Kenapa Pria Sulit Tergoda Belanja di Marketplace?
![]() |
| Handphone seorang pria dengan uang yang siap dibelanjakan |
tintanesia.com - Ada anggapan yang cukup sering terdengar di tengah obrolan sehari-hari. Perempuan dianggap lebih mudah tergoda ketika melihat promo di marketplace, sedangkan pria disebut lebih santai ketika berhadapan dengan deretan barang, diskon, cashback, dan gratis ongkir.
Anggapan tersebut terdengar sederhana, tetapi kenyataan di dunia belanja online ternyata tidak sesederhana itu. Pria bukan berarti tidak suka berbelanja, sebab cara memilih barang dan alasan melakukan transaksi bisa berbeda dibandingkan konsumen lainnya.
Riset Kredivo bersama Katadata Insight Center bahkan memberikan gambaran yang cukup menarik. Berdasarkan analisis terhadap 16 juta sampel transaksi pembayaran dari 1,5 juta pengguna Kredivo di lima platform e-commerce besar pada 2021, konsumen pria menyumbang 62 persen transaksi, sedangkan perempuan 38 persen. Dari sisi nilai transaksi, kontribusi pria juga mencapai 64 persen.
Data tersebut membuat anggapan bahwa pria "sulit tergoda" perlu dilihat dengan cara yang lebih hati-hati. Bisa jadi bukan karena pria tidak suka marketplace, melainkan karena alasan membeli, jenis barang yang dicari, serta cara mengambil keputusan sebelum checkout memiliki pola yang berbeda.
Pria Cenderung Datang ke Marketplace dengan Tujuan Tertentu
Salah satu kebiasaan yang sering terlihat adalah pria membuka marketplace ketika sudah mengetahui barang yang ingin dicari. Marketplace kemudian berfungsi seperti toko yang menyediakan banyak pilihan dalam satu tempat, bukan sekadar ruang untuk berjalan-jalan melihat barang.
Misalnya, seseorang membutuhkan kabel charger baru karena kabel lama sudah rusak. Pencarian kemudian dilakukan berdasarkan jenis konektor, panjang kabel, merek, harga, serta ulasan pembeli sebelum akhirnya memilih produk.
Pola seperti ini membuat aktivitas belanja terasa lebih fungsional. Pengguna datang dengan kebutuhan yang cukup jelas, mencari produk yang sesuai, kemudian meninggalkan marketplace setelah transaksi selesai.
Bukan berarti semua pria mempunyai pola seperti itu. Namun, kecenderungan tersebut dapat membantu menjelaskan mengapa sebagian pria terlihat tidak terlalu tertarik dengan aktivitas menjelajah produk tanpa tujuan yang jelas.
Bukan Tidak Tergoda, tetapi Cara Tergodanya Berbeda
Pria tetap bisa tergoda oleh marketplace, hanya saja pemicunya mungkin berbeda. Produk yang menawarkan fungsi, teknologi, performa, efisiensi, atau kemampuan tertentu dapat menjadi daya tarik yang cukup kuat.
Sebuah gadget terbaru, perangkat komputer, perlengkapan kendaraan, alat olahraga, kamera, atau barang hobi dapat membuat seseorang melakukan riset panjang sebelum akhirnya membeli. Dalam situasi tersebut, proses belanjanya mungkin terlihat serius, tetapi keputusan akhirnya tetap bisa dipengaruhi oleh ketertarikan terhadap produk.
Menariknya, penelitian tentang perilaku konsumen e-commerce di Indonesia juga menunjukkan bahwa aspek fungsionalitas dapat memainkan peran penting dalam hubungan pria dengan platform e-commerce. Sebuah penelitian Universitas Gadjah Mada pada 2024 menemukan bahwa pengaruh pria terhadap kepercayaan dan loyalitas pada e-commerce C2C cenderung lebih besar ketika berkaitan dengan aspek fungsionalitas, kenyamanan, keamanan, dan keandalan platform.
Artinya, godaan belanja tidak selalu berbentuk "barang lucu yang sedang diskon". Bagi sebagian pria, produk yang dianggap berguna atau mampu menyelesaikan masalah juga dapat menjadi godaan yang sangat kuat.
Marketplace Bisa Menjadi Tempat Riset Sebelum Membeli
Ada kebiasaan lain yang membuat pria terlihat seperti tidak terlalu tertarik berbelanja. Sebagian pengguna dapat menghabiskan waktu cukup lama membaca spesifikasi, membandingkan harga, melihat ulasan, dan memeriksa reputasi toko sebelum membuat keputusan.
Dari luar, aktivitas tersebut mungkin terlihat seperti sekadar melihat-lihat. Padahal, proses tersebut merupakan bagian dari pertimbangan pembelian yang cukup serius.
Harga juga sering menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Ketika menemukan produk yang diinginkan, pengguna dapat membandingkan harga dari beberapa toko untuk mencari kombinasi terbaik antara harga, kualitas, garansi, reputasi penjual, dan biaya pengiriman.
Kebiasaan membandingkan tersebut membuat pembelian tidak selalu terjadi pada saat pertama kali melihat produk. Ada proses menunggu, menghitung, membaca ulasan, lalu kembali membuka halaman produk sebelum tombol checkout akhirnya ditekan.
Pria Bisa Lebih Jarang Checkout, tetapi Sekali Belanja Bisa Lebih Besar
Inilah bagian yang menarik ketika membicarakan perilaku belanja pria di marketplace. Frekuensi belanja tidak selalu bisa digunakan untuk mengukur seberapa besar seseorang mengeluarkan uang.
Seseorang mungkin hanya melakukan satu transaksi dalam beberapa minggu, tetapi nilai pembeliannya cukup besar. Sebaliknya, konsumen lain dapat melakukan banyak transaksi kecil yang jika dikumpulkan selama sebulan menghasilkan jumlah yang tidak sedikit.
Data Kredivo-KIC pada 2021 memperlihatkan pola yang menarik karena pria bukan hanya mendominasi jumlah transaksi dengan porsi 62 persen, tetapi juga nilai transaksi dengan porsi 64 persen. Jadi, anggapan bahwa pria selalu menjadi pihak yang lebih sulit tergoda belanja tidak dapat disimpulkan hanya dari seberapa sering seseorang membuka marketplace.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa perilaku konsumsi tidak cukup dilihat dari jumlah checkout. Nilai barang, kebutuhan, pendapatan, kategori produk, serta alasan pembelian juga perlu diperhitungkan.
Promo Tetap Bisa Menjebak Pria
Walaupun seorang pria merasa tidak mudah tergoda oleh diskon, marketplace memiliki banyak cara untuk menarik perhatian. Promo berbatas waktu, voucher toko, cashback, gratis ongkir, dan rekomendasi produk dapat membuat barang yang awalnya tidak masuk daftar kebutuhan menjadi terlihat menarik.
Godaan tersebut terkadang muncul dengan cara yang sangat rasional. Misalnya, seseorang merasa membeli barang tertentu sekarang lebih menguntungkan karena sedang mendapatkan potongan harga, padahal pembelian tersebut sebenarnya masih bisa ditunda.
Situasi tersebut dapat membuat seseorang merasa sedang berhemat ketika sebenarnya sedang menambah pengeluaran. Harga yang turun memang memberikan keuntungan dari sisi harga barang, tetapi tetap menjadi pengeluaran apabila barang tersebut tidak dibutuhkan.
Karena itu, kemampuan mengendalikan belanja tidak hanya berkaitan dengan seberapa mudah seseorang tergoda. Kemampuan yang lebih penting adalah mengetahui kapan sebuah promo benar-benar memberikan manfaat dan kapan promo hanya menjadi alasan untuk membeli.
Barang Hobi Bisa Menjadi Titik Lemah Belanja Pria
Jika pakaian, kosmetik, atau kebutuhan rumah tangga sering dianggap sebagai kategori belanja yang dekat dengan perempuan, pria juga memiliki wilayah konsumsi yang tidak kalah menarik. Barang hobi dapat menjadi salah satu contohnya.
Perlengkapan olahraga, aksesori kendaraan, perangkat komputer, audio, fotografi, elektronik, koleksi, hingga berbagai peralatan tertentu dapat membuat seseorang melakukan pembelian secara bertahap. Satu barang kemudian membuka kebutuhan baru karena produk tersebut membutuhkan aksesori tambahan.
Misalnya, seseorang membeli kamera baru. Setelah kamera tersedia, muncul kebutuhan kartu memori, tas, tripod, baterai tambahan, lensa, atau perlengkapan lainnya.
Pada titik tersebut, belanja tidak lagi terasa seperti membeli barang secara impulsif. Semuanya dapat terlihat seperti pembelian yang masuk akal karena memiliki hubungan dengan hobi atau kebutuhan tertentu.
Marketplace Mengubah Cara Pria Membandingkan Harga
Marketplace juga memberikan keuntungan yang cukup besar bagi konsumen yang suka melakukan perbandingan. Harga dari berbagai toko dapat dilihat dalam waktu yang relatif singkat tanpa harus mendatangi satu toko ke toko lainnya.
Kemampuan membandingkan tersebut membuat konsumen memiliki informasi yang lebih banyak sebelum mengambil keputusan. Pengguna dapat melihat harga, rating, jumlah penjualan, ulasan, foto pembeli, estimasi pengiriman, serta berbagai informasi lain dalam satu layar.
Kondisi ini dapat membuat keputusan pembelian menjadi lebih rasional. Namun, terlalu banyak pilihan juga dapat membuat seseorang terus mencari produk yang dianggap paling sempurna hingga akhirnya membeli barang yang sebenarnya tidak direncanakan.
Jadi, marketplace dapat menjadi alat untuk menghemat sekaligus menjadi pintu masuk menuju pengeluaran baru. Perbedaannya sangat bergantung pada cara seseorang menggunakan informasi yang tersedia.
Pria Tidak Selalu Lebih Hemat Saat Belanja Online
Membandingkan pria dan perempuan dalam urusan belanja sebaiknya tidak berakhir pada kesimpulan bahwa salah satu gender lebih hemat. Perilaku konsumsi dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kebutuhan, pendapatan, usia, pekerjaan, gaya hidup, hobi, lingkungan sosial, hingga jenis produk yang dibeli.
Penelitian Asian Development Bank tentang karakteristik pengguna e-commerce di Indonesia juga menunjukkan bahwa usia, gender, pendidikan, dan jenis pekerjaan dapat berkaitan dengan perilaku belanja online. Bahkan penelitian tersebut menemukan kecenderungan perempuan lebih tinggi untuk melakukan transaksi e-commerce dalam data yang dianalisis, menunjukkan bahwa hasil penelitian dapat berbeda bergantung pada periode dan karakteristik data yang digunakan.
Perbedaan hasil seperti itu justru menjadi pengingat bahwa perilaku belanja tidak bisa dijelaskan dengan stereotip sederhana. Konsumen pria maupun perempuan sama-sama memiliki potensi menjadi pembeli rasional sekaligus pembeli impulsif. Yang membedakan sering kali bukan gender, melainkan konteks ketika seseorang mengambil keputusan.
Pria Bukan Sulit Tergoda, tetapi Punya Pola Belanja Berbeda
Anggapan bahwa pria sulit tergoda belanja di marketplace memang menarik untuk dibicarakan. Dalam kehidupan sehari-hari, sebagian pria mungkin terlihat lebih jarang membuka aplikasi belanja hanya untuk melihat-lihat produk.
Namun, data transaksi justru menunjukkan bahwa pria juga merupakan kelompok konsumen yang sangat aktif di e-commerce. Riset Kredivo-KIC bahkan menemukan kontribusi pria mencapai 62 persen dari jumlah transaksi dan 64 persen dari nilai transaksi dalam sampel yang mereka analisis.
Jadi, persoalannya tidak lagi pada apakah pria mudah tergoda atau tidak. Pertanyaan yang lebih tepat adalah, apa yang membuat seorang pria merasa sebuah barang layak untuk dibeli.
Bagi sebagian orang, jawabannya bisa berupa kebutuhan. Bagi yang lain, jawabannya mungkin fungsi, teknologi, kualitas, hobi, atau kesempatan mendapatkan barang dengan harga yang dianggap lebih menguntungkan.
Marketplace pada akhirnya tidak mengenal siapa yang paling mudah tergoda. Sistem hanya mempertemukan konsumen dengan produk, harga, rekomendasi, dan berbagai penawaran yang dirancang untuk mendorong transaksi.
Keputusan terakhir tetap berada di tangan pengguna. Sebab dalam ekonomi digital, pembelian paling mahal bukan selalu barang yang harganya tinggi, melainkan barang yang dibeli berkali-kali dengan alasan "sekalian mumpung murah". (Bram) #Belanja_Online #Marketplace

Posting Komentar