Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

Mudik itu Cara Hati Menemukan Jalan Pulang ke Desa

Pengendara sedang perjalanan mudik dari kota ke desa
Perantau sedang perjalanan mudik dari kota ke desa. (Tintanesia/Fau)

Tintanesia - Kamu pernah melihat jalanan padat tidak seperti hari-hari biasa? Biasanya momen ini terjadi pada momen besar seperti menjelang hari raya Idul Fitri. Meraka, pengendara yang memadati jalan raya adalah pemudik yang ingin menuntaskan rindu pada rumah di desa. Yakni sebagian besar menyebut itu mudik.

Berkenaan dengan mudi ini tidak hanya tentang perpindahan seseorang atau kelompok orang dari kota ke desa. Tetapi semacam pergerakan batin yang sulit di definisikan atau dijelaskan dengan bahasa. Namun begitu, bagi mereka perjalanan tersebut tidak hanya untuk sampai ketujuan semata, melainkan guna merasakan sesuatu yang pernah ditinggalkan sebelumnya.

Bagi perantau baik lintas kabupaten, pulau atau pun provinsi, desa termasuk awal dari segala hal. Sebab di sanalah mereka pertama kali mengenal kehidupan. Sehingga sejauh apapun mereka pergi, pasti akan ada dorongan untuk pulang ke desa.

Membahas tentang mudik ini, Tintanesia mengingat isyarat dari Jalaluddin Rumi, yaitu dia berkata, setiap perjalanan pada akhirnya adalah usaha agar bisa kembali.

Sementara desa sendiri adalah tempat sangat pas untuk berdiam diri dari hiruk lilik kota yang membuat kita sering lupa bernafas dengan tenang. Kampung halaman ini tidak pernah berubah dalam menyambut batin. Dibsana tidak ada tuntutan yang berat dan tergesa-gesa.

Mengingat itu, Emha Ainun Najib penah menggambarkan, bahwa kampung selalu memili cara sederhana untuk menerima siapa saja yang datang.

Sedangkan bagi perantau, pasti ada rindu pada rumah yang tidak akan benar-benar rampung dieja. Kerinduan itu muncul diam-diam, lalu menghilang sebelum sempat kita pahami. Seperti yang pernah diurai Kahlil Gibran, yakni, rumah bukan hanya soal tempat, melainkan sesuatu yang hidup di dalam hati.

Ketikan akhirnya pulang, yang kita temui justru bukan kenangan. Sebab ada perubahan pada desa atau pun kita ssendir yang pelan-pelan menjadi kegelisahan. Hal itu sesuai dengan kisah-kisah Ahmad Tohari, yaitu tentang desa yang selalu menjadi ruang menyimpan perubahan tanpa kehilangan jejak masa lalu.

Jadi, kadang kita akan menemukan jalan yang dulunya panjang, namun kini justru lebih singkat. Kemudian wajah-wajah yang dulunya akrab, kini terliagt berbeda karena waktu. Situasi seperti itu tentu akan membuat kita sadar yakni yang berubah tidak hanya tempat, tetapi juga wajah bahkan diri sendiri.

Maka dari itu banyak yang mengatakan jika mudik itu adalah momentum yang tidak sederhana, bahkan tidak hanya pertemuan dengan ingatan dan perasaan yang lama tersimpan. Jadi semacam ada kehangatan yang berdampingan dengan jarak yang sukar diurai.

Dalam mudik atau lebih tepatnya perjalanan pulang itu, kita semacam dikasih waktu untuk berhenti dan diam sejenak. Lalu melihat kembali kehidupan yang dijalani, keputusan yang diampul, bahkan arah yang belum sepenuhnya jelas sekalipun. Pasalnya semua itu hadir tanpa perlu dipaksa untuk dimengerti.

Mungkin jika diterka, mudik tidak hanya tentang menemukan jawaban. Tetapi berkenan dengan merasakan kembali apa yang sering diabaikan. Nah, di tengah perjalanan tersebut, kita boleh berhenti sejenak kemudian duduk bersama diri sendiri tanpa harus menjelaskan apapun.

Setelah itu kita akan merasakan jawaban yang jarang ditemukan, yakni, mudik adalah cara hati menemukan jalan menuju diri sendiri. Jadi kita akan kembali tidak hanya ke desa, tetapi pada sesuatu yang lebih dalam dari tempat. Nantinya juga, kita akan menyadari jika pulang tidak selalu berarti tiba tapi kembali untuk mengingat.*

Penulis: Fau #Mudik #Refleksi_Kehidupan #Desa #Kehidupan_Indonesia #Pulang_ke_Desa

Baca Juga
Posting Komentar
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad