Tintanesia - Gunung Arjuno kembali menarik perhatian publik setelah peristiwa hilangnya 11 pendaki pada akhir Mei 2025. Pendakian yang dimulai dengan semangat petualangan itu, berubah menjadi kisah penuh tanda tanya ketika rombongan tersesat di kawasan hutan yang jarang dijamah manusia. Dari itu, terkuak lagi bahwa gunung yang dikenal megah dan spiritual ini seolah kembali menunjukkan sisi misteriusnya.
Kisah tersebut bermula saat rombongan berangkat tanpa melalui jalur resmi pendakian. Tampaknya dalam keyakinan mereka, rute alternatif yang diambil bisa mempersingkat perjalanan. Namun, keputusan itu justru membawa mereka pada pengalaman ganjil yang kini menjadi bahan perbincangan di kalangan pecinta alam dan masyarakat sekitar Arjuno.
Jalur Tak Resmi yang Menyesatkan
Sesuai informasi beredar beberapa bulan lalu, yakni, pendakian dilakukan pada Kamis dini hari, 29 Mei 2025, melalui jalur tidak resmi di kawasan Kebun Teh Wonosari, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang.
Pasalnya sebelas orang tersebut memulai perjalanan tanpa melakukan registrasi di pos pendakian resmi, langkah yang kemudian disesalkan banyak pihak. Rute itu memang sering disebut menarik oleh sebagian pendaki, tetapi dikenal memiliki risiko tinggi dan tidak diawasi petugas.
Menjelang tengah perjalanan, rombongan mulai kehilangan arah. Kabut tebal turun, pepohonan rapat menutup pandangan, dan jalur setapak seolah menghilang. Mereka akhirnya terjebak di kawasan Bukit Lincing, wilayah hutan yang berada di Desa Gunungrejo, Kecamatan Singosari, yakni, daerah yang disebut warga setempat memiliki aura mistis kuat.
Kebingungan melanda ketika arah kompas terasa tak menentu. Dalam suasana lelah dan gelisah, mereka menyadari bahwa jalur yang dilalui tidak lagi menunjukkan tanda-tanda menuju puncak. Dari titik inilah, kisah hilangnya sebelas pendaki bermula.
Pencarian di Bukit Lincing
Kamis malam hingga Jumat pagi menjadi masa paling menegangkan. Salah satu anggota kelompok berhasil mengirim sinyal lemah dari ponselnya, memberi titik koordinat lokasi terakhir. Informasi itu segera diteruskan kepada tim penyelamat, yang kemudian membentuk regu gabungan untuk melakukan pencarian.
Operasi dimulai Jumat pagi, 30 Mei 2025, sekitar pukul 10.00 WIB. Tim yang terdiri atas relawan, petugas kehutanan, TNI, dan kepolisian menelusuri jalur terjal menuju Bukit Lincing. Kondisi cuaca lembap dan medan curam sempat memperlambat langkah mereka. Namun, upaya gigih itu berbuah hasil ketika para pendaki ditemukan sekitar pukul 15.30 WIB.
Kesebelas pendaki berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat, meski terlihat kelelahan dan kekurangan logistik. Tim penyelamat, menuturkan bahwa lokasi mereka ditemukan tidak jauh dari jalur lama yang biasa digunakan warga untuk mencari hasil hutan.
Kisah Gaib di Tengah Hutan Sunyi
Tersesatnya belasan pendaki itu, disebut disertai pengalaman tak biasa yang sulit dijelaskan secara rasional. Pasalnya beberapa cerita yang beredar di kalangan warga, di sana ada tempat gaib yang menyerupai pendopo dengan cahaya lembut di antara kabut. Seseorang akan mengetahui bahwa dirinya masih berada di tengah hutan yang sama setelah tersadar.
Kepercayaan masyarakat sekitar Arjuno yang menyebut adanya “kerajaan gaib” di lereng gunung tersebut. Dalam pandangan warga, kawasan Bukit Lincing adalah wilayah yang dijaga makhluk halus dan tidak boleh dilalui sembarangan. Mereka meyakini, siapa pun yang masuk tanpa izin atau melanggar tata krama bisa dibuat bingung dan kehilangan arah.
Kisah serupa telah lama hidup di kalangan pendaki. Gunung Arjuno bukan hanya medan fisik yang menantang, tetapi juga ruang spiritual yang menyimpan rahasia. Banyak yang menganggap peristiwa ini, sebagai peringatan agar manusia tidak meremehkan alam dan kekuatan tak kasatmata yang menjaganya.
Peringatan dari Pihak Berwenang
Setelah operasi evakuasi selesai, pihak berwenang memberikan imbauan tegas kepada para pendaki. Pendakian ke Gunung Arjuno diingatkan agar hanya dilakukan melalui jalur resmi seperti Tretes, Lawang, atau Sumber Brantas. Tak hanya itu, registrasi pendaki diwajibkan untuk menjamin keselamatan, sekaligus memudahkan pemantauan jika terjadi keadaan darurat.
Petugas juga mengingatkan, pentingnya membawa perlengkapan memadai serta memahami kondisi cuaca dan medan sebelum melakukan pendakian.
Kemudian jalur tidak resmi, sering kali berujung pada kesulitan karena minim tanda dan tidak tercatat dalam peta evakuasi. Dalam kasus ini, keberhasilan penyelamatan banyak bergantung pada keberuntungan dan kecepatan informasi.
Jika ditelisik secara mendalam, kecelakaan dan peristiwa hilangnya pendaki di Arjuno hampir selalu berakar dari ketidaksiapan serta ketidakpatuhan terhadap prosedur. Peristiwa itu, diharapkan menjadi pelajaran bagi komunitas pendaki untuk lebih menghormati alam dan aturan yang ada.
Gunung Arjuno, Antara Realitas dan Gaib
Gunung Arjuno selama ini dikenal bukan hanya sebagai destinasi alam, tetapi juga sebagai tempat yang sarat nilai spiritual. Banyak petilasan dan peninggalan kuno ditemukan di lerengnya, menandakan gunung ini pernah menjadi tempat perenungan para leluhur. Warga sekitar percaya bahwa Arjuno dijaga oleh entitas halus yang menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
Peristiwa hilangnya sebelas pendaki di Bukit Lincing ini, seolah kembali menegaskan keyakinan itu. Di balik kabut tebal dan gemerisik daun, gunung seakan menyampaikan pesan agar manusia tidak melangkah dengan kesombongan. Alam memiliki batas yang tak selalu tampak, dan setiap langkah di wilayah suci membutuhkan niat yang bersih serta penghormatan.
Refleksi di Antara Kabut Arjuno: Ketika Alam Menguji Kesadaran Manusia
Peristiwa tersesatnya sebelas pendaki di Bukit Lincing sejatinya bukan hanya rangkaian kejadian fisik tentang jalur yang keliru dan kabut yang menutup pandangan. Lebih dari itu, kisah ini memantulkan relasi manusia dengan alam yang kerap timpang. Gunung, dalam kebudayaan Nusantara, tidak pernah sekadar objek penaklukan, melainkan ruang hidup yang memiliki martabat, batas, dan tata krama yang perlu dipahami dengan kesadaran penuh.
Keputusan menempuh jalur tak resmi menunjukkan bagaimana semangat petualangan kadang berubah menjadi sikap tergesa dan abai. Di titik ini, Arjuno seolah menjadi cermin, memperlihatkan bahwa alam tidak selalu tunduk pada logika efisiensi manusia. Kabut, jalur yang menghilang, hingga rasa bingung yang melingkar, bisa dimaknai sebagai bahasa alam yang menegur dengan cara paling halus namun tegas.
Mitos tentang Bukit Lincing dan wilayah gaib yang menjaganya, jika direnungi lebih dalam, bukan sekadar cerita menakutkan. Ia adalah simbol kolektif tentang batas etika ketika manusia memasuki ruang yang lebih besar dari dirinya. Kisah pendopo gaib dan kerajaan halus, pada hakikatnya, mengajarkan bahwa ada wilayah-wilayah tertentu yang menuntut sikap rendah hati, bukan keberanian yang pongah.
Dari peristiwa ini, Gunung Arjuno kembali menegaskan posisinya sebagai guru sunyi. Ia tidak berbicara lewat kata, melainkan lewat pengalaman yang membekas di batin. Tersesat lalu ditemukan selamat adalah anugerah, tetapi juga amanah agar manusia belajar membaca tanda, menghormati aturan, dan menempatkan diri sebagai tamu di hadapan alam yang jauh lebih tua dan bijaksana.
Gunung Arjuno berdiri megah, membisu namun menyimpan banyak cerita. Destinasi yang satu ini menjadi saksi bahwa keindahan dan misteri sering berjalan beriringan. Peristiwa belasan pendaki ini bukan sekadar catatan kesalahan pendakian, melainkan pengingat halus bahwa alam semesta memiliki caranya sendiri untuk menjaga rahasianya dari mereka yang datang tanpa izin.*
Penulis: Fau
#Gunung_Arjuno #Bukit_Lincing #Misteri_Pendakian #Mitos_Gunung_Jawa #Pendaki_Tersesat
