Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

Mendalami Tradisi Cok Bhume Madura: Saat Tanah Mengajarkan Cara Bersyukur

beberapa orang berkopyah hitam duduk, di depannya ada berkat
Ilustrasi ritual Cok Bhume Madura

Tintanesia, Tradisi Cok Bhume Madura - Sruput kopinya, Cak… pagi ini rasanya seperti ada cerita lama yang tiba-tiba duduk di samping kita tanpa permisi, cerita tentang tanah yang diam tapi ternyata menyimpan suara yang lebih keras dari keramaian manusia. Di warung sederhana, obrolan ringan bisa berubah jadi renungan yang rasanya menembus dada sampai ke bagian yang paling pelan untuk kita akui.

Dan anehnya, semakin kita hidup di atas tanah ini, semakin sering lupa bahwa kita sebenarnya sedang “menumpang” di sesuatu yang tidak pernah benar-benar kita miliki. Sehingga agar ada keingatan terkait itu, kita hendaknya melakukan tradisi Cok Bhume Madura, yang dalam arti bahasa Indonesia adalah sedekah bumi versi Madura.

Cak, kalau dilihat sepintas mungkin Cok Bhume Madura tampak seperti acara kampung biasa. Tapi kalau ditahan sebentar saja pandangan kita, ia seperti tanah yang sedang berbicara pelan kepada manusia yang terlalu sering berjalan tanpa menoleh.

Nah dari situlah kita mulai sadar, Cak, mungkin yang perlu dipelajari bukan cara menguasai alam, tapi cara untuk tahu diri lewat tradisi Cok Bhume Madura.

Cok Bhume: Antara Tanah, Hidup, dan Cara Melawan Lupa

Cok Bhume itu seperti jeda panjang yang sengaja diberikan alam kepada manusia, agar tidak terlalu jauh melangkah dari rasa rendah hati. Di sana, tanah tidak diperlakukan seperti benda mati, tapi seperti “rumah besar” yang setiap hari memberi tanpa banyak menuntut balasan.

Dan bukankah kita sering lupa, Cak, bahwa setiap langkah sebenarnya selalu meninggalkan jejak di sesuatu yang jauh lebih tua dari usia kita sendiri?

Tradisi ini tidak berdiri sebagai tontonan, namun bagai pengingat yang halus nan dalam, bahwa hidup bukan hanya soal mengambil.

Jadi semacam ada saat di mana manusia harus berhenti sebentar, bukan untuk mencari sesuatu yang baru, tapi untuk menyadari apa yang selama ini sudah diberikan tanpa kita sadari. Di titik itulah, kesombongan manusia seperti mengecil perlahan, seperti lilin yang kalah oleh angin yang sabar.

Kadang kita merasa bumi ini diam, padahal diamnya justru seperti teguran yang tidak pernah selesai diucapkan. Ia tidak marah, tidak berteriak, tapi justru itu yang membuatnya terasa lebih kuat dari semua suara. Cak, bukankah yang paling sulit kita lawan justru yang tidak pernah melawan balik?

1. Pembacaan Solawat dan Doa oleh Kiai

Dalam Cok Bhume, Cak, suasana sebelum doa dimulai seperti dunia yang sengaja merendahkan volumenya sendiri, seolah alam sedang memberi ruang bagi manusia untuk kembali ingat posisi.

Kiai memulai dengan tiga solawat pendek yang diulang-ulang dalam waktu lama, dan pengulangan itu tidak terasa kosong, tapi semacam gelombang yang perlahan membentuk kesadaran bersama di dada setiap orang.

Coba bayangkan, Cak, para warga kampung yang hadir ikut menyatu di dalamnya, seperti satu napas panjang yang tidak lagi membedakan siapa siapa.

Sebelum lantunan itu, tawassul dibaca dengan perlahan, seperti seseorang yang sedang meminta izin kepada langit sebelum menyampaikan sesuatu yang sangat penting.

Tidak ada yang terburu-buru, karena di situ manusia seperti sedang diajarkan bahwa hal yang sakral tidak pernah bisa dikejar dengan tergesa.

Setelah itu, Kiai melanjutkan doa menggunakan bahasa Arab yang dibaca dari kitab kuno yang sudah tua, seperti kulit waktu yang masih menyimpan jejak banyak generasi di dalamnya.

Kitab itu tidak cuma dibuka, tapi seperti dihormati, seakan setiap halamannya pernah disentuh oleh orang-orang yang juga sedang belajar tentang arti berserah diri.

Di hadapan itu semua, Cak, manusia seperti dipaksa pelan-pelan untuk mengakui bahwa dirinya kecil di tengah perjalanan panjang kehidupan yang tidak pernah dimulai oleh dirinya sendiri.

2. Tumpeng Putih Kecil dan Dikelilingi Ketan Hitam

Tumpeng putih kecil itu berdiri di tengah seperti simbol kesadaran yang mencoba tetap bersih di tengah hidup yang tidak pernah benar-benar sederhana. Di sekelilingnya ada ketan hitam, lauk ayam kampung, dan urapan khas Madura, tersusun seperti keseimbangan hidup yang tidak bisa dipisahkan antara terang dan gelap.

Lebih luas lagi, Cak, ketan itu dikelilingi hasil bumi seperti singkong, ketela, kacang, ubi, dan segala yang tumbuh dari tanah yang kita injak setiap hari tanpa banyak tanya.

Putihnya tumpeng seperti niat yang ingin tetap lurus, sementara ketan hitam di sekelilingnya seperti kenyataan hidup yang selalu mengikuti dari belakang tanpa bisa dihindari.

Adapun Lauk ayam kampung dan urapan itu, seperti pengingat bahwa rezeki tidak pernah datang dari satu arah saja, tapi dari proses panjang yang sering tidak kita lihat. Cak, bukankah hidup memang tidak pernah satu warna, tapi selalu campuran yang membuat kita belajar untuk tidak berlebihan dalam merasa memiliki?

Saat semua itu dibagikan, tidak ada yang benar-benar kecil, karena setiap bagian membawa makna yang sama pentingnya. Rasanya seperti bumi sedang mengajarkan bahwa tidak ada yang lebih tinggi di hadapan rezeki yang sama-sama berasal dari tanah.

Nah di situlah, manusia seperti diajak untuk kembali sadar bahwa yang kita makan hari ini adalah hasil dari kemurahan yang tidak pernah meminta dipuji.

3. Satu Keluarga, Satu Kampung, Satu Rasa

Yang punya acara hanya satu keluarga, tapi yang datang satu kampung, seperti tanah yang membuka dirinya untuk semua, tanpa membedakan siapa yang datang lebih dulu atau lebih akhir.

Tidak ada yang diminta membawa sesuatu, karena kehadiran itu sendiri sudah dianggap sebagai bentuk kebersamaan yang paling jujur. Jika dipertanyakan, bukankah jarang sekali kita menemukan ruang di mana manusia bisa hadir tanpa harus selalu membawa syarat?

Suasana itu seperti menghapus batas antara “milikku” dan “milikmu”, karena semuanya kembali ke satu rasa yang sama. Orang-orang duduk, makan, dan berbagi tanpa banyak perhitungan, seolah hidup sedang kembali ke bentuk paling dasarnya.

Pada titik itulah, kita seperti diingatkan bahwa manusia tidak diciptakan untuk selalu terpisah, tapi untuk saling menegaskan bahwa kita sama-sama lemah.

Ketika pulang, yang dibawa bukan hanya hasil bumi seperti singkong atau kacang, tapi juga rasa, bahwa hidup ini terlalu luas untuk diisi oleh kesombongan. Rasanya seperti bumi sedang menyelipkan pesan kecil di tangan kita tanpa suara. 

Tanah Tidak Pernah Lupa, Bagaimana dengan Kita?

Cok Bhume bukan sekadar tradisi, Cak, tapi seperti cara tanah berbicara kepada manusia yang sering terlalu sibuk untuk mendengar. Ia tidak mengajari dengan keras, tapi dengan kehadiran yang pelan namun dalam, seperti napas panjang yang tidak pernah habis. Dan mungkin di situlah letak pelajaran paling sederhana tapi paling sulit kita jalani: tahu diri di hadapan alam.

Di tengah hidup yang semakin cepat, kita sering merasa sebagai pengendali, padahal kita hanya bagian kecil dari perjalanan yang jauh lebih besar dari kita. Tanah tidak pernah meminta kita menjadi siapa-siapa, hanya mengingatkan agar tidak lupa bahwa kita berasal dari tempat yang sama.

Jadi Cak… kalau kita berhenti sebentar dan benar-benar melihat ke bawah, sudahkah kita benar-benar tahu diri pada tanah yang selama ini kita injak tanpa pernah bertanya apa-apa? Jika belum, mari melakukan Cok Bhume Madura dari Desa Plakaran ini.*

Penulis: Fau #Cok_Bhume #Tradisi_Madura #Sedekah_Bumi #Tahu_Diri_Alam #Kearifan_Lokal

Baca Juga
Posting Komentar
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad