Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

Manusia Indonesia dan Gaji Ratusan Ribu per Bulan: Realistis atau Terpaksa?

Tangan memegang amplop putih berisi uang rupiah pecahan 100 ribu, tampak sebagian keluar.
Amplop putih berisi uang rupiah pecahan 100 ribu, simbol transaksi, hadiah, dan keuangan Indonesia. (Gambar oleh Eko Anug dari Pixabay)

Tintanesia - Pagi di banyak sudut Indonesia sering dimulai dengan suara yang sama. Deru motor yang berdesakan, langkah kaki tergesa di gang sempit, dan warung kecil yang sudah menyalakan kompor sejak subuh. Di sela rutinitas itu, ada manusia yang berangkat bekerja dengan perasaan campur aduk. Bukan karena tidak bersyukur, tetapi karena ada angka yang terus berputar di kepala. Gaji ratusan ribu per bulan. Angka yang terdengar kecil, tetapi memikul hidup yang utuh. Di angkot, di pabrik, di toko, atau di dapur rumah orang lain, kita sering bertanya dalam diam. Apakah ini masih realistis, atau sekadar pilihan yang terpaksa diterima karena tidak ada jalan lain yang terlihat?

Dalam keseharian, gaji bukan sekadar angka di amplop atau notifikasi ponsel. Namun suatu hal yang berubah menjadi beras lima kilo yang harus cukup hingga akhir bulan, pulsa yang dihemat, dan daftar kebutuhan yang selalu disesuaikan. Banyak manusia Indonesia belajar menghitung dengan cara yang sangat praktis. Bukan rumus rumit, melainkan rasa. Rasa cukup hari ini, rasa cemas esok hari, dan rasa lega kecil ketika masih bisa membeli jajanan untuk anak sepulang sekolah. Hidup berjalan dengan penyesuaian halus, seperti langkah kaki yang otomatis melambat saat dompet terasa lebih ringan.

Kita terbiasa melihat orang tertawa di tengah keterbatasan, bukan karena hidupnya mudah, tetapi karena itulah cara bertahan. Ada kebiasaan kecil yang terus diulang. Membawa bekal dari rumah, menunda membeli baju baru, atau pura-pura tidak lapar agar anak bisa makan lebih dulu. Semua itu jarang disebut pengorbanan. Ia hadir begitu saja, menyatu dengan hari-hari. Dalam percakapan ringan di teras atau saat istirahat kerja, gaji ratusan ribu dibicarakan tanpa drama besar. Seolah itu fakta cuaca, sesuatu yang tidak bisa diubah hari ini, tetapi tetap harus dijalani.

Namun di balik kebiasaan yang tampak biasa, ada kegelisahan yang tidak selalu punya nama. Ketika malam tiba dan tubuh lelah, pikiran sering berjalan lebih jauh. Ada rasa bertanya-tanya, apakah hidup akan selalu seperti ini. Apakah usaha hari ini cukup berarti untuk masa depan, atau hanya sekadar menjaga agar besok tetap bisa berjalan. Banyak dari kita hidup di ruang antara menerima dan berharap. Tidak sepenuhnya menyerah, tetapi juga tidak selalu yakin.

Pilihan untuk bertahan dengan gaji kecil sering kali bukan hasil perhitungan matang, melainkan hasil dari keadaan. Lapangan kerja yang terbatas, pendidikan yang terputus, tanggung jawab keluarga yang datang lebih cepat dari rencana. Dalam situasi seperti itu, realistis dan terpaksa terasa seperti dua kata yang saling tumpang tindih. Kita tidak selalu tahu di titik mana sebuah pilihan berubah menjadi keterpaksaan, atau sebaliknya. Yang jelas, hidup tetap berjalan, dan manusia tetap bangun setiap pagi.

Di tengah semua itu, ada sisi kemanusiaan yang pelan-pelan tumbuh. Kepekaan pada hal kecil, kemampuan membaca situasi, dan solidaritas yang sederhana. Saling berbagi rokok, saling menjaga anak tetangga, atau saling menguatkan dengan candaan ringan. Tidak ada pidato besar tentang ketahanan hidup, tetapi ada kebersamaan yang terasa nyata. Gaji ratusan ribu tidak otomatis menghilangkan martabat, meski sering menguji batas kesabaran.

Pada akhirnya, mungkin pertanyaan realistis atau terpaksa tidak selalu perlu dijawab dengan tegas. Bagi banyak manusia Indonesia, hidup bukan soal memilih istilah yang tepat, melainkan tentang terus bergerak meski langkah terasa berat. Di antara hitungan hari dan sisa uang, kita belajar mengenali diri sendiri. Dan mungkin, di ruang hening setelah semua kebutuhan dicatat dan semua keluhan diendapkan, kita menyadari bahwa hidup memang tidak selalu meminta kepastian. Ia hanya meminta kita hadir, menjalani, dan membiarkan maknanya terbuka, setenang napas yang dihela sebelum esok dimulai lagi.*

Penulis: Fau #Kehidupan_Manusia #Manusia_Indonesia #Realitas_Hidup #Refleksi_Kehidupan #Makna_Keseharian

Baca Juga
Posting Komentar
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad