![]() |
| Individu berkacamata membaca buku dengan penuh konsentrasi, menampilkan suasana belajar sederhana dan fokus intelektual. (Gambar oleh Martine dari Pixabay) |
Tintanesia - Setiap hari, banyak orang membuka mata dengan melihat layar gawai. Informasi datang sangat cepat melalui video pendek, pesan singkat, dan media sosial. Tanpa disadari, kebiasaan membaca buku mulai tersingkir dari kehidupan sehari-hari.
Di rumah, di kendaraan umum, atau di tempat istirahat perhatian sering berpindah-pindah. Jadi seolah-olah pikiran tidak sempat berhenti pada satu hal. Akibatnya, membaca yang tenang terasa semakin jarang dilakukan.
Padahal, literasi tidak hanya berkenaan dengan hanya bisa membaca saja. Melainkan, suatu cara memahami hidup dengan lebih sadar. Bahkan bisa dikatakan, melalui kebiasaan membaca yang sederhana, kualitas hidup dapat tumbuh perlahan.
Budaya Literasi di Tengah Dunia Digital
Perkembangan teknologi membuat informasi mudah diakses kapan saja. Banyak hal bisa diketahui hanya dalam hitungan detik. Namun kemudahan ini, juga membawa tantangan bagi kebiasaan membaca secara mendalam.
1. Siapa yang Mengalami Perubahan Literasi?
Perubahan budaya literasi dialami oleh hampir semua orang. Pelajar, orang tua, dan pekerja sekali pun juga menghadapi arus informasi yang sama. Artinya, tidak ada kelompok yang benar-benar bebas dari pengaruh layar.
Hanya saja, remaja menjadi kelompok yang paling sering menggunakan gawai. Yakni berkutik pada pelajaran, hiburan, bahkan komunikasi pun dilakukan melalui layar. Sehingga imbasnya, waktu membaca buku menjadi semakin sedikit.
Orang dewasa juga mengalami hal serupa. Rasa lelah setelah bekerja membuat hiburan visual terasa lebih mudah. Dampaknya, kebiasaan membaca perlahan mulai ditinggalkan.
2. Apa yang Terjadi pada Kebiasaan Membaca?
Kebiasaan membaca tidak hilang, tetapi berubah bentuk. Banyak orang lebih memilih bacaan singkat. Teks panjang sering dianggap melelahkan.
Akibatnya, pemahaman menjadi dangkal. Informasi diterima tanpa dipikirkan lebih jauh. Kemudian waktu untuk merenung semakin jarang tersedia.
Kita blak-blakan saja soal ini, yakni, kondisi tersebut memengaruhi cara berpikir. Bahkan menurut pengamatan Tintanesia, tidak sedikit dari mereka yang suka nonton algoritma singkat kesulitan saat memahami masalah. Hal itu karena pikiran yang terbiasa dengan jawaban cepat.
3. Kapan Perubahan Ini Terlihat Jelas?
Perubahan ini terasa jelas dalam sepuluh tahun terakhir. Yakni saat media sosial berkembang sangat cepat. Mereka tidak sadar waktu luang banyak diisi dengan aktivitas digital.
Pagi dan malam menjadi waktu yang paling terpengaruh. Banyak orang langsung melihat gawai setelah bangun tidur. Sebelum tidur, layar kembali menjadi teman.
Kebiasaan ini, pasalnya membentuk pola baru sehingga fokus menjadi mudah terganggu. Imbasnya, membaca lama terasa semakin sulit.
4. Di Mana Tantangan Literasi Terjadi?
Lalu di kota besar, kesibukan menjadi tantangan utama. Perjalanan panjang dan aktivitas padat menyita energi. Hiburan visual dipilih karena terasa lebih ringan.
Sedangkan di desa, akses internet tidak selalu diikuti bacaan yang mendidik. Apalagi kini, konten hiburan lebih mudah ditemukan. Sementara buku dan bacaan berkualitas, masih terbatas.
Kedua kondisi ini menunjukkan hal yang sama. Mengingat literasi tidak hanya soal teknologi, tetapi juga soal pilihan.
5. Mengapa Fokus Sulit Dijaga?
Fokus sangat penting dalam membaca. Tanpa fokus, isi bacaan sulit dipahami. Sedangkan Notifikasi dan konten singkat sering mengganggu perhatian.
Jadi coba kita bayangkan saat kamu membaca buku lalu ada notif di handphone, tentu fokus kita akan terganggu, bukan? Apalagi beberapa tahun terakhir ini, otak kita terbiasa dengan hal cepat. Artinya, proses berpikir mendalam jarang dilatih, sehingga, daya pikir kritis pun perlahan menurun.
Masalah ini sering tidak disadari. Yakni, banyak orang yang merasa sudah membaca banyak hal. Namun, makna yang tertinggal justru sangat sedikit.
6. Bagaimana Menata Literasi Kembali?
Menata literasi dimulai dari kebiasaan kecil. Membaca tidak harus lama, tetapi perlu dilakukan dengan tenang. Waktu singkat yang rutin sudah cukup.
Apalagi saat ini teknologi sangat canggih. Artinya bisa membantu seperti download pdf gile, atau memesan buku online. Buku digital dan artikel bermutu mudah diakses sehingga pilihan bacaan menjadi hal yang paling penting.
Agar membangun minat baca ini terlaksana dengan baik, kita harus memilih lingkungan yang baik. Lewat ruang yang rapi dan tenang, tentu akan membantu konsentrasi. Kebiasaan sederhana semacam ini pasalnya bisa menjaga kejernihan pikiran.
Cara Menumbuhkan Minat Baca
Minat baca tidak tumbuh secara tiba-tiba. Kebiasaan ini perlu dibangun pelan-pelan. Keseimbangan membuat membaca terasa ringan.
1. Menentukan Waktu Membaca
Pagi hari sering menjadi waktu yang tenang. Yakni pikiran masih segar dan belum penuh informasi. Sehingga membaca di waktu ini terasa lebih nyaman.
Malam hari juga bisa dimanfaatkan. Setelah aktivitas selesai, membaca membantu menenangkan pikiran. Sementara pada waktu ini, gawai sebaiknya dijauhkan agar tidak mengganggu.
Yang terpenting adalah keteraturan. Artinya waktu yang sama setiap hari membantu membentuk kebiasaan. Sehingga membaca menjadi bagian dari rutinitas.
2. Memilih Bacaan yang Dekat dengan sehari-hari
Pilihlah bahan bacaan yang dekat dengan pengalaman sehari-hari, karena lebih mudah dipahami. Contohnya cerita sederhana, mungkin, karena sering memberi makna mendalam. Artinya dari itu, tidak semua bacaan harus berat.
Sebenarnya, bahan bacaan itu tidak perlu mengikuti tren. Serta, setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda. Yang penting, kita membaca dengan rasa nyaman bermakna.
Dengan pilihan bahan bacaan yang tepat, tentunya akan lebih terasa menyenangkan. Pikiran menjadi lebih tenang. Proses membaca pun terasa alami.
3. Menggunakan Teknologi dengan Bijak
Sebenarnya menurut hemat pikir Tintanesia, teknologi itu bukan selalu penghalang literasi. Bahkan banyak bacaan berkualitas yang tersedia secara digital loh. Pada intinya, semua kembali pada cara penggunaan.
Sedangkan notifikasi yang tidak dirasa tidak penting, ternyata bisa dibatasi. Bahkan waktu layar dapat diatur. Nah, langkah kecil ini membantu menjaga fokus.
Sehingga bisa dipastikan, melalui keseimbangan, teknologi dan membaca bisa berjalan bersama. Artinya, keduanya saling mendukung dalam kehidupan sehari-hari.
Reflektif: Kenapa Membaca Harus Ditata?
Dalam kehidupan yang sibuk, membaca sering dianggap tidak penting. Padahal kita sama-sama tahu, bahwa membaca memberi ruang untuk berhenti sejenak. artinya bisa memberikan pikiran untuk beristirahat dari hiruk-pikuk.
Literasi tidak tumbuh dari paksaan, Melainkan dari kesadaran. Artinya setiap orang memiliki cara sendiri untuk memulainya.
Sebagai penulis, Tintanesia pernah merasakan, kadang muncul gelisah karena jarang membaca saat membuka buku. Namun apabila dilaksanakan secara berulang, maka akan ada kebutuhan yang belum terpenuhi jika tidak mengkonsumsi bacaan.
Oh, sebenarnya tidak semua bacaan memberikan kepastian, namun segala bahan baca mengajak kita untuk berpikir secara tenang.
Apalagi dalam budaya Nusantara, membaca selalu dekat dengan perenungan. Kok begitu? Coba lihat cerita lama yang mengajarkan kesabaran dan kebijaksanaan. Tentunya nilai ini masih relevan hingga sekarang, bukan?
Membaca membantu melihat hal biasa dengan cara berbeda. Jadi dengan begitu waktu terasa lebih bermakna, dan Informasi tidak sekadar lewat.
Apabila kita ragu untuk mengawali membiasakan membaca, maka ketahuilah bahwa keraguan adalah bagian dari proses belajar. Artinya, tidak semua hal harus dipahami langsung. Serta ingatlah, bahwa semua orang membutuhkan ruang kosong guna memberi kesempatan berpikir.
Ketika membaca menjadi kebiasaan, tentunya hidup terasa lebih seimbang. Tak hanya itu, pikiran pun juga menjadi lebih jernih. Dampaknya sikap terhadap informasi menjadi lebih hati-hati.
Pada akhirnya, literasi adalah perjalanan yang tenang. Yakni dalam keheningan membaca, makna hidup perlahan terbentuk. Dari sanalah kualitas hidup bertumbuh.
Menata budaya literasi di era digital akan membantu kita dalam menjaga keseimbangan hidup. Tentunya dengan kebiasaan membaca yang sederhana yang dapat menumbuhkan kejernihan berpikir. Apalagi berbagai kabar yang kita cerna perlahan dengan tenang, akan membentuk kehidupan yang lebih bermakna. Terimakasih, selamat membaca.*
Penulis: Fau #Literasi #Budaya_Literasi #Era_Digital #Minat_Baca #Budaya_Literasi_Digital
