Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

Kehidupan Pasar Tradisional Dukun Gresik Cerita Sederhana yang Penuh Makna

Ibu sedang memegang cabai dan di sampinggnya ada buah-buahan
Ilustrasi ibu penjual

Tintanesia - Pagi belum sepenuhnya terang ketika pasar tradisional Dukun di Kabupaten Gresik mulai bergerak. Lantai masih basah oleh sisa air semalam. Bau sayur segar bercampur tanah dan ikan asin pelan-pelan mengisi udara. Di sudut dekat pintu masuk, seorang perempuan paruh baya menata cabai di tampah anyam. Tangannya cekatan, tetapi wajahnya tenang, seolah setiap gerak sudah dihafal bertahun-tahun.

Orang-orang datang tanpa banyak bicara. Ada yang membawa keranjang, ada yang hanya kantong plastik. Langkah mereka pelan namun pasti. Di sela teriakan harga dan bunyi timbangan, ada jeda-jeda kecil yang jarang diperhatikan. Seperti saat perempuan itu berhenti sejenak, memandang cabai yang tersisa, lalu merapikannya kembali. Tidak ada yang istimewa, tetapi momen itu terasa penuh, seperti napas yang ditahan sebentar sebelum dilepas.

Ia berdiri di sana sejak subuh. Tidak terlihat tergesa. Sesekali matanya mengikuti pembeli yang berlalu. Pasar hidup, tetapi juga menyimpan keheningan yang tipis dan rapuh.

Di antara tawar menawar

Perempuan itu jarang berbicara panjang. Kalimatnya pendek dan jelas. Harga disebutkan, tawar diterima atau ditolak, lalu transaksi selesai. Namun dari cara ia mendengarkan, tampak ada kesabaran yang terlatih. Wajahnya tidak berubah ketika pembeli menawar terlalu rendah. Senyum kecil muncul, lalu hilang lagi.

Saat mengamati, Tintanesia melihat kebiasaan yang berulang. Setiap tawar menawar bukan sekadar angka. Ada pertemuan singkat antara dua kebutuhan. Satu ingin menjual agar hari berjalan. Satu ingin membeli agar dapur tetap mengepul. Di tengah itu, perempuan tersebut seperti menjaga keseimbangan yang rapuh. Terlalu keras bisa kehilangan pembeli. Terlalu lunak bisa kehilangan hasil.

Kadang muncul keraguan. Apakah hari ini cukup. Apakah besok masih sama. Keraguan itu tidak diucapkan. Ia hanya tampak dalam cara perempuan itu menghitung uang dengan teliti, lalu melipatnya rapi sebelum disimpan. Gerakan kecil itu menyimpan harapan yang sederhana.

Pasar mengajarkan waktu yang berbeda. Jam berdetak, tetapi tidak dikejar. Orang-orang datang dan pergi. Perempuan itu tetap di tempatnya, menyambut, menimbang, melepas. Ada rasa lelah yang tertahan, tetapi juga ada ketenangan yang tidak mudah dijelaskan.

Barang-barang yang menunggu

Di sisi lain lapak, tampah-tampah kosong mulai menumpuk. Cabai berkurang, bawang tinggal separuh. Barang-barang seolah ikut bernapas bersama pasar. Ketika ramai, mereka bergerak. Ketika sepi, mereka menunggu. Perempuan itu menyentuh tampah kosong dengan ringan, seperti memastikan sesuatu masih ada.

Pengamat menangkap kebiasaan kecil. Saat pasar agak lengang, ia membersihkan sisa daun dan pasir. Tidak ada yang meminta. Tidak ada yang melihat. Tindakan itu seperti percakapan sunyi antara ia dan lapaknya. Barangkali itu caranya menjaga hubungan dengan tempat yang memberinya hidup.

Di bangku seberang, pedagang lain tertawa kecil. Suara itu melayang, lalu tenggelam oleh teriakan penjual ikan. Pasar tidak pernah benar-benar diam. Namun di sela keramaian, ada ruang hening yang hanya terasa jika diperhatikan. Ruang itu diisi oleh orang-orang yang bekerja tanpa sorot lampu.

Perempuan itu menatap pembeli terakhir pagi itu. Ada jeda singkat sebelum harga disepakati. Jeda yang memuat banyak hal, lelah, harap, dan penerimaan. Setelah uang berpindah tangan, ia menarik napas panjang, hampir tak terlihat.

Menjelang siang, pasar mulai surut. Lapak-lapak ditutup perlahan. Perempuan itu mengikat tampah, mengangkatnya dengan hati-hati. Wajahnya masih sama, tenang, sedikit lelah. Tidak ada kesimpulan besar. Hanya hari yang telah dilalui.

Ketika langkahnya menjauh dari lapak, pasar tetap berdiri. Besok akan ada pagi lain, cabai lain, dan tawar menawar yang serupa. Di antara pengulangan itu, tersimpan makna kecil tentang bertahan dan menerima. Pasar tradisional Dukun Gresik tidak menawarkan jawaban. Tempat itu hanya menghadirkan momen, lalu membiarkannya tinggal sejenak di ingatan.*

Penulis: Fau #Refleksi #Pasar_Tradisional #Dukun_Gresik #Cerita_Reflektif #Kisah_Inspirasi #Budaya_Lokal #Makna_Kehidupan

Baca Juga
Posting Komentar
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad