Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

Di Balik Kolom yang Ramai di Medsos

Ilustrasi ketegangan warga kampung dan konten kreator dalam diskusi dampak komentar media sosial di balai RW.
Ilustrasi suasana tegang antara warga kampung dan konten kreator saat membahas dampak komentar ekstrem di media sosial. (Ilustrasi dibuat dengan AI Co-pilot/Tintanesia)

Tintanesia: Kisah Inspirasi

Ruangan balai RW terasa sempit meski kursi belum terisi penuh. Udara menggantung berat, bercampur bau kayu tua dan kertas lembap, sementara beberapa warga saling melempar pandang tanpa kata, seolah menimbang apa yang pantas diucapkan dan apa yang sebaiknya ditahan.

Sebuah ponsel tergeletak di atas meja, layarnya menyala lalu redup kembali, memantulkan cahaya singkat ke wajah-wajah yang tegang. Tidak ada suara yang mendahului, namun semua orang tahu percakapan yang akan dimulai bukan sekadar klarifikasi, melainkan pertaruhan harga diri yang sudah terlanjur terseret ke ruang digital.

Penulis: Fau

“Konten itu merendahkan warga kampung, bahkan rekaman itu udah beredar ke mana-mana,” kata seorang pria di balai RW sambil menahan nada, rahangnya mengeras dan kedua tangannya saling menggenggam di atas meja kayu yang kusam.

“Gambar diambil di gang depan warung, tidak ada niat mempermalukan,” jawab Nara dengan suara tertahan, bahunya sedikit terangkat seolah menahan beban. Lalu sambil mengerutkan dahi dan mengalihkan pandangan ke sudut ruangan.

“Niat tidak selalu terbaca, akibatnya sudah terasa,” sahut Ketua RW sambil menggerakkan tangan kanan dengan telapak terbuka, tubuhnya condong ke depan untuk menegaskan sikap.

Percakapan terhenti sejenak ketika ponsel Nara bergetar, tergeletak di atas pangkuannya. Layar menampilkan deretan komentar yang terus bertambah, sebagian bernada keras dan menyebut nama kampung dengan cemooh hingga membuat napas Nara tertahan.

“Warga disebut bahan tontonan, lihat saja kolom itu,” ucap pria yang memperkenalkan diri sebagai Bima sambil mengangkat dagunya tipis, sorot matanya mengarah langsung ke Nara.

Ketegangan menyebar di ruangan sederhana itu, terasa di antara kursi plastik yang berderit pelan. Sementara Raka duduk di sudut, punggungnya bersandar ke dinding, mencatat kata-kata yang terlepas tanpa disaring dengan pulpen yang bergerak cepat.

Realitas Konten dan Harga Diri Lokal

“Video itu mengangkat kebiasaan unik, cuma cerita kecil sering terlupakan,” ujar Nara setelah menarik napas panjang, jemarinya saling mengait di depan dada.

“Unik bagi penonton kota, bagi warga kebiasaan adalah harga diri,” balas Bima dengan nada mengejek sambil menaikkan sudut bibirnya sebelah.

“Budaya lokal sering berubah makna ketika masuk layar,” Raka menyela dengan nada hati-hati sambil sedikit maju dari sandaran kursi.

“Layar tidak punya rasa, namun orang-orang di baliknya punya perasaan,” kata Ketua RW dengan suara yang mengeras, alisnya bertaut menahan amarah.

Komentar ekstrem kembali berdatangan, ditandai getaran kecil yang terus muncul dari ponsel. Sebagian menuduh Nara mencari uang dari kesederhanaan warga, sementara yang lain memuji keberanian tanpa memahami konteks.

“Pujian dan hujatan datang bersamaan, namun yang terdengar biasanya yang paling keras,” sahut Raka sambil mengetuk buku catatan dengan telunjuknya.

“Yang keras sering dianggap mewakili semua,” kata Bima dengan senyum tipis yang tak sepenuhnya ramah.

Lensa Budaya dan Konflik Nyata

“Warga tidak pernah dimintai izin, rekaman itu membuat anak-anak diejek,” kata seorang ibu dari deretan kursi sambil mencengkeram tas kain di pangkuannya.

“Proses izin sering dianggap cukup dengan senyum,” ucap Nara sambil menunduk, pandangannya jatuh ke lantai sebelum kembali terangkat perlahan.

“Di sini senyum bukan tanda setuju, tetapi cara menjaga kerukunan,” jawab ibu itu sambil menggeleng pelan.

Percakapan beralih pada kebiasaan lama yang berubah makna di ruang digital. Tradisi yang biasa dibagi secara lisan kini dipotong menjadi klip singkat tanpa jeda dan penjelasan.

