Keranjang Membawa Sengketa
![]() |
| Ilustrasi suasana ruang tamu dengan kardus belanja online yang mencerminkan diskusi keluarga tentang batas dan tanggung jawab keuangan. (Ilustrasi dibuat dengan AI Co-pilot/Tintanesia) |
Tintanesia: Kisah Inspiratif
“Ini sudah yang keempat, Bu.” Suara itu terdengar datar, namun berat. Di ruang tamu, kardus-kardus menumpuk tanpa sempat dibuka, sementara layar ponsel masih menyala menampilkan keranjang belanja yang belum kosong.
Tak ada yang berteriak, tetapi ketegangan sudah memenuhi rumah kecil itu. Dari satu klik sederhana, sebuah sengketa mulai tumbuh. Serta, tak seorang pun tahu, sejauh apa hal ini akan merambat.
Penulis: Fau
***
Sore itu, ruang tamu rumah sederhana di pinggiran kota tampak berbeda. Tiga kardus cokelat tergeletak berderet di dekat meja, satu di antaranya masih terbuka. Ibu Sari duduk di sofa dengan ponsel di tangan, jarinya lincah menggulir layar. Di sampingnya, Rina berdiri sambil mencondongkan badan, matanya berbinar.
“Bu, lihat yang ini,” kata Rina cepat. “Tripodnya lagi diskon. Kalau pakai ini, videoku pasti kelihatan lebih bagus.”
Ibu Sari menyipitkan mata, membaca keterangan di layar. “Diskonnya lumayan juga, ya. Tinggal klik, besok sampai.”
“Iya, Bu. Teman-temanku sudah pada pakai. Aku mau ikut lomba vlog di sekolah.”
Ibu Sari tersenyum kecil. Ia menekan layar, memasukkan barang itu ke keranjang belanja. Tepat saat itu, langkah kaki terdengar dari arah belakang rumah.
“Barang apa lagi itu?” suara Budi terdengar dari ambang pintu ruang kerja.
Ibu Sari menoleh. “Oh, Pak. Ini cuma tripod buat Rina. Lagi murah.”
Budi mendekat, menatap kardus-kardus di lantai. “Yang datang kemarin belum dibuka semua, kan?”
“Blender sudah, Pak. Yang lain nanti saja.”
Budi menarik napas. “Bukannya kita sudah sepakat menahan belanja bulan ini?”
Rina menggigit bibir. “Ayah, ini penting buat sekolah.”
Budi menatap putrinya sebentar, lalu kembali ke arah Ibu Sari. “Bukan soal penting atau tidak. Tapi pengeluarannya sudah melewati batas.”
Ibu Sari menegakkan badan. “Aku hitung-hitung, masih bisa. Lagi pula diskon begini jarang.”
Budi terdiam, lalu kembali ke ruang kerja tanpa berkata aapa-apa
*
Keesokan harinya, suara motor kurir berhenti di depan rumah. Sebuah kardus lagi diletakkan di teras. Ibu Sari menerimanya dengan wajah puas.
“Datang lagi?” tanya Budi dari meja makan.
“Yang terakhir, Pak,” jawab Ibu Sari cepat.
Namun siang itu, kardus-kardus justru bertambah. Rina membantu memindahkan ke ruang tamu, menyusunnya di sudut.
Budi berdiri memperhatikan, “Bu, ini sudah berapa?”
Ibu Sari menghitung dalam hati. “Blender, tripod, lampu, sepatu… ya empat.”
“Empat?” suara Budi meninggi. “Ini bukan sedikit.”
Ibu Sari menoleh tajam. “Aku beli bukan buat hura-hura. Semua ada gunanya.”
“Gunanya apa kalau tagihan bulan ini tidak cukup?” balas Budi.
Rina menyela dengan suara pelan, “Ayah, aku bisa pakai uang tabunganku.”
“Uang tabunganmu tidak cukup, Rin,” kata Budi tanpa menoleh.
Suasana mendadak senyap. Rina menunduk, memainkan ujung bajunya.
*
Malamnya, hujan turun rintik-rintik. Lampu ruang tamu menyala terang, memantulkan bayangan kardus di lantai. Budi berdiri dengan tangan bersedekap.
“Kalau begini terus, kita bisa kesulitan,” katanya. “Aku tidak melarang belanja, tapi harus ada batas.”
Ibu Sari bangkit dari sofa. “Aku juga capek, Pak. Setiap hari di rumah, mengurus ini itu. Belanja online itu caraku merasa senang.”
“Senang tidak harus begini caranya,” sahut Budi.
“Ayah, Ibu,” Rina berdiri di antara mereka. “Jangan bertengkar gara-gara aku.”
Budi menghela napas panjang. “Bukan salahmu, Rin.”
Ibu Sari terdiam. Ia memandang kardus-kardus itu satu per satu.
*
Beberapa saat kemudian, mereka duduk di meja makan. Suara hujan terdengar dari luar.
“Begini saja,” kata Budi akhirnya. “Kita buat batas. Belanja boleh, tapi ada anggarannya.”
Ibu Sari mengangguk pelan. “Aku setuju. Aku juga tidak ingin berlebihan.”
Rina mengangkat kepala. “Tripodnya boleh aku pakai, kan?”
Budi menatapnya. “Boleh. Tapi setelah itu, kalau mau beli lagi, kita bicarakan dulu.”
Rina tersenyum. “Iya, Ayah.”
*
Keesokan paginya, kardus-kardus dipindahkan ke gudang. Ruang tamu kembali lapang. Rina sibuk mencoba tripod barunya, sementara Ibu Sari menyeduh teh di dapur.
Budi memperhatikan dari kejauhan. “Sudah rapi sekarang.”
Ibu Sari tersenyum kecil. “Iya, Pak.”
Di sudut ruang tamu, keranjang belanja di ponsel Ibu Sari kosong. Hujan semalam telah reda, meninggalkan udara pagi yang tenang.
***
#Belanja_Online #Cerita_Keluarga #Sengketa_Keranjang #Konflik_Keuangan #Pelajaran_Kehidupan_Keluarga
