![]() |
| Mobil melintas di jalan raya Surabaya: menandakan aktivitas yang menuntut cepat. (Tintanesia/Fau) |
Tintanesia - Pagi di Surabaya sering dimulai dengan bunyi yang tergesa. Klakson saling bersahut, motor berdesakan di lampu merah, dan orang-orang melangkah cepat seolah waktu selalu kurang. Kita terbiasa melihatnya sebagai pemandangan biasa. Bahkan, mungkin kita juga bagian dari itu. Bangun dengan rencana penuh, berangkat dengan target, pulang dengan sisa lelah yang disimpan rapi.
Di sela-sela rutinitas itu, kadang muncul satu rasa yang sulit diberi nama. Bukan sedih, tapi juga bukan tenang. Seperti ada dorongan halus yang terus menyuruh kita bergerak, walau tubuh dan pikiran belum tentu siap. Kita tetap melaju, karena berhenti terasa aneh. Pertanyaannya sederhana, tapi jarang diberi waktu: mengapa hidup sering terasa harus dipaksakan?
Di kota yang hidup dari pagi sampai malam, kesibukan sering dianggap ukuran kewajaran. Seakan kehidupan membiarkan kita belajar menyesuaikan diri. Masuk kerja tepat waktu, menahan kantuk, menelan kesal di jalan. Semua dilakukan tanpa banyak bertanya. Lama-lama, kebiasaan ini membentuk cara kita memandang hidup. Seolah lelah adalah harga yang wajar, dan rasa tidak nyaman adalah bagian yang tak perlu dibicarakan.
Namun, ada momen kecil yang kadang menyela. Saat duduk di warung kopi pinggir jalan, melihat orang asing menunggu hujan reda. Saat lampu merah terlalu lama, dan kita terpaksa diam. Di saat-saat itu, kesibukan seperti diberi jarak. Kita menyadari napas sendiri, suara sekitar, dan rasa letih yang selama ini ditahan. Tidak ada perubahan besar, hanya kesadaran singkat bahwa kita sudah berlari cukup jauh.
Mungkin hidup yang sering dipaksakan tidak selalu datang dari tuntutan besar. Ia bisa muncul dari kebiasaan kecil yang terus diulang. Mengiyakan hal-hal yang sebenarnya ingin ditunda. Tersenyum ketika ingin diam. Berpura-pura kuat karena merasa itu yang seharusnya. Kita melakukannya bukan karena salah, tapi karena ingin tetap berjalan bersama dunia.
Di sisi lain, Surabaya juga menyimpan irama yang lebih pelan. Di gang sempit yang sore hari diisi anak-anak bermain. Di teras rumah tempat orang tua duduk tanpa banyak bicara. Di situ, hidup tidak terlihat dikejar-kejar. Tidak ada target, tidak ada pembuktian. Hanya keberadaan yang sederhana. Kita mungkin jarang menyadarinya, karena perhatian kita sudah habis untuk hal lain.
Refleksi ini tidak ingin mengubah apa pun secara cepat. Tidak juga ingin menyalahkan kesibukan atau memuja ketenangan. Keduanya nyata dan hadir bersamaan. Yang terasa penting justru pengakuan kecil bahwa kita tidak selalu paham dengan apa yang sedang kita jalani. Bahwa kebingungan, ragu, dan lelah bukan tanda gagal, melainkan tanda manusia.
Di akhir hari, ketika kota mulai meredup dan suara pelan-pelan berkurang, kita mungkin masih membawa beban yang sama. Hidup belum tentu menjadi lebih ringan. Tapi ada kemungkinan kecil, bahwa kita lebih sadar sedang memikul apa. Tidak untuk segera dilepas, hanya untuk dikenali.
Dan mungkin, di antara langkah-langkah yang tetap harus dijalani, kita memberi ruang sejenak. Bukan untuk berhenti, bukan untuk memperbaiki diri. Hanya untuk hadir, dan membiarkan hidup berjalan tanpa selalu harus dipaksakan.*
Penulis: Fau
#Refleksi #Tintanesia #Surabaya #Hidup_Sederhana #Kesadaran_Diri
