Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

Sedekah Digital dan Krisis Martabat Kemanusiaan Online

Lelaki tua menjual anyaman bambu di jalan, menunduk menjaga martabatnya, suasana tenang tanpa kamera.
Ilustrasi seorang lelaki tua menjaga martabat saat menjual anyaman bambu di tepi jalan. (Ilustrasi dibuat dengan AI Co-pilot/Tintanesia)

Tintanesia: Kisah Inspiratif

“Matikan dulu kameranya, Nak,” ucap lelaki tua itu dengan suara pelan namun tegas. Aris tersenyum kaku sambil menahan ponsel tetap menyala, seolah senyum dapat menawar keberatan yang baru saja muncul.

“Sebentar saja, Pak, biar orang-orang tahu perjuangan Bapak,” jawab Aris dengan nada yang terdengar ramah.

Lelaki penjual anyaman bambu itu menunduk, jemarinya gemetar memegang dagangan yang belum laku.
“Perjuangan tidak butuh penonton,” balas lelaki itu lirih.

Beberapa pengendara melambatkan kendaraan, sebagian memandang, sebagian lain merekam dengan ponsel masing-masing. Aris menelan ludah, lalu mendekatkan uang yang sudah disiapkan. Lelaki tua itu mengangkat tangan, menutup wajah, dan kerumunan mendadak sunyi.

Penulis: Fau

Harga Diri di Tengah Layar

“Uang ini halal, Pak, tidak perlu takut,” kata Aris sambil tetap mengarahkan lensa. Suara notifikasi ponsel terdengar bersahutan, menandai komentar yang terus masuk.

“Halal belum tentu pantas dipamerkan,” jawab lelaki tua itu sambil menurunkan tangan perlahan. Keriput di wajahnya seperti garis-garis yang menyimpan cerita panjang tentang kerja dan bertahan.

Seorang perempuan paruh baya yang berdiri di dekat gerobak ikut menyela. “Pak Darno bekerja sejak muda, tidak pernah meminta belas kasihan,” ucap perempuan itu dengan nada tertahan.

Aris menarik napas, lalu melirik layar ponsel. Kolom komentar dipenuhi pujian, sementara wajah Pak Darno tetap tertunduk.

“Konten ini untuk menginspirasi,” kata Aris lagi, kali ini terdengar ragu.
Pak Darno menggeleng pelan, lalu memeluk anyaman bambu seperti memeluk harga diri sendiri.

Algoritma dan Rasa Lapar

“Aris, ambil sudut dari samping saja,” bisik Bima, rekan yang bertugas memantau siaran langsung. Bima tersenyum sambil menunjuk angka penonton yang terus naik.

“Sudut mana pun tidak akan mengubah rasa malu,” jawab Pak Darno tanpa menatap siapa pun. Suara itu membuat Bima terdiam, meski jemari tetap sibuk di layar.

Aris teringat kontrak kerja sama yang menunggu unggahan berikutnya. Ada tenggat, ada target, dan ada janji eksposur yang harus dipenuhi.

“Pak, ini rezeki, bukan transaksi,” ucap Aris dengan nada membujuk.
Pak Darno menghela napas panjang, seolah menimbang kata demi kata.

“Rezeki tidak datang bersama sorotan,” balas Pak Darno. Beberapa penonton daring mulai mempertanyakan, sebagian lain mengejek penolakan itu.

Ruang Publik yang Menyempit

“Kenapa Bapak menolak, padahal banyak yang butuh,” teriak seorang pemuda dari kejauhan. Nada suara itu memicu bisik-bisik yang kian ramai.

“Karena kebutuhan tidak menghapus kehormatan,” jawab Pak Darno perlahan.

Perempuan paruh baya tadi mengangguk, lalu memegang lengan Pak Darno. Aris mematikan ponsel secara tiba-tiba. Keputusan itu mengejutkan Bima yang langsung mendekat.

“Kenapa dihentikan, ini sedang naik,” protes Bima dengan suara tertahan. Aris tidak menjawab, hanya menatap Pak Darno yang kini duduk di bangku kayu.

“Terima kasih sudah mematikan,” kata Pak Darno tanpa menatap Aris. Nada itu tidak mengandung kemenangan, hanya kelelahan yang jujur.

Narasi yang Retak

Aris duduk berhadapan dengan Pak Darno. Uang seratus ribu itu tergeletak di antara mereka tanpa tangan yang berani menyentuh.

“Boleh tahu kenapa Bapak merasa tersinggung,” tanya Aris akhirnya. Suara itu kehilangan intonasi panggung.

“Karena hidup bukan cerita singkat,” jawab Pak Darno yang menatap menembus jauh, seolah melihat masa yang tidak terekam kamera.

Perempuan paruh baya menambahkan dengan suara lirih, “Banyak orang datang memberi, lalu pergi membawa cerita sendiri.”

Aris menunduk, mengingat unggahan lama yang viral. Wajah-wajah penerima bantuan muncul di benak, tersenyum kaku di depan lensa.

Budaya Diam dan Memberi

“Dulu, memberi cukup dengan mengetuk pintu,” ujar Pak Darno. Nada suara itu seperti pelajaran tanpa niat mengajar.

“Sekarang, mengetuk layar lebih ramai,” sahut Bima tanpa sadar. Kalimat itu membuat suasana kembali senyap.

Aris memandang sekeliling, melihat warung kecil, jalan berdebu, dan orang-orang yang kembali beraktivitas. Ruang publik terasa sempit oleh lensa yang terus mencari cerita.

“Bukan berarti teknologi salah,” kata Pak Darno kemudian. Nada itu lebih lunak, seolah membuka ruang pengertian.

“Namun manusia sering lupa berhenti,” lanjut Pak Darno. Aris mengangguk pelan, tanpa kata.

Aris menyerahkan uang itu tanpa kamera, tanpa saksi. Pak Darno menerima dengan kedua tangan, lalu menyimpannya di saku dalam.

“Terima kasih, Nak,” ucap Pak Darno singkat. Aris membalas dengan senyum kecil yang tidak diarahkan ke layar mana pun.

Bima berdiri agak jauh, menatap ponsel yang kini gelap. Tidak ada grafik, tidak ada komentar, hanya napas yang terasa lebih ringan.

“Cerita tidak selalu harus dibagikan,” kata Pak Darno sebelum beranjak. Kalimat itu menggantung di udara, seperti penutup yang tidak membutuhkan tepuk tangan.

Aris berdiri diam, menyadari bahwa sebagian kebaikan memang lahir untuk tetap sunyi. Di ruang tanpa sorotan itu, makna memberi menemukan tempat pulangnya.*

#Sedekah_Digital #Martabat_Manusia #Kebaikan_Tanpa_Sorotan #Etika_Media_Sosial #Sedekah_Digital_Martabat

Baca Juga
Posting Komentar
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad