![]() |
| Ilustrasi Herman, petani tua di desa Jawa Timur, setia menggarap sawahnya meski anak-anak memilih bekerja di kota. (Gambar oleh Kim Loan Nguyen thi dari Pixabay) |
Tintanesia - Pagi di sebuah desa kecil di Jawa Timur selalu dimulai dengan suara burung dan embun yang masih menggantung di pucuk padi. Di tengah hamparan sawah yang perlahan berubah karena pembangunan dan perubahan zaman, seorang lelaki tua bernama Herman tetap berjalan menyusuri pematang seperti yang sudah ia lakukan selama puluhan tahun.
Usianya sudah melewati enam puluh lima tahun. Langkahnya memang tidak lagi secepat dulu, tetapi tangannya masih hafal bagaimana menancapkan bibit padi di tanah yang basah. Sawah yang ia garap bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga bagian dari perjalanan hidupnya.
Herman sering berkata bahwa sawah itu seperti halaman rumah yang luas. Ia mengenal setiap sudutnya: tanah yang paling subur, bagian yang sering tergenang air, hingga tempat burung pipit biasanya hinggap saat padi mulai menguning.
Namun zaman berubah pelan-pelan. Anak-anaknya yang dulu sering ikut ke sawah kini tinggal di kota. Mereka bekerja di pabrik, toko, dan kantor kecil. Mereka pulang hanya pada hari-hari tertentu. Herman tidak pernah melarang pilihan itu, meskipun dalam hatinya ada ruang sunyi yang tidak selalu mudah dijelaskan.
Sawah yang Menjadi Bagian Hidup
Herman mulai mengenal sawah sejak masih anak-anak. Ayahnya dulu seorang petani yang juga mengajarinya cara membaca musim. Ia belajar memahami langit, air, dan tanah jauh sebelum mengenal banyak hal lain di dunia luar desa.
Dulu hampir semua orang di kampungnya adalah petani. Pagi hari mereka berangkat bersama, membawa cangkul dan harapan sederhana: semoga musim ini panen cukup untuk hidup.
Tetapi beberapa tahun terakhir, Herman melihat banyak perubahan. Sawah di beberapa sudut desa mulai dijual. Ada yang berubah menjadi rumah, ada pula yang menjadi gudang atau jalan baru.
Ia tidak menyalahkan siapa pun. Baginya, setiap orang punya alasan sendiri untuk memilih jalan hidup. Namun setiap kali melihat satu petak sawah hilang, Herman merasa seperti kehilangan sesuatu yang pernah sangat akrab.
Anak-anak yang Memilih Kota
Herman memiliki tiga anak. Ketiganya sempat membantu di sawah saat masih sekolah. Tetapi setelah lulus, mereka memilih merantau ke kota.
Anak sulungnya bekerja di sebuah pabrik di Surabaya. Anak kedua membuka usaha kecil bersama temannya. Sementara anak bungsunya menjadi pegawai toko di kota kabupaten.
Mereka sering menyarankan Herman untuk beristirahat saja. “Bapak sudah tua, tidak perlu capek di sawah,” kata mereka setiap kali pulang.
Herman biasanya hanya tersenyum.
Bagi anak-anaknya, sawah adalah pekerjaan yang berat dan tidak selalu pasti. Harga pupuk naik, cuaca sering tidak menentu, dan hasil panen kadang tidak sebanding dengan usaha yang dikeluarkan.
Namun bagi Herman, sawah bukan sekadar pekerjaan. Ada kenangan masa kecil, suara tawa teman-teman lama, dan pelajaran hidup yang tidak pernah tertulis di buku.
Ia tidak pernah memaksa anak-anaknya kembali ke desa. Ia tahu kehidupan mereka sekarang juga tidak mudah.
Bertahan di Tengah Perubahan
Sekarang Herman lebih sering bekerja sendirian. Beberapa tetangga sebayanya juga masih bertani, tetapi jumlahnya semakin sedikit.
Di sawah, ia kadang berhenti sejenak, menatap hamparan padi yang bergerak pelan tertiup angin. Saat itulah ia merasa desa masih memiliki ritmenya sendiri, meskipun dunia di luar berubah begitu cepat.
Kadang-kadang cucunya ikut datang saat libur sekolah. Mereka berlari di pematang, bertanya tentang burung, air irigasi, atau bagaimana padi bisa tumbuh.
Herman tidak banyak memberi nasihat. Ia hanya menjawab seperlunya sambil menunjukkan bagaimana tanah diolah dan bagaimana bibit ditanam.
Di dalam hatinya, ia tidak tahu apakah suatu hari nanti ada yang akan melanjutkan sawah itu. Tetapi untuk sekarang, ia masih ingin menjaga tanah yang telah menemaninya hampir sepanjang hidup.
Sore hari biasanya Herman pulang ketika matahari mulai turun. Ia mencuci kaki di saluran air kecil di pinggir sawah, lalu berjalan perlahan menuju rumah.
Di teras rumah sederhana itu, ia sering duduk sambil memandang ke arah ladang yang mulai berubah warna saat senja. Tidak ada yang benar-benar ia keluhkan.
Kadang ia hanya teringat masa ketika desa terasa lebih ramai dengan para petani yang bekerja bersama.
Tetapi hidup memang bergerak seperti air yang mengalir. Anak-anak memilih jalan mereka sendiri, desa pun perlahan berubah bentuk.
Sementara itu Herman masih berjalan ke sawah setiap pagi, membawa kebiasaan lama yang tetap ia jaga.
Mungkin suatu hari sawah itu tidak lagi ia garap. Mungkin juga suatu saat ada orang lain yang melanjutkannya.
Untuk sekarang, tanah itu masih menyimpan langkah-langkahnya. Dan selama ia masih mampu berjalan di pematang, Herman merasa hidupnya masih memiliki tempat yang ia kenal dengan baik.*
Penulis: Fau #Kisah_Petani_Desa #Perubahan_Hidup_Petani #Cerita_Hidup_Desa #Narasi_Manusia_Indonesia #Petani_dan_Perubahan_Zaman
