usaha yang memilih tetap berjalan ketimbang mengembangkan lebih lebar.

Dan jika direnungi hal itu bukan pada kurangnya usaha, melainkan lebih pada nilai tambah. Jadi begini kasarannya, garam dijual sebagai bahan mentah. Ikan dijual segar tanpa modifikasi atau diolah. Sedangkan produk lokal kerap kali berganti di tahap dasar, tanpa inovasi yang cukup untuk meningkatkan harga jual. Akibatnya, keuntungan terbesarnya justru sering dinikmati oleh pihak lain yang mengolah atau mendistribusikan lebih lanjut.

Hal ini juga pernah dibahas Simon Kusnets dalam bukunya Modern Economic Growth: Rate, Structure, and Spread: (1966). Menurut dia, pertumbuhan ekonomi tidak hanya soal bertambahnya aktivitas, tetapi juga berkenaan dengan perubahan struktur, yakni sektor tradisional menuju sektor yang lebih modern dan produktif.

Di Madura, perubahan seperti itu belum terasa kuat. Industri pengolahan masih terbatas, dan banyak produk dijual dalam bentuk mentah. Modernisasi memang mulai muncul, tapi berjalan perlahan dan belum merata.

Kendati demikian, bukan tidak ada usaha perbuhan dari sama sekali di daerah Madura ini. Bahkan ada beberapa usaha telah mencoba hal baru: pengemasan lebih menarik, pemasaran lewat media sosial, atau mencoba menjangkau daerah kain. Namun jumlahnya masih sedikit ketimbang keseluruhan pelaku usaha.

Di sisi lain, ada hal yang tak bisa diabaikan, yakni, ketahanan masyarakatnya. Terus terang soal orang Madura itu, memang terkenal ulet. Mereka tidak mudah menyerah, bahkan ketika kondisi ekonomi tidak selalu menguntungkan. Terbukti juga, pada meraka (Orang Madura) yang merantau, membuka usaha di luar daerah, dan berhatahan di sektor informal.

Berkanaan dengan perantau, tentu menjadi jaringan yang unik terutama bagi orang Madura. Ada semacam solidaritas yang membantu satu sama lain, meski tidak selalu terlihat dari luar. Namun kekuatan ini lebih bersifat individual dan sosial, bukan sistematik.

Jika ditelaah agak dalam, di sinilah letak paradomnya. Yakni masyarakatnya kuat, tetapi sistem pendukungnya belum sepenuhnya hadir. Kemudian akses terhadap modal masih terbabatas. Lalu pelatihan usaha belum merata. Serta jalur distribusi tak gampang dihadapi. Akibatnya, banyak potensi yang berjalan sendiri-sendiri tanpa arah yang terintegrasi.

Padahal, jika dilihat lebih luas, Madura memiliki banyak hal untuk dikembangkan. Yakni garam sebagai komoditas utama, hasil laut yang melimpah UMKM yang tersebar di banyak titik, hingga potensi wisata yang mulai dilirik. Ditambah lagi akases yang semakin terbuk sejak adanya jembatan Suramadu (Penghubung Surabaya dengan Madura).

Namun potensi saja tidak cukup. Tanpa pengelolaan yang terarah, potensi hanya akan tetap menjadi kemungkinan semata. Tanpa arah yang jelas, bisa dipastikan branding produk tidak akan maksimal, dan investasi belum masuk secara signifikan. Terlepas dari itu, sebenarnya, banyak produk yang kayak bersaing. 

Dalam keseharian, semua ini tidak selalu terasa sebagai masalah besar. Sebab hingga kini, banyak orang yang tetap bekerja, pasar berjalan, aktivitas ekonomi masih terus berlangsung. Meski begitu, semacam ada hal yang belum tergarap sepenuhnya. 

Sebenarnya ekonomi Madura bukan tidak bergerak. Hanya saja pergerakan itu pelan dan cenderung berulang. Jadi semacam tidak ada lompatan besar, karena fondasinya masih berada di sektor yang sama. Atau bisa dikatakan, bahwa, transformasinya masih belum kuat untuk mengubah segalanya secara signifikan. 

Ekonomi Madura bukan lemah. Hanya saja belum sampai pada tahap kekuatan yang benar-benar terkumpul dan terarah. Sebenarnya potensi di sana itu banyak, jadi tingga nunggu cara yang tepat agar berjalan dengan lebih jauh. 

Penulis: Fau #Ekonomi_Madura #UMKM_Madura #Sektor_Tradisional #Transformasi_Ekonomi

Baca Juga
Posting Komentar
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad