![]() |
| Dua individu menggunakan smartphone, menampilkan kebiasaan komunikasi digital yang menjadi bagian gaya hidup modern. (Gambar okeh Dean Moriarty dari Pixabay) |
Tintanesia: Kisah Refleksi
"Halo Raka," Suara Bayu terdengar dari pintu kamar sambil menggantung tasnya di kursi. Tampannya dia dari luar.
"Eeh Bayu, masuk saja," Raka menurunkan gawai dan menggeser bantal di tepi kasur.
"Masih scroll teman lama juga?" Bayu mencondongkan tubuh melihat layar.
"Ya… rasanya seperti tidak ada habisnya," Raka menatap cahaya biru yang memantul di dinding.
"Kadang aku juga merasa sesak kalau terlalu lama menatap layar, tapi sulit berhenti," Bayu menambahkan sambil duduk di lantai dekat meja.
Raka mengusap wajahnya, menarik napas panjang. Cahaya ponsel di tangannya membuat bayangan di dinding bergerak-gerak, seperti dua dunia yang bertabrakan: dunia digital dan dunia nyata yang lelah. Bayu menatap Raka, menunggu tanggapan, sementara jarum jam di dinding terus bergerak tanpa ampun.
Penulis: Fau
Media Sosial dan Bayangan Perbandingan
Raka menggeser layar, menatap unggahan teman-teman lamanya yang baru saja membeli rumah dan naik jabatan.
"Unggahan ini seperti pengumuman sidang," Raka menunduk, jarinya tetap menahan layar.
"Sidang itu tidak resmi, tapi vonisnya kadang kita terima begitu saja," Bayu menimpali sambil mencondongkan tubuh ke meja.
"Kalau begitu, kenapa kita tetap scroll? Bukankah itu cuma gambar sepuluh detik?" Raka bertanya, menepuk kasur.
"Rasanya semua perjuangan sendiri tak ada yang menilai," Bayu menambahkan, menatap layar dengan mata redup.
Raka meletakkan ponsel di meja, menutup mata sejenak, dan mengusap rambutnya. Cahaya biru perlahan memudar di sudut ruangan, meninggalkan kesunyian yang pekat. Bayu berdiri dan berjalan mendekat, menepuk bahu Raka perlahan, "kadang rasa cukup itu dicuri tanpa kita sadari," ucap Bayu sambil menatap Raka.
Jeda Digital dan Ketenangan Batin
Raka mengangkat cangkir teh yang sudah dingin di meja samping kasur.
"Sepertinya unggahan foto kopi di kafe bisa menyelamatkan suasana hati," Raka bangkit dari kasur dan berjalan mendekati jendela.
"Jangan berharap ketenangan datang dari like orang lain," Bayu menegur sambil duduk di kursi dekat jendela.
"Ketenangan tidak bisa dibeli dengan tanda suka," Bayu menambahkan sambil mengamati Raka menuang teh baru.
Raka menyesap teh hangat itu, menutup mata sejenak. "Kosongnya lebih terasa setelah unggahan naik," katanya pelan. Bayu berdiri, berjalan ke rak buku, dan merapikan beberapa buku yang terlihat berantakan. "Setiap like itu bukan tolok ukur kebahagiaanmu," Bayu menepuk bahu Raka.
Raka menaruh cangkir di meja, mengambil ponsel sekali lagi, tapi langsung diletakkan ke sudut ruangan. "Notifikasi dimatikan saja," katanya tegas.
"Setuju, kadang jarak itu yang bikin lega," Bayu tersenyum sambil duduk kembali.
"Jeda bukan tanda kalah, tapi bentuk perawatan batin," Bayu menambahkan.
Membaca Ulang Kehidupan dan Tradisi
Raka membuka buku lama dari rak yang berdebu, aroma kertas tua tercium di udara.
"Buku lama ini masih menyimpan aroma kertas," Raka membuka halaman awal.
"Kadang cerita lama lebih menguatkan daripada status baru," Bayu tersenyum sambil duduk menyilangkan kaki.
"Cerita yang baik tidak selalu menuntut perbandingan," Bayu menambahkan.
Raka menunduk, membalik halaman perlahan. "Proses ternyata lebih panjang dari unggahan," ucapnya pelan.
"Dan panjang itu yang bikin kita bertahan," Bayu mengangguk sambil menatap Raka.
"Panjang proses justru membentuk ketahanan," Bayu menimpali.
Raka menoleh ke jendela, memandang langit kota yang mulai redup. "Di kota, orang-orang sibuk membuktikan hidup," katanya.
"Sering lupa menilai diri sendiri dengan mata yang adil," Bayu menambahkan.
"Budaya pembuktian itu sering mengorbankan empati," Bayu menimpali.
Raka tersenyum mengingat kampung halaman. "Di kampung, keberhasilan dirayakan dengan makan bersama," katanya sambil menutup buku.
"Setiap orang merasa cukup, tanpa sorotan," Bayu menimpali.
"Tradisi itu mengajarkan cukup tanpa pamer," Bayu menambahkan.
"Barangkali kota lupa cara merayakan tanpa panggung," Raka menunduk.
"Panggung sering mengundang iri," Bayu menambahkan.
"Ketenangan sejati tidak membutuhkan penonton," Bayu menutup percakapan.
Raka menutup buku dan menatap langit malam dari jendela kamar, udara dingin menyentuh wajahnya.
"Tenang itu ternyata tidak perlu diumumkan," Raka menutup buku.
"Persahabatan yang sederhana lebih menenangkan daripada like," Bayu menambahkan.
"Ketenangan memang tidak mencari penonton," Bayu menimpali sambil tersenyum.
"Besok tetap sama, tapi rasa di kepala berbeda," Raka terdengar lega.
"Jeda kecil itu bisa bikin hati lega," Bayu menambahkan.
"Perubahan kecil sering bekerja dalam diam," Bayu menutup percakapan dengan anggukan setuju.
***
Refleksi Kedamaian Digital
Perilaku membandingkan diri di media sosial memang sering menjadi medan tempur antara keinginan diakui dan rasa iri yang merusak ketenangan batin. Setiap unggahan teman yang tampak sempurna seolah menghakimi, padahal layar hanya menampilkan potongan yang sudah disaring. Menyadari hal itu, membantu melihat bahwa kebahagiaan orang lain bukan tolok ukur kegagalan pribadi.
Kita sering menunggu situasi luar berubah untuk merasa tenang, padahal ketenangan sejati muncul dari cara menata hati sendiri. Henti sejenak, mematikan notifikasi, atau menjauh dari gawai adalah langkah kecil yang memberi ruang untuk batin bernapas. Jeda ini bukan pelarian, melainkan bentuk perlindungan diri yang paling sederhana dan murni.
Perbandingan yang terus-menerus sering mengaburkan rasa syukur atas hal-hal kecil. Teh hangat, buku lama, atau percakapan sederhana bisa terasa sepi ketika pikiran sibuk menilai hidup orang lain. Kesadaran untuk menghargai proses sendiri membantu memulihkan kedaulatan batin yang sering dicuri oleh layar digital.
Kebahagiaan sejati tidak diperoleh dari angka like atau pengikut. Validasi semu itu cepat datang dan cepat pergi, meninggalkan kekosongan yang lebih terasa. Dengan memilih fokus pada hal-hal yang nyata dan terasa, batin mulai menemukan pijakan yang stabil.
Disiplin diri untuk tidak terus mengintip kehidupan orang lain bukan bentuk menutup diri, melainkan cinta tertinggi pada diri sendiri. Mengakui perjuangan pribadi, menerima langkah kecil, dan menahan diri dari perbandingan yang merusak adalah bentuk perlindungan batin yang konsisten.
Tradisi dan budaya sederhana yang menekankan rasa cukup menjadi guru diam yang berharga. Perayaan sederhana, makan bersama, atau berbagi cerita menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak membutuhkan panggung. Dari sini, kita belajar bahwa ketenangan bukan soal tampil, tapi soal hadir dalam diri sendiri dengan utuh.
Ketika fokus kembali pada proses, setiap detil kecil kehidupan menjadi bernilai. Perjalanan panjang yang sering tak terlihat di layar digital justru meneguhkan karakter dan ketahanan. Menghargai langkah demi langkah sendiri adalah kunci agar hati tidak mudah digoyang oleh pamer digital.
Setiap keputusan untuk berhenti membandingkan diri adalah investasi batin yang tak ternilai. Waktu dan energi yang tadinya tersedot oleh layar bisa dialihkan untuk hal yang lebih produktif dan menenangkan. Perlahan, kualitas hidup yang damai terbentuk dari konsistensi kecil, bukan dari sorotan dunia maya.
Akhirnya, kemerdekaan sejati hadir ketika hati berdaulat atas rasa cukup, tanpa bergantung pada penilaian orang lain. Persahabatan sederhana, keheningan, dan kesadaran akan proses sendiri menjadi sumber kebahagiaan yang stabil. Layar digital tidak lagi menjadi penguasa, tapi hanya alat yang dikendalikan dengan bijak. #Media_Sosial #Jeda_Digital #Ketenangan_Batin #Proses_Pribadi #Jeda_Digital_Ketenangan
