Benarkah Ada Mitos Perjalanan? Berikut 7 Hal Versi Nusantara
![]() |
| Ilustrasi seorang pejalan dalam suasana senja yang mistis. (Ilustrasi dibuat dengan AI Co-pilot/Tintanesia) |
Tintanesia - Perjalanan selalu memiliki ruang misteri di dalamnya. Tidak hanya berbicara tentang jarak, rute, dan tujuan, tetapi juga energi, tanda, dan keyakinan yang hidup di tengah masyarakat Nusantara. Dalam diam, banyak orang masih mempercayai bahwa sebelum melangkah jauh, ada hal-hal tak terlihat yang perlu dihormati.
Ada yang perlu Tintanesia garis bawahi, bahwa mitos perjalanan yang akan diurai ini bukan sekadar larangan atau aturan turun-temurun. Jauh dari itu, yakni berkenaan dengan cara leluhur menjaga harmoni antara manusia dan alam semesta. Di situlah makna perjalanan menjadi lebih dari sekadar gerakan fisik, tetapi juga perjalanan batin untuk tetap sadar, penuh pertimbangan, dan tidak serampangan.
7 Mitos Perjalanan yang Syarat Makna
Ada yang percaya, ada yang mengabaikan. Namun, ketika sebuah perjalanan terasa ganjil atau sesuatunya tidak berjalan sebagaimana mestinya, sebagian orang kembali bertanya dalam hati: “Apakah tanda ini sengaja diberikan agar aku lebih waspada?” Pertanyaan seperti itu membuat mitos-mitos lama tidak pernah benar-benar lenyap. Baiklah berikut 7 mitis perjalanan sesuai rangkuman Tintanesia dan sesuai dengan kepercayaan masyarakat Nusantara.
1. Tidak Berangkat Saat Hujan Pertama Turun
Dalam beberapa budaya di Nusantara, hujan pertama dianggap sebagai tanda perubahan energi alam. Banyak orang beranggapan perjalanan sebaiknya ditunda ketika hujan pertama mengguyur setelah kemarau panjang. Alasannya bukan sekadar kondisi jalan yang licin, tetapi juga karena dipercaya bahwa makhluk halus sedang bergerak mengikuti musim.
Sebagian masyarakat Nusantara juga memaknai hujan pertama ini, sebagai waktu istirahat sejenak. Konon, jika seseorang memaksa pergi saat hujan pertama, perjalanan terasa berat atau menghadapi gangguan kecil yang tidak perlu. Bagaimanapun, mitos ini mengajarkan kesadaran untuk menunggu waktu yang lebih baik.
2. Jangan Berangkat Saat Ada Angin Ribut atau Suara Aneh
Beberapa orang tua dulu percaya bahwa suara angin yang tidak biasa merupakan isyarat alam. Ketika angin bersuara seperti rintihan atau tiupan panjang, itu dianggap bukan hanya fenomena cuaca, melainkan sebuah pesan agar perjalanan ditunda.
Ada yang mengatakan kondisi ini membawa tanda ketidakseimbangan alam. Meskipun keyakinan tersebut terdengar mistis, namun pesan utamanya sederhana: sebuah perjalanan membutuhkan ketenangan, kesiapan, dan pikiran jernih.
3. Tidak Berangkat Saat Hati Gelisah
Dalam tradisi Jawa dan Madura, kegelisahan dianggap lebih dari sekadar rasa khawatir. Banyak orang percaya hati dapat menangkap tanda sebelum sesuatu terjadi. Jika hati terasa berat sebelum berangkat, mereka biasanya memilih menunggu sampai rasa itu reda.
Keyakinan ini tidak hanya terkait mitos, tetapi juga kebijaksanaan psikologis. Perjalanan dalam kondisi batin yang kacau sering kali membawa keputusan terburu-buru dan lupa memperhatikan hal penting seperti keselamatan, kondisi kendaraan, atau arah tujuan.
4. Kembali Masuk Rumah Jika Lupa Sesuatu
Ada kepercayaan yang cukup populer di berbagai daerah: jika seseorang sudah keluar rumah lalu kembali karena lupa sesuatu, maka perjalanan akan membawa hambatan. Sebagian orang lalu mengetuk pintu atau duduk sebentar sebelum berangkat kembali.
Tradisi ini disebut “pamit dua kali” dalam beberapa budaya. Namun, makna terdalamnya adalah menata kembali diri, memastikan pikiran tidak terburu-buru, dan menjaga niat perjalanan tetap stabil.
5. Tidak Berangkat Setelah Senja Tanpa Tujuan Jelas
Beberapa masyarakat percaya waktu setelah matahari terbenam adalah waktu transisi antara alam manusia dan alam tak kasat mata. Karena itu, perjalanan tanpa tujuan jelas pada waktu ini dianggap dapat mengundang gangguan energi negatif.
Namun di sisi lain, tradisi ini juga mengajarkan tanggung jawab. Orang-orang zaman dahulu ingin memastikan seseorang berpikir matang sebelum bepergian malam hari, karena risiko bahaya lebih besar.
6. Membawa Doa dan Niat Baik Sebelum Melangkah
Meski sederhana, doa perjalanan adalah salah satu tradisi paling kuat yang masih hidup hingga hari ini. Banyak orang percaya bahwa doa membuka pintu keselamatan dan memagari diri dari hal-hal yang tidak terlihat.
Doa tidak hanya menenangkan hati, tetapi juga menjadi pengingat bahwa perjalanan bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi bentuk ikhtiar sekaligus penyerahan diri kepada Yang Maha Mengatur. Karena itu, perjalanan bukan hanya tentang tiba di tujuan, tetapi juga tentang bagaimana kita pulang.
7. Tidak Mengumumkan Perjalanan Terlalu Jauh Sebelum Waktu Berangkat
Ada kepercayaan bahwa rencana perjalanan sebaiknya tidak diumumkan terlalu dini. Sebagian masyarakat percaya energi iri, dengki, atau mata jahat dapat mengganggu jalannya perjalanan jika diumbar berlebihan.
Namun, dari sudut pandang modern, tradisi ini mengajarkan privasi dan kehati-hatian. Tidak semua hal perlu diumumkan, terutama jika masih dalam rencana. Perjalanan menjadi lebih tenang ketika niat disimpan dengan bijak.
Perjalanan dan Makna di Baliknya
Mitos perjalanan dalam budaya Nusantara bukan hanya aturan tanpa dasar. Ia tumbuh dari pengalaman panjang manusia hidup berdampingan dengan alam, waktu, dan hal-hal yang tidak selalu dapat dijelaskan logika.
Mungkin sebagian orang memilih untuk percaya, atau hanya memandangnya sebagai tradisi lama. Namun, satu hal yang jelas: perjalanan selalu membawa pelajaran, baik melalui tanda-tanda alam maupun suara batin yang pelan tetapi tidak pernah salah.
Pada akhirnya, perjalanan bukan sekadar berpindah tempat. Maknanya jauh dalam dari itu, yakni dialog diam antara diri manusia dengan semesta.*
Penulis: Fau
