Baritan: Mengapa Tradisi Ini Menjadi Tamparan Bagi Ego Kita Sekarang?

Upacara Adat Baritan Jawa
(Pixabay/Mohamed_hassan)

Tintanesia – Di tengah derap kehidupan modern yang kian gegas, kita sering kali merasa kehilangan pegangan atas ketenangan batin kita sendiri. Segala sesuatu tampak diukur dengan pencapaian materi, hingga kita lupa bahwa ada akar tradisi yang sejak lama mengajarkan cara untuk tetap membumi.

Tradisi Baritan, yang masih terawat di relung-relung Pulau Jawa, hadir sebagai pengingat sunyi bagi kita semua bahwa keberkahan hidup sesungguhnya bermula dari sebuah pengakuan jujur akan keterbatasan kita sebagai manusia.

Mula-mula, kita perlu merenungkan kembali arti dari kata Baritan itu sendiri. Berakar dari makna kebaikan dan keberkahan, tradisi ini mengajak kita untuk berhenti sejenak dari segala ambisi duniawi yang sering kali melelahkan jiwa.

Tradisi tersebut bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan sebuah ruang refleksi di mana kita diajak menyadari bahwa keselamatan dan rezeki yang kita nikmati hari ini bukanlah semata hasil kerja keras kita sendiri, melainkan titipan dari Sang Pencipta yang perlu disyukuri dengan penuh kerendahan hati.

Kesetaraan yang Luruh dalam Suasana Magrib

Waktu pelaksanaan yang mengambil momen menjelang Magrib membawa kita pada sebuah pemaknaan tentang transisi kehidupan. Di saat cahaya mulai meredup dan kegelapan perlahan turun, kita diingatkan tentang kefanaan diri.

Peralihan ini tentu menjadi waktu yang paling pas bagi kita untuk memperbarui niat dan membersihkan jejak-jejak ego yang mungkin selama ini tanpa sadar kita pelihara dalam interaksi sosial sehari-hari.

Saat kita duduk bersimpuh melingkar dengan alas yang sama, ada sebuah pemandangan yang seharusnya menyentuh nurani kita. Takir, wadah makanan dari daun pisang itu, menjadi simbol kesederhanaan yang sangat kuat.

Di hadapan takir, status sosial yang kita banggakan di ruang publik digital mendadak kehilangan maknanya. Kita semua sama-sama manusia yang membutuhkan asupan dari bumi yang sama.

Dalam konteks ini, Baritan adalah bukan sekadar tentang membagikan nasi dan lauk-pauk kepada tetangga. Ritual ini adalah tentang kerelaan kita untuk melepaskan sekat-sekat perbedaan dan kembali merasakan kehangatan persaudaraan yang tulus.

Di dunia yang kian individualis ini, makan bersama dalam lingkaran doa adalah cara kita untuk merawat kemanusiaan yang mungkin mulai mengering.

Mengembalikan Harmoni antara Manusia dan Semesta

Selama ini, kita mungkin terlalu sibuk mengeruk hasil alam tanpa pernah benar-benar bertanya apakah kita sudah cukup menjaganya. Baritan hadir untuk menegur ketidaksadaran kita tersebut.

Melalui ritual syukur atas hasil bumi maupun laut, kita diajak untuk melihat alam bukan sebagai objek yang bisa dieksploitasi sesuka hati, melainkan sebagai kawan perjalanan yang harus dijaga keseimbangannya.

1. Doa Sebagai Bentuk Kepasrahan Kita

Di setiap daerah, dari Banyumas hingga Dongko, kita melihat variasi cara namun dengan ruh yang tetap tunggal: sebuah penyerahan nasib. Doa yang kita panjatkan bersama sesepuh desa adalah bentuk pengakuan bahwa di atas segala kuasa manusia, ada kekuasaan Tuhan yang menentukan selamat atau tidaknya kita dari mara bahaya.

Kita perlu mengakui bahwa melalui ritual sederhana ini, batin kita sering kali merasa jauh lebih tenang dibandingkan saat kita mengandalkan logika semata. Ketenangan itu muncul karena kita telah menunaikan kewajiban moral untuk berterima kasih sebelum memohon perlindungan lebih lanjut bagi masa depan desa dan keluarga kita.

2. Melestarikan Akar untuk Menjaga Kewarasan

Melihat Baritan di era modern ini terkadang memunculkan rasa haru sekaligus kekhawatiran dalam diri kita. Apakah kita hanya akan mewariskan ritual ini sebagai tontonan budaya, atau kita sanggup menjadikannya tuntunan hidup? Pelestarian tradisi ini adalah bukan sekadar soal festival tahunan, melainkan soal bagaimana kita menjaga nilai gotong royong agar tidak hilang ditelan arus globalisasi yang serba cepat.

Kapan Kita Benar-benar Berhenti Sejenak?

Pada akhirnya, Baritan memberikan pelajaran berharga bahwa kebahagiaan sejati justru sering kali kita temukan dalam ketenangan batin dan persaudaraan yang jujur. Tradisi luhur ini mengajak kita untuk kembali melihat ke dalam, merenungi setiap langkah yang telah kita ambil, dan menyadari bahwa kita tidak pernah benar-benar sendirian di dunia ini.

Refleksi ini mungkin perlu kita akhiri dengan sebuah pertanyaan jujur untuk diri kita masing-masing: Di tengah meja makan kita yang mungkin kian mewah, sudahkah ada ruang di hati kita untuk merasakan rasa syukur yang sedalam masyarakat desa saat mereka membagi takir di perempatan jalan?*

Penulis: Fau

#Tradisi_Baritan #Kearifan_Lokal #Budaya_Jawa #Refleksi_Batin #Kesadaran_Sosial

1 komentar
Batal
Comment Author Avatar
Anonim
Baritan Emang Keren