“Potongan pendek menghapus cerita panjang, penonton hanya melihat permukaan,” kata Raka sambil menahan rasa sesal, bahunya turun perlahan.

“Permukaan itulah yang memicu komentar ekstrem,” balas Bima sambil mengangguk dan menatap jendela.

Ponsel Nara kembali bergetar dengan durasi lebih lama dari sebelumnya. Sebuah akun anonim menulis ancaman akan melaporkan konten sebagai penghinaan budaya hingga membuat jari Nara kaku sesaat.

“Nama akun itu sering muncul, komentarnya selalu tajam,” kata Raka setelah membaca layar ponsel dengan alis mengerut.

“Anonim seperti bayangan, tidak terlihat tetapi menekan,” ujar Bima dengan suara datar.

Interogasi Kritis terhadap Empati Digital

“Komentar tidak mengenal wajah, tapi dampaknya nyata,” kata Ketua RW setelah perkataan Raka sambil menghela napas panjang.

“Kata-kata itu terasa seperti suara di kepala,” ujar Nara sambil mengangkat layar ponsel yang memantulkan cahaya ke wajah lelahnya.

“Teknologi mempercepat reaksi, empati tertinggal,” kata Raka dengan kedua tangan tertaut di depan.

“Apakah ada batas yang disiapkan,” tanya Bima sambil menatap Nara dengan sorot mata menyelidik.

“Batas sering dibuat setelah terluka,” jawab Nara pelan, suaranya nyaris menjadi bisikan.

Diskusi berubah menjadi perenungan bersama, ditandai jeda panjang dan tatapan yang saling menghindar. Setiap pihak menyadari posisi masing-masing tanpa kepastian solusi cepat.

“Warga ingin dihargai, bukan dijadikan contoh,” kata ibu tadi dengan suara yang mulai melembut.

“Konten ingin jujur, namun kejujuran perlu konteks,” balas Nara sambil mengangguk kecil.

Komentar ekstrem terus mengalir, terlihat dari notifikasi yang tak berhenti. Ada yang meminta penghapusan, ada pula yang menyulut konflik baru antar penonton.

“Ruang digital mempertemukan banyak latar, benturan sering tak terhindarkan,” kata Raka sambil menyapu ruangan dengan pandangan.

Antagonis di Balik Layar

“Akun itu bernama GarisKeras,” kata Raka sambil menunjukkan tangkapan layar ke arah yang lain.

“Nama boleh samar, pengaruhnya terasa,” ucap Bima sambil menghela napas dan menurunkan bahu.

“GarisKeras menuduh warga menjual kemiskinan, padahal narasi tidak sesederhana itu,” kata Nara dengan suara sedikit bergetar.

“Komentar ekstrem sering lahir dari jarak, jarak itulah yang membuat orang berani,” ujar Ketua RW sambil menatap kosong ke depan.

“Ketika jarak terlalu jauh, kata-kata menjadi senjata,” tambah Raka dengan suara mantap.

Percakapan memunculkan kesadaran tentang kekuasaan algoritma. Konten yang memicu emosi lebih mudah tersebar seolah memilih jalannya sendiri.

“Emosi menarik perhatian, namun perhatian tidak selalu membawa pengertian,” kata Bima sambil menekan kata terakhir.

“Keheningan kadang dibutuhkan,” ujar Nara sambil menyimpan ponsel ke saku dan mengepalkan telapak tangan singkat.

“Warga akan mengadakan doa bersama, tradisi menguatkan setelah riuh,” kata Ketua RW dengan nada lebih lunak, bahunya mengendur.

“Konten berikutnya akan ditahan,” ucap Nara sambil mengangguk perlahan.

“Menahan bukan berarti menyerah,” kata Raka dengan senyum tipis dan mata redup.

“Dialog hari ini penting meski belum selesai,” ujar Bima sambil berdiri dan merapikan kursi hingga terdengar gesekan ringan.

Percakapan berakhir tanpa tepuk tangan, hanya kursi yang kembali ke tempatnya. Kesepakatan tidak tertulis terbentuk perlahan, memberi ruang bagi waktu dan kebiasaan lama untuk bekerja.

“Kolom komentar bisa ditutup, namun hubungan perlu dijaga,” kata Raka saat beranjak dengan langkah tertahan sejenak.

“Cerita tidak selalu harus dibagikan,” ujar Nara sambil menatap ruangan yang kembali lengang.* #Komentar_Ekstrem #Media_Sosial #Konten_Kreator #Konflik_Budaya #Dampak_Komentar_Digital

Baca Juga
Posting Komentar
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad