Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

Digantikan Mesin, Kuli Tani Mulai Kehilangan Pekerjaan

Lima mesin panen bekerja sejajar di ladang pertanian besar dengan latar pedesaan
Lima mesin panen sejajar bekerja di ladang pertanian luas, menunjukkan teknologi modern dalam panen. (Gambar oleh hannahlmyers dari Pixabay)

Tintanesia - Pagi di sawah biasanya dimulai dengan suara langkah kaki yang pelan. Dulu, sebelum matahari benar-benar naik, beberapa orang sudah berjalan menyusuri pematang. Mereka membawa sabit, caping, dan percakapan kecil yang tidak selalu penting, tetapi terasa akrab. Di antara mereka ada para kuli tani, orang-orang yang menggantungkan hidup pada musim panen. Pekerjaan mereka sederhana: memotong padi, mengikatnya, lalu mengangkutnya ke pinggir sawah. Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya pekerjaan musiman. Namun bagi mereka, hari-hari panen adalah saat harapan hidup terasa sedikit lebih ringan.

Beberapa tahun terakhir, suasana itu perlahan berubah. Di sejumlah tempat, suara mesin mulai menggantikan keramaian tangan manusia. Mesin panen datang dengan roda besar dan gerak yang pasti. Padi dipotong, dirontokkan, dan ditampung dalam waktu yang jauh lebih singkat. Apa yang dulu membutuhkan banyak orang dan waktu berhari-hari kini dapat selesai dalam beberapa jam saja.

Sebagian kuli tani mulai menyadari perubahan itu secara perlahan. Awalnya hanya satu dua sawah yang menggunakan mesin. Mereka masih dipanggil untuk membantu di lahan lain. Namun seiring waktu, semakin banyak petani memilih cara yang dianggap lebih cepat dan efisien. Pekerjaan yang dulu datang hampir setiap musim panen mulai jarang terdengar.

Menjelang panen raya 2025 lalu, pemerintah menyalurkan 5.399 unit mesin pertanian kepada petani di berbagai daerah (Silahkan cek website pemerintah terkait) . Rinciannya mencakup 3.247 unit combine harvester dan 2.152 unit power thresher. Mesin-mesin ini mempercepat proses panen yang sebelumnya dikerjakan secara manual oleh banyak kuli tani. Sawah menjadi lebih efisien, panen dapat selesai lebih cepat, dan kehilangan hasil panen bisa ditekan.

Namun di beberapa tempat, efisiensi itu juga menghadirkan perubahan yang tidak selalu mudah dipahami oleh semua orang.

Beberapa kuli tani mengaku mulai jarang mendapatkan panggilan kerja. Pekerjaan yang dahulu melibatkan banyak tenaga kini dapat digantikan oleh satu mesin dan beberapa operator saja. Ada yang masih sesekali membantu membersihkan sisa jerami atau mengangkut karung hasil panen, tetapi jumlahnya tidak lagi sebanyak dulu.

Situasi ini tidak selalu dibicarakan dengan nada protes. Sebagian kuli tani hanya menceritakannya sebagai kenyataan baru yang pelan-pelan datang. Mereka tahu mesin dibuat untuk mempermudah pekerjaan manusia. Mereka juga memahami bahwa petani tentu ingin panen berjalan cepat dan hasilnya terjaga. Di sisi lain, mereka juga merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan: perasaan bahwa tempat mereka di sawah tidak lagi sama seperti dulu.

Sampai tahun 2026, penyediaan lapangan pekerjaan baru bagi kuli tani yang terdampak perubahan ini belum banyak terdengar secara jelas dari pemerintah. Sementara waktu terus berjalan seperti biasa. Musim tanam datang dan pergi, padi kembali menguning, lalu mesin-mesin kembali bergerak di hamparan sawah.

Di tengah perubahan itu, para kuli tani tetap menjalani hari-hari mereka dengan cara yang sederhana. Ada yang mencoba pekerjaan lain, menjadi buruh bangunan, pekerja serabutan, atau membantu usaha kecil di desa. Ada pula yang masih berharap suatu hari akan kembali dipanggil ke sawah, meski hanya untuk pekerjaan yang tersisa.

Kadang perubahan zaman memang tidak datang dengan suara keras. Ia hadir perlahan, seperti mesin yang mulai berjalan di kejauhan. Kita mungkin memahami alasan di baliknya, bahkan mengakui manfaatnya. Tetapi di sisi lain, ada juga manusia yang diam-diam harus menata ulang hidupnya.

Sawah masih terbentang luas di banyak daerah Indonesia. Padi tetap tumbuh, angin masih melewati pematang, dan panen tetap menjadi momen penting bagi para petani. Namun di antara suara mesin yang bekerja cepat, ada kenangan tentang masa ketika panen adalah kerja banyak tangan: tentang kebersamaan yang kini mulai jarang terlihat.

Dan mungkin di situlah kehidupan manusia sering memperlihatkan wajahnya yang paling jujur: perubahan terus berjalan, sementara manusia berusaha memahami tempatnya kembali di dalam dunia yang perlahan berubah.*

Penulis: Fau #Kuli_Tani #Mesin_Pertanian #Pekerja_Sawah #Perubahan_Pertanian #Kehidupan_Desa

Baca Juga
Posting Komentar
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad