![]() |
| Ilustrasi jalanan sepi jika BBM langka |
Tintanesia - Bagaimana jadinya jika Indonesia mengalami krisis BBM. Tentunya jalanan di berbagai sudut kota aka tidak biasa. Yakni yang semula motor melitas, pedagang membuka lapak akan berubah. Apalagi isi terkait minyak yang langka ini sering diperbincangkan baik di kalangan masyarakat ke bawah maupun menengah ke atas.
Bahkan dibeberapa daerah, ada yang menerapkan ngantor pakai sepeda ontel, guna mempersiapkan diri saat krisis BBM ini benar-benar terjadi. Tak hanya itu, pemerintah pusat telah mewanti-wanti terkait kelangkaan minyak tersebut.
Sementara situasi terbaru, tidak sedikit SPBU dengan antrean panjang kendaraan. Bahkan ada pemandangan masyarakat datang lebih awal dari biasanya agar memperoleh BBM. Meski krisis ini belum terjadi, namun dari beberapa tindakan itu bisa dirasakan berapa takutnya masyarakat dengan kelangkaan ini.
Kelangkaan BBM ini bukan tanpa sebab. Tetapi muncul dari lua negeri yakni, gejolak geopolitik di kawasan penghasil minyak. Nah, Indonesia yang masih bergantung pada impor energi tentu merasakan dampaknya. Saat harga minyak naik secara global, maka tekanan yang masuk ke dalam negeri sulit terbendung, tentunya mempengaruhi distribusi dan ketersediaan.
Di sisi lain, cadangan BBM nasional tergolong minim, yakni hanya sersisa sekira 20 hingga 21 hari. Tentunya situasi semacam ini, membuat sistem distribusi bekerja harus lebih keras lagi agar permintaan di lapangan terpenuhi. Menurut informasi yang sampai ke Tintanesia, kini beberapa SPBU swasta mulai mengalami kekosongan minyak, sedangkan yang lainnya mulai menulis. Tentunya hal ini seakan menciptkan pola konsumsi yang hati-hati di masyarakat.
Jika BBM benar-benar mengalami kelangkaan, maka yang akan juga kena dampaknya adalah ekonomi rakyat. Salah satunya pedagang kecil, yang tentunya akan mengurangi stok produk atau bahan yang mereka jual. Contoh, seorang penjualan makanan di pikiran jalan, akan mengurangi jumlah produksi makanan harian karena biaya bahan baku distri busi yang melambat atau bahkan naik harga. Artinya dia tetap membua lapak, namun dengan perhitungan yang lebih ketat agar tidak merugi.
Kemudian lagi, pedagang sayur keliling yang mempertimbangka jarak tempuh dalm setiap harinya. Jika biasanya bisa melaui beberapa desa sekaligus, maka jika Kelangkaan BBM terjadi, dia akan memangkas rute jualannya.
Intinya, UMKM di berbagai daerah akan menghadapi tekanan yang sama. Yakni, usaha makanan yang bergantung pada distribusi bahan baku akan menyesuaikan ritme produksi. Hal itu karena ongkos kirim bahan baku yang ikut terdorong, meski tidak selalu langsung tampak di awal. Sehingga bisa dipastikan kelangkaan BBM ini, akan berimbas ke pengusaha-ngusaha kecil, yakni memiliki keuntungan kecil agar usahanha tetap bertahan.
Selain itu, di wilayah pesisir, nelayan akan menghadapi tantangan yang berbeda bentuknya. Mereka akan mengurangi jarak peta laut demi memperoleh ikan untuk bertahan hidup. Kok gitu? Jelas karena solar yang menjadi kompen mereka melaut akan terbatas jika BBM langka.
Kemudian di kota-kota, dampaknya justru lebih mengalir melalui jalur distribusi. Sebab biaya transportasi yang nantinya naik akan perlahan mendorong harga barang kebutuhan pokok. Semunya tidak akan berubah tiba-tiba, tetapi bergerak perlahan namun konsisten. Sehingga dalam beberapa waktu kelangkaan BBM perbedaan kecil akan terlihat di pasar-paar tradisional.
Puncaknya, data beli masyarakat akan ikut menyesuaikan. Artinya pembeli tidak berhenti, namun menjadi lebih tertakar untuk keseimbangan hidup. Barang yang biasanya dibeli dengan skala besar akan dipilah-pilah.
Pada intinya ketergantungan pada energi impor akan berefek berantai ke dalam negeri. Sementara itu, tidak menutup kemungkinan, sistem distribusi BBM dalam negeri akan terus mengalami penyesuaian. Bagaimana, apa yang kamu persiapkan jika BBM Langka?*
Penulis: Fau #Ekonomi_Indonesia #BBM_Menipis #UMKM_Indonesia #Nelayan_Indonesia #Harga_Kebutuhan_Pokok
