Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

MBG Jalan Terus, Dompet Rakyat Menipis

Pasar tradisional dengan pedagang sayur segar di bawah payung merah dan suasana komunitas ramah
Ilustrasi pasar tradisional menjual sayur segar di bawah payung merah, suasana komunitas ramah penuh interaksi. (Gambar oleh M dari Pixabay) 

Tintanesia - Pagi hari di Indonesia sering dimulai dengan langkah-langkah yang sederhana. Di pasar tradisional, pedagang sayur membuka lapak sambil menata bayam, kangkung, dan cabai yang harganya pelan-pelan naik dari minggu ke minggu.

Sementara itu, di sekolah-sekolah, sebuah ritme lain sedang berjalan. Kotak-kotak makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) datang dari dapur penyedia, diantar menggunakan menuju sekolah, lalu dibagikan kepada para siswa. Anak-anak tinggal menerima makanan yang sudah disiapkan. Tidak membawa piring dari rumah, tidak perlu memikirkan lauk hari itu.

Bagi sebagian orang tua, pemandangan itu membawa rasa lega yang sederhana. Setidaknya ada satu waktu makan yang sudah tersedia untuk anak-anak mereka. Namun ketika hari berlanjut dan orang tua kembali ke pasar atau ke tempat kerja, kehidupan terasa kembali seperti biasa. Harga sayur masih naik. Pedagang masih harus menyesuaikan harga karena biaya kulakan ikut meningkat.

Di lapak kecil yang beratapkan terpal, MBG tidak terasa memberi perubahan langsung pada pendapatan mereka. Sayur tetap dijual seperti kemarin, dengan pembeli yang tetap berhitung sebelum membeli.

Di beberapa tempat, cerita tentang dapur MBG juga beredar dari  menyeruak di media sosial. Ada eks orang yang menguasai banyak dapur sekaligus, bahkan sampai puluhan titik penyediaan makanan.

Jadi dari luar terlihat seperti sistem yang besar dan sibuk: memasak dalam jumlah banyak, mengemas ompreng, lalu mengirimkannya ke sekolah-sekolah. Namun bagi banyak orang di sekitar pasar atau lingkungan kecil, semua itu terasa seperti sesuatu yang berjalan agak jauh dari kehidupan mereka sehari-hari.

Sementara itu, kehidupan orang dewasa tetap berjalan dengan perhitungannya sendiri. Di beberapa wilayah Indonesia, UMK masih termasuk rendah jika dibandingkan dengan kebutuhan hidup yang terus bergerak naik.

Ada pula cerita tentang guru honorer yang menerima gaji hanya ratusan ribu rupiah setiap bulan. Mereka tetap datang ke sekolah, tetap mengajar anak-anak yang siangnya menerima kotak makanan dari program MBG. Kehidupan seperti berjalan dalam potongan-potongan yang berbeda, berdampingan tapi tidak selalu saling menguatkan.

Di pasar, seorang ibu masih menimbang sayur sambil menatap uang di tangannya. Pedagang masih mengatur harga agar tetap bisa menjual tanpa terlalu merugi. Di sekolah, anak-anak membuka kotak makanan yang datang dari dapur MBG. Semua peristiwa itu terjadi di hari yang sama, di negeri yang sama, dalam kehidupan yang juga sama-sama sederhana.

Kadang kita melihatnya dengan rasa syukur, kadang dengan pertanyaan kecil yang tidak selalu memiliki jawaban. Program bisa berjalan, dapur bisa terus memasak, dan anak-anak bisa makan siang di sekolah. Tetapi di banyak rumah, dompet tetap dihitung pelan-pelan setiap malam, seolah kehidupan masih berjalan dalam iramanya sendiri yang tidak selalu mudah dipahami.*

Penulis: Fau #MBG #Kehidupan_Rakyat_Indonesia #Realitas_Ekonomi_Rakyat #Gaya_Hidup Refleksi

Baca Juga
Posting Komentar
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad