![]() |
| Jembatan Suramadu jalur sepeda motor |
Tintanesia - Sudah ngopi, Cak? Malam di warung kopi Bangkalan dekat Suramadu punya cerita yang sama tapi rasanya beda tiap hari. Ada yang ngeluh harga kebutuhan naik, ada yang diam sambil menatap arah Jembatan Suramadu seolah di sana ada jawaban hidupnya. Dulu waktu jembatan itu diresmikan, banyak yang percaya nasib bakal ikut nyebrang jadi lebih baik.
Di meja kayu yang mulai kusam, seorang penjual sate cerita sambil tersenyum tipis. Katanya, sekarang orang memang lebih gampang datang ke Madura, tapi tidak otomatis mereka belanja. Lalu ia nyeletuk pelan, “Jalannya ramai, tapi dagangan kadang sepi,” dan suasana langsung terasa seperti kopi tanpa gula.
Jembatan yang Membuka Jalan, Tapi Tidak Semua Ikut Jalan
Suramadu itu nyata membuka akses, Cak, bukan cuma cerita. Orang sekarang bisa bolak-balik Surabaya ke Madura dengan cepat, biaya transportasi lebih ringan, dan arus kendaraan tidak pernah benar-benar sepi. Tapi dari obrolan sampai data, cerita berikutnya tidak sesederhana itu.
Data terakhir menunjukkan ekonomi Madura tetap tumbuh, Cak, bahkan mendekati lima persen. Tapi angka itu belum mencerminkan lonjakan besar yang dulu dibayangkan saat jembatan tersebut dibangun. Jadinya seperti pintu besar yang sudah terbuka, tapi isi rumahnya belum siap menyambut tamu.
Ramai Lewat, Sepi Transaksi
Di sekitar kaki Suramadu, banyak warung kecil berdiri dengan harapan sederhana. Mereka tidak butuh ramai luar biasa, cukup ada yang berhenti, beli kopi, atau sekadar makan nasi bungkus. Tapi kenyataannya, banyak kendaraan hanya lewat tanpa menoleh.
Seorang ibu penjual di sana bilang saat ditanya soal penggan, “Yang lewat itu orang kerja, bukan orang singgah.” Kalimat itu seperti menampar pelan, karena berarti arus manusia tidak selalu jadi arus uang. Infrastruktur bisa menghubungkan tempat, tapi belum tentu mengikat orang untuk tinggal dan berbelanja.
Fenomena ini juga terlihat di data, Cak. Aktivitas ekonomi justru banyak tersedot ke Surabaya yang lebih siap, lebih lengkap, dan lebih menggoda. Madura jadi jalur lintasan, bukan tujuan utama.
Rezeki yang Mengalir ke Seberang
Kalau diperhatikan, banyak anak muda Madura memilih kerja di Surabaya. Mereka berangkat pagi lewat Suramadu, pulang malam membawa lelah, bukan selalu membawa hasil yang cukup. Jembatan ini akhirnya lebih sering jadi jalan keluar tenaga kerja daripada jalan masuk peluang.
Penelitian bahkan menunjukkan, Cak, jika daerah seperti Madura salah satunya Bangkalan tidak tumbuh secepat yang diharapkan. Ini seperti ember yang diisi air, tapi ada lubang kecil di bawahnya. Air tetap masuk, tapi sebagian mengalir keluar tanpa sempat dinikmati.
Bukan berarti tidak ada peluang, tapi peluang itu lebih mudah ditangkap oleh daerah yang sudah siap. Jadi yang kuat makin kuat, yang tertinggal harus berlari lebih keras.
SDM yang Masih Mengejar Ketertinggalan
Di warung kopi, obrolan soal sekolah sering muncul di sela candaan. Banyak yang sadar pendidikan itu penting, tapi kenyataannya tidak semua punya akses atau kesempatan yang cukup. Data menunjukkan rata-rata lama sekolah di beberapa wilayah Madura masih rendah.
Ini yang jadi kunci, Cak. Jalan sudah bagus, tapi kalau yang berjalan belum siap bersaing, ya tetap tertinggal. Seperti punya sepeda baru tapi tidak tahu cara mengayuh dengan cepat.
Beberapa anak muda mulai belajar bisnis online, mencoba jualan lewat internet, kirim barang lewat Suramadu. Tapi jumlahnya belum banyak, dan belum cukup untuk menggerakkan ekonomi secara luas.
Rasa Aman dan Kepercayaan
Ada satu hal yang jarang dibahas dengan santai tapi terasa dampaknya, yaitu soal keamanan. Isu begal dan rasa tidak aman membuat orang berpikir dua kali untuk berhenti atau membuka usaha di beberapa titik. Padahal ekonomi itu butuh rasa percaya.
Pedagang kecil sangat merasakan ini. Mereka berharap pembeli datang, tapi juga tahu bahwa ketakutan bisa mengalahkan niat orang untuk mampir. Ini bukan cuma soal kriminalitas, Cak, tapi soal bagaimana citra sebuah tempat bisa mempengaruhi uang yang masuk.
Kalau rasa aman kuat, orang berani singgah. Kalau ragu, mereka lebih memilih gas terus tanpa menoleh.
UMK yang Tidak Ikut Melonjak
Dulu ada harapan Suramadu bisa mengangkat upah dan kesejahteraan. Tapi realitanya, banyak pekerja masih merasa penghasilan mereka jalan di tempat. Harga kebutuhan naik perlahan, tapi upah tidak ikut berlari.
Seorang buruh pernah bilang, “Kerja makin capek, tapi hasilnya segitu saja.” Itu kalimat yang tidak perlu angka untuk dipahami. Ketika kebutuhan dan penghasilan tidak seimbang, hidup terasa seperti mengejar bayangan sendiri.
Akhirnya banyak yang memilih merantau lebih jauh. Bukan karena tidak cinta kampung, tapi karena perut tidak bisa diajak kompromi.
Antara Harapan dan Usaha
Meski begitu, tidak semua cerita gelap, Cak. Ada juga yang berhasil membuka usaha, memanfaatkan akses, dan pelan-pelan berkembang. Tapi jumlahnya belum cukup untuk mengubah wajah ekonomi secara keseluruhan.
Suramadu sebenarnya sudah memberi peluang besar. Bahkan potensi investasi di kawasan ini pernah disebut sangat tinggi. Tapi peluang itu seperti ladang luas, tidak semua orang punya alat untuk menggarapnya.
Di warung kopi, orang tetap berharap. Harapan itu sederhana, semoga suatu hari nanti orang tidak cuma lewat, tapi benar-benar datang dan menghidupi.
Cak, kalau dipikir pelan-pelan, Suramadu itu bukan gagal, tapi belum selesai. Jembatan itu sudah membuka jalan, tapi belum menjamin siapa yang bisa berjalan jauh. Yang menentukan tetap manusia, kesiapan, dan keberanian mengambil peluang.
Jadi sekarang, menurut sampean, yang lebih penting itu membangun jalan baru lagi, atau memastikan orang-orang di dalamnya siap berjalan lebih jauh, Cak?*
Penulis: Fau #Ekonomi_Madura #Jembatan_Suramadu #UMKM #Usaha_Kecil_Madura #Ekonomi_dan_Suramadu
