Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

Mengungkap Sisi Lain Alun-Alun Trunojoyo Sampang, Realita Ekonomi Pedagang Kecil

Pedagang kecil di Alun-alun Trunojoyo Sampang sedang berjualan
Pedagang kecil di Alun-alun Trunojoyo Sampang Madura. (Tintanesia/Fau)

Tintanesia - Mulai dari sore hari, Alun-alun Trunojoyo Sampang Madura seperti ruang yang disiapkan banyak orang. Anak-anak berlarian di antara trik matahari, beberapa orang duduk santai sambil menikmati pentol, es atau kopi. Serta langkah pengunjung lain menambah alunan musik harian yang sulit tergantikan.

Sementata jika dipandang, Alun-alun Trunojoyo Sampang ini tampak rapi, terjaga seolah menghadirlan kesan bahwa ruang publik bisa menjadi tempat yang nyaman bagi siapa saja yang berkunjung.

Situasi seperti sama dengan penegasan Bupati setempat, Selamet Junaidi di berbagai kesempatan. Yakni, Alun-alun Trunojoyo Sampang harus menjadi ruang yang aman dan tertib, sehingga memberikan kenyamana bagi masyarakat yang datang.

Terlepas dari ungkapan Bupati yang akrab dengan sapaan Aba Idi ini hal unik. Yakni ketika berjalan sedikit lebih pelan, maka kita menemukan kehidupan kecil yang ikut bergerak di sana. Pasalnya di sisi lain alun-alun ini, lebih tepatnya di antara bangku taman dan jalur kaki, terdapat gerobak-geeobal kecil sederhana.

Di balik grobak-grobak itu ada penjual yang menunggu pembeli dengan sabar. Mereka bisa diurai, yaitu ada yang menjual pentol, es Jus, gorengan dan aneka makanan penjanggal perut lainnya. Bagi mereka, alun-alun tidak hanya tempat orang beristirahat, melainkan ruang untuk bertahan hidup.

Jadi bisa dikatakan, bahwa keramaian bagi sebagian orang terasa biasa, bagi pedagang kecil menjadi sesuatu yang menentukan. Setiap pengunjung yang datang, membawa kemungkinan besar harapan, meski tidak berakhir teransaksi dengan mereka.

Mereka menggantungkan harapan pada langkah-langkah manusia yang melintas, berharap ada yang berhenti, memesan, lalu memberi sedikit penghasilan untuk hari itu.

Kendatipun demikian, tidak semua hari berjalan sama. Yakni ada waktu ketika alun-alun ramai dan dagangan cepat habis, namun juga ada waktu yang terasa panjang dengan pembeli yang datang sedikit, bahkan nyaris berhenti untuk bertransaksi.

Coba kita bayangkan berada di posisi mereka; menungu tanpa kepastian, menghitung hasil sambil berdiri, dan mencoba tetap tenang di tengah hasil yang jauh dari target awal.

Apalagi modal yang mereka bawa tidak besar, bahkan seringkali tidka cukup untuk memulai hari selanjutnya. Bahkan jika dagangan tidak laku, kerugian menjadi sesuatu yang harus diterima tanka banyak pilihan. Nah dalam keadaan seperti itu, harapan tidak harapan tidak benar-benar hilang, namun juga tidak pernah terasa pasti.

Di samping itu, ada upaya untuk menjaga alun-alun tetap tertib dan nyaman, seperti yang diharapkan  Abah Idi, yakni ruang publik tersebut harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi semuanya.

Kehidupan mereka (Pedagang) berjalan diantara harapan dan ketidak pastian. Tidak ada jaminan penghasilan tetap, bahkan jauh dari kepastian untuk esok hari. Sementara kebutuhan hidup terus berputar sepanjang waktu.

Di balik kebutuhan itu, ada rumah yang mungkin berkenaan dengan biaya anak sekolah, dapur harus mengepul, serta kebutuhan pokok lainnya. Nah, itulah yang membuat mereka bertahan sambil menyingkirkan rasa lelah.

Sedangkan di balik peristiwa rumit soal dagangan itu, ada uang yang harus dibawa pulang dan perasaan yang sulit dijelaskan. Kemungkinan m ada rasa lega saat dagangan habis, lalu terdapat cemas ketika hasil yang tidak cukup, kemudian ada lelah yang tidak bisa diistirahatkan dengan tidur.

Pagi berikutnya tetap dagang tanpa absesn, dan bersama itu keputusan untuk kembali berjualan diambil. Jadi seolah hidup tidak memberi jeda yang panjang untuk bernafas.

Dan peristiwa saat malam mulai naik, satu persatu pedagang mulai merapikan barangnya. Sebagian pulang dengan perasaan cukup, sementara sebagiannya lagi mungkin membaw kegelisahan yang sulit diceritakan. Alun-alun perlahan kembali sepi, lampu-lamlu tetap menyala, lalu kehidupan yang mukanya ramai reda perlahan.

Membahas alun-alun Trunojoyo Sampang, kita mungkin hanya melihat sebagai tempat singgah untuk melepas penat sejenak. Namun bagi sebagian orang lokasi tersebut termasuk tempat menggantungkan harapan meskipun tidak memberi kepastian.* 

Penulis: Fau #Pedagang_Kecil_Sampang #Alun_alun_trunojoyo_Sampang #Ekonomi_Rakyat #Kehidupan_Pedagang_Desa #Realita_Ekonomi_Sampang

Baca Juga
Posting Komentar
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad