Menyingkap Pesona Pariaman: Selain Pantai dan Tabuik, Ada Penangkaran Penyu yang Menakjubkan
![]() |
| Ilustrasi pantai apar |
tintanesia.com - Kota Pariaman memang dikenal luas sebagai Kota Tabuik, dengan pantai-pantai yang memukau dan senja yang selalu dirindukan setiap wisatawan yang berkunjung ke sana. Namun, di balik keindahan pantai dan kemegahan tradisi Tabuik itu, tersimpan satu permata alam yang tak kalah berharga dan menyentuh hati. Banyak orang belum sepenuhnya menyadari bahwa Pariaman juga memiliki satu destinasi eko-wisata yang luar biasa, yaitu Pusat Konservasi Penyu Pariaman. Tempat ini bukan sekadar tempat wisata biasa, melainkan rumah bagi upaya penyelamatan salah satu hewan purba yang kini semakin terancam punah, sekaligus menjadi bukti nyata bahwa Pariaman tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga dengan penuh kesungguhan menjaga warisan laut yang berharga ini.
Lokasi yang Mudah Dijangkau di Ujung Utara Kota
Pusat Konservasi Penyu Pariaman terletak di Jalan Syeh Abdul Arif, Desa Apar, Kecamatan Pariaman Utara, yang sebenarnya tidak jauh sama sekali dari pusat keramaian Kota Pariaman. Bahkan, dari pusat kota, pengunjung hanya memerlukan waktu sekitar sepuluh menit berkendara untuk tiba di lokasi tersebut. Akses yang begitu mudah ini menjadikan tempat ini sangat ramah bagi siapa saja yang ingin berkunjung, baik bersama keluarga besar maupun dalam rombongan wisata. Letaknya yang berada di kawasan pesisir utara kota justru semakin menambah kesan bahwa Pariaman adalah kota yang menyatu dengan laut, dan laut pula yang memberikan Pariaman kekayaan alam sekaligus tanggung jawab untuk menjaganya dengan sepenuh hati.
Begitu tiba di lokasi, suasana yang tenang dan bersih langsung menyambut kedatangan kita. Berbeda dengan keramaian di kawasan pantai yang selalu ramai, pusat konservasi ini menawarkan suasana yang lebih damai dan edukatif, sehingga setiap pengunjung dapat lebih fokus mengenal dan memahami betapa pentingnya menjaga kelangsungan hidup penyu laut yang telah ada di bumi sejak jutaan tahun silam.
Tiga Jenis Penyu yang Dilindungi dan Diperbanyak
Di dalam kawasan penangkaran ini, kita dapat melihat beberapa jenis penyu yang hidup dan berkembang biak di perairan sekitar Pariaman. Tercatat ada tiga jenis penyu yang berhasil ditangkarkan dan dilestarikan di sini, yaitu Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), dan Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea). Ketiga jenis ini merupakan bagian dari tujuh spesies penyu laut yang ada di dunia, dan enam di antaranya dapat ditemukan di perairan Indonesia. Penyu sendiri adalah hewan yang dapat hidup hingga hampir seratus tahun, dan dalam perjalanan hidupnya memerlukan berbagai jenis habitat, mulai dari pantai berpasir tempat mereka bertelur hingga laut terbuka tempat mereka mencari makan. Karena daerah penyebarannya yang sangat luas, penyu sering kali berinteraksi dengan aktivitas manusia, dan sayangnya justru di sinilah letak ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup mereka.
Oleh karena itu, keberadaan penangkaran ini menjadi sangat penting sebagai upaya perlindungan dan pengembangbiakan penyu di luar habitat aslinya, atau yang dikenal dengan istilah konservasi ex situ. Tujuannya jelas, yaitu mencegah kepunahan dan meningkatkan populasi penyu yang setiap tahun semakin berkurang akibat perburuan, kerusakan habitat, serta polusi laut. Di sini, telur-telur penyu yang ditemukan di sepanjang pantai mulai dari Pantai Katapiang hingga Pantai Naras dikumpulkan dan direlokasi dengan bantuan masyarakat setempat, sehingga telur-telur tersebut aman dari gangguan dan dapat menetas dengan selamat.
Sejak 2009, Lebih dari 30.000 Tukik Telah Dilepaskan ke Laut
Kisah keberhasilan Pusat Konservasi Penyu Pariaman ini sungguh patut dibanggakan. Sejak mulai beroperasi secara aktif pada tahun 2009, tempat ini telah berhasil menangkarkan dan melepaskan ke alam liar kurang lebih 30.000 ekor tukik atau bayi penyu ke perairan laut Pariaman. Angka ini bukanlah angka yang kecil, melainkan bukti nyata dari kerja keras, kesabaran, dan dedikasi para pengelola serta masyarakat yang turut menjaga kelestarian penyu di wilayah ini. Biasanya, telur penyu yang berjumlah sekitar 600 butir dalam satu waktu akan ditetaskan dalam ruang inkubasi dengan waktu penetasan sekitar 50 hingga 60 hari, di mana suhu pasir sarang sangat memengaruhi keberhasilan proses tersebut. Setelah menetas, tukik-tukik itu dipelihara hingga siap dilepaskan kembali ke laut, sehingga peluang mereka untuk bertahan hidup menjadi jauh lebih besar dibandingkan jika mereka menetas secara alami tanpa perlindungan apa pun.
Pada tahun 2013, keberadaan pusat konservasi ini semakin diperkuat dengan pembentukan UPT Konservasi Penyu dan pulau-pulau di sekitarnya, yang menjadikan kawasan ini sebagai kawasan pencadangan dengan fungsi utama perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman hayati, serta pemanfaatan yang berkelanjutan dan lestari. Hal ini menunjukkan bahwa upaya pelestarian penyu di Pariaman bukan sekadar kegiatan sesaat, melainkan program jangka panjang yang didukung secara resmi oleh pemerintah daerah.
Edukasi dan Pengalaman Langsung Melepas Tukik ke Laut
Bagi pengunjung yang datang, pusat konservasi ini bukan sekadar tempat melihat hewan, melainkan pusat pembelajaran yang lengkap. Tersedia ruang informasi, ruang inkubasi telur, ruang penetasan, hingga ruang karantina yang memungkinkan pengunjung memahami setiap tahap kehidupan penyu sejak dari telur hingga menjadi tukik yang siap dilepaskan. Pengunjung pun berkesempatan untuk ikut serta langsung dalam melepaskan tukik ke laut, dengan hanya membayar retribusi sebesar Rp5.000 per ekor tukik yang dilepaskan. Sementara untuk masuk ke kawasan penangkaran, pengunjung cukup membayar retribusi sebesar Rp3.000 saja per orang, yang sangat terjangkau untuk pengalaman yang begitu berharga ini.
Setiap tahunnya, sekitar 15.000 pengunjung datang ke sini, dan sebelum pandemi COVID-19, jumlah pengunjung bahkan mencapai 45.000 orang per tahun. Tak hanya wisatawan dalam negeri, wisatawan mancanegara pun turut memasukkan Pusat Konservasi Penyu Pariaman ke dalam daftar kunjungan mereka saat berada di Sumatera Barat. Hal ini membuktikan bahwa upaya konservasi yang dilakukan di Pariaman ini telah dikenal hingga ke mancanegara, dan menjadi salah satu daya tarik wisata bahari yang unik karena menggabungkan unsur pendidikan, pelestarian alam, dan rekreasi dalam satu tempat.
Pariaman: Harmoni Antara Budaya, Pantai, dan Penjagaan Laut
Sering kali orang beranggapan bahwa Pariaman hanya memiliki dua hal yang terkenal, yaitu Pantai Gandoriah dan tradisi Tabuik. Padahal, kenyataannya Pariaman menyimpan pesona yang jauh lebih luas dan bermakna. Pusat Konservasi Penyu Pariaman adalah bukti bahwa masyarakat dan pemerintah daerah setempat tidak hanya menikmati keindahan laut, tetapi juga merasa bertanggung jawab untuk menjaganya. Kawasan ini juga dimanfaatkan sebagai pusat penelitian, pendidikan, objek wisata bahari, serta pengembangan ekonomi masyarakat yang tetap berpegang pada prinsip kelestarian lingkungan.
Oleh karena itu, jika Anda berencana berkunjung ke Pariaman bersama keluarga, jangan hanya singgah di pantai untuk menikmati senja yang indah. Luangkanlah waktu sejenak untuk berkunjung ke Pusat Konservasi Penyu di Desa Apar, Pariaman Utara. Di sana, Anda tidak hanya akan melihat hewan purba yang menakjubkan, tetapi juga dapat mengajak anak-anak untuk mengenal, mencintai, dan ikut menjaga alam sejak dini. Mungkin bagi kita, melepaskan satu ekor tukik ke laut terlihat kecil, namun bagi masa depan laut dan bagi kelangsungan hidup penyu, itu adalah langkah yang sangat besar dan berharga. Pariaman telah membuktikan bahwa ia bukan hanya kota yang kaya budaya dan pantai, melainkan juga kota yang peduli pada masa depan lautnya. Semoga ke depannya, semakin banyak orang yang mengenal tempat ini, ikut menjaganya, dan menyebarkan pesan bahwa di Pariaman, pesona alam dan kasih sayang terhadap laut berjalan beriringan.*(Af)
#Pariaman #Kota_Tabuik #Pusat_Konservasi_Penyu #Penyu_Pariaman #Wisata_Edukasi_Sumbar

Posting Komentar