![]() |
| Ilustrasi runah kuno |
tintanesia.com - Sudah ngopi, Cak? Kalau sedang melewati kampung-kampung tua di Madura, ada suasana yang sering membuat orang tanpa sadar menoleh lebih lama. Rumah-rumah di sana memang tampak sederhana, bahkan sebagian terlihat sudah dimakan usia. Namun, justru dari kesederhanaan itulah muncul rasa hangat yang sulit dicari di tempat lain. Dari pagar bambu yang mulai pudar warnanya, kursi kayu di teras, sampai suara angin yang bergerak pelan menjelang sore, semuanya seperti saling melengkapi dan menyimpan cerita yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Karena itulah, bagi masyarakat Madura, rumah sejak dulu tidak hanya dipandang sebagai tempat berteduh dari panas dan hujan. Lebih dari itu, rumah dianggap sebagai ruang keluarga yang harus dijaga kenyamanannya, ketenangannya, sekaligus keharmonisannya. Maka tidak heran, banyak orang tua zaman dulu meninggalkan pitutur tentang arah rumah, letak pintu, hingga cara menata halaman agar suasana rumah tetap terasa adem dan menyenangkan.
Menariknya lagi, pitutur seperti itu biasanya tidak disampaikan dengan cara menggurui. Kadang nasihatnya muncul santai saat duduk di warung kopi, ketika membantu tetangga memasang pondasi rumah, atau sewaktu para orang tua berbincang selepas magrib di teras rumah. Meski terdengar ringan, obrolan-obrolan semacam itu perlahan membentuk kebiasaan yang terus dijaga sampai sekarang.
Dari situlah lahir berbagai keyakinan dan kebiasaan lama yang masih dipercaya sebagian masyarakat Madura hingga hari ini.
Rumah dan Cara Orang Madura Menjaga Kehangatan Keluarga
Bagi sebagian masyarakat Madura, rumah yang nyaman bukan hanya soal bangunan yang besar atau bahan yang mahal. Sebaliknya, kenyamanan rumah justru sering dikaitkan dengan suasana yang tenang, hubungan keluarga yang harmonis, serta lingkungan yang terasa bersahabat bagi penghuninya.
Oleh sebab itu, sebelum membangun rumah, biasanya ada banyak hal yang dipertimbangkan secara pelan-pelan. Mulai dari arah bangunan, waktu memulai pembangunan, sampai letak pohon di halaman, semuanya sering dibicarakan bersama keluarga maupun sesepuh kampung. Tujuannya sederhana, yakni agar rumah yang dibangun benar-benar menjadi tempat pulang yang membuat hati terasa nyaman.
Berikut beberapa pitutur rumah di Madura yang sampai sekarang masih cukup sering dipercaya masyarakat.
1. Rumah Lebih Baik Menghadap Utara atau Selatan
Di beberapa daerah Madura, arah rumah dipercaya memiliki pengaruh terhadap kenyamanan penghuni. Karena alasan itulah, banyak orang tua menyarankan rumah menghadap utara atau selatan agar terasa lebih selaras dengan kondisi alam sekitar.
Kepercayaan tersebut sebenarnya lahir dari kebiasaan masyarakat tempo dulu yang sangat dekat dengan lingkungan. Mereka terbiasa memperhatikan arah angin, cahaya matahari, hingga suasana rumah saat pagi maupun sore hari. Lalu, dari pengamatan sederhana itulah muncul anggapan bahwa posisi rumah sebaiknya dipilih dengan penuh pertimbangan.
Selain itu, sebelum pondasi dipasang, keluarga biasanya berdiskusi lebih dulu dengan orang yang dituakan. Obrolannya sering berlangsung santai, tetapi penuh nasihat yang terasa hangat dan membumi. Kadang hanya berupa kalimat pendek, namun maknanya bisa terus diingat sampai bertahun-tahun lamanya.
2. Pintu Depan dan Belakang Tidak Dibuat Segaris
Selain arah rumah, letak pintu juga sering menjadi perhatian masyarakat Madura. Rumah yang pintu depan dan belakangnya lurus dipercaya membuat suasana rumah terasa kurang nyaman dan kurang hangat bagi penghuninya.
Karena itulah, banyak rumah lama dibuat dengan posisi pintu yang sedikit bergeser atau diberi pembatas sederhana di bagian tengah. Dengan susunan seperti itu, bagian dalam rumah terasa lebih teduh, lebih tenang, sekaligus lebih menjaga privasi keluarga.
Kalau diperhatikan pelan-pelan, pitutur seperti ini sebenarnya bukan hanya soal bentuk bangunan. Sebaliknya, nasihat tersebut juga mengajarkan bahwa segala sesuatu dalam hidup sering kali lebih baik berjalan perlahan dan tertata. Sebab, suasana yang tenang biasanya tumbuh dari kebiasaan kecil yang dijaga terus-menerus.
3. Ada Simbol atau Benda Khusus Saat Memasang Pondasi
Sesudah menentukan arah rumah dan susunan pintu, masyarakat Madura zaman dulu juga memiliki kebiasaan tertentu saat mulai memasang pondasi. Sebagian orang menyimpan benda sederhana seperti batu kecil, kayu pilihan, atau uang logam sebagai simbol harapan baik bagi keluarga yang akan tinggal di rumah tersebut.
Tradisi itu biasanya dilakukan secara sederhana dan tidak berlebihan. Suasananya justru terasa hangat karena melibatkan keluarga dan tetangga sekitar. Sambil membantu pekerjaan pondasi, obrolan kecil mengalir pelan, lalu sesekali diselingi nasihat dari orang-orang tua yang duduk memperhatikan pembangunan rumah.
Melalui kebiasaan seperti itulah, rumah bukan hanya dipandang sebagai bangunan fisik semata. Sebaliknya, rumah juga dianggap sebagai tempat yang dibangun bersama harapan, kebersamaan, dan doa-doa baik dari orang-orang di sekitarnya.
4. Tidak Semua Hari Dianggap Cocok untuk Membangun Rumah
Selain memperhatikan pondasi, masyarakat Madura juga mengenal hitungan hari tertentu sebelum mulai mendirikan rumah. Ada waktu yang dianggap baik untuk memulai pembangunan, sementara ada pula hari yang biasanya dihindari karena dipercaya kurang cocok.
Kebiasaan seperti ini dikenal sebagai bagian dari perhitungan tradisional yang diwariskan turun-temurun. Biasanya, para sesepuh kampung membantu menentukan waktu yang dianggap paling pas agar proses pembangunan berjalan lebih lancar dan membawa suasana yang nyaman bagi keluarga.
Walaupun zaman sekarang sudah jauh berbeda, sebagian masyarakat masih mempertahankan kebiasaan tersebut. Bukan semata-mata karena harus percaya sepenuhnya, melainkan karena tradisi itu sudah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan terus diwariskan secara alami.
5. Pohon Besar di Depan Rumah Sering Dihindari
Tidak hanya bagian rumah, suasana halaman juga sering mendapat perhatian khusus. Di beberapa kampung Madura, pohon besar yang tumbuh tepat di depan rumah dipercaya membuat suasana terasa terlalu teduh dan kurang nyaman.
Karena alasan itulah, masyarakat biasanya lebih memilih tanaman yang terlihat ringan dan mudah dirawat, seperti pisang, kelor, atau tanaman kecil lainnya. Selain membuat halaman tampak segar, tanaman semacam itu juga dianggap menciptakan suasana rumah yang lebih bersih dan enak dipandang.
Sementara itu, halaman rumah bagi masyarakat Madura memang bukan sekadar ruang kosong. Tempat tersebut sering menjadi ruang berkumpul keluarga, tempat anak-anak bermain, sekaligus tempat orang tua menikmati sore sambil berbincang santai dengan tetangga sekitar.
6. Rumah Anak Sebaiknya Tidak Lebih Tinggi dari Rumah Orang Tua
Selain menjaga suasana rumah, masyarakat Madura juga sangat menjaga hubungan dalam keluarga. Karena itulah, muncul pitutur bahwa rumah anak sebaiknya tidak dibangun lebih tinggi dari rumah orang tua jika masih berada dalam satu lingkungan keluarga.
Makna dari nasihat ini sebenarnya bukan sekadar soal bentuk bangunan. Sebaliknya, pitutur tersebut lebih dekat dengan nilai penghormatan kepada orang yang lebih tua. Sejak dulu, masyarakat Madura memang dikenal kuat menjaga tata krama dan rasa hormat dalam kehidupan keluarga.
Oleh sebab itu, banyak keluarga memilih membangun rumah dengan ukuran yang tetap sederhana meski sebenarnya mampu membuat bangunan yang lebih besar. Ada rasa sungkan, ada rasa hormat, sekaligus ada keinginan menjaga hubungan keluarga agar tetap terasa hangat dan dekat.
7. Ayam Cemani Sering Dianggap Simbol Penjaga Rumah
Di beberapa daerah Madura, ayam cemani juga masih sering dikaitkan dengan pitutur lama tentang rumah. Warna hitamnya membuat hewan ini dianggap sebagai simbol penjaga ketenangan dan kenyamanan rumah.
Meski begitu, tidak semua orang mempercayainya secara penuh. Namun, bagi sebagian masyarakat, keberadaan ayam cemani tetap dianggap sebagai bagian dari tradisi yang sudah hidup sejak lama. Karena itulah, hewan ini kadang dipelihara bukan hanya sebagai ternak, melainkan juga sebagai bagian dari kebiasaan keluarga.
Menariknya, dari kebiasaan kecil seperti itu terlihat bagaimana masyarakat zaman dulu sangat dekat dengan simbol-simbol sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan hal kecil di sekitar rumah pun bisa memiliki cerita dan makna tersendiri.
Pitutur Lama yang Masih Menyimpan Kehangatan
Kalau dipikir lebih pelan, pitutur rumah di Madura sebenarnya bukan sekadar soal kepercayaan lama yang diwariskan turun-temurun. Sebaliknya, banyak nasihat di dalamnya yang diam-diam mengajarkan cara hidup yang lebih hati-hati, lebih menghormati keluarga, sekaligus lebih peduli terhadap lingkungan sekitar.
Orang-orang tua dulu mungkin tidak menjelaskan semuanya lewat kalimat panjang. Namun, melalui kebiasaan kecil sehari-hari, mereka meninggalkan banyak pelajaran yang terasa membekas sampai sekarang. Mulai dari cara memilih arah rumah, menjaga halaman tetap rapi, hingga menghormati rumah orang tua, semuanya perlahan tumbuh menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Sementara itu, di tengah zaman yang bergerak begitu cepat, pitutur seperti ini justru terasa semakin hangat. Ada pengingat sederhana bahwa rumah bukan hanya tempat pulang setelah lelah bekerja. Lebih dari itu, rumah merupakan tempat keluarga tumbuh bersama, berbagi cerita, sekaligus menyimpan kenangan yang terus hidup dari waktu ke waktu.
Pada akhirnya, setiap rumah memang memiliki cerita masing-masing. Ada tawa keluarga, ada nasihat orang tua, lalu ada kebiasaan-kebiasaan lama yang tetap bertahan meski zaman terus berubah. Mungkin karena itulah rumah-rumah tua di Madura masih terasa teduh dan nyaman, seolah menyimpan kehangatan yang tidak mudah hilang begitu saja.*
Penulis: Fau #Rumah_Madura #Pitutur_Lama #Tradisi_Keluarga
