Pelatihan Adat Kuranji Hulu: Mengapa Jati Diri Kita Mulai Lenyap?

Pelatihan Adat se-Nagari Kuranji Hulu
Situasi Pelatihan Adat di Nagari Kuranji Hulu/Tintanesia/Jek

Tintanesia, Padang Pariaman - Kegiatan adat di Nagari Kuranji Hulu ini memuat unsur pelestarian dan penguatan identitas, yaitu menghadirkan kesadaran bahwa pelatihan adat bukan sekadar seremoni formal, melainkan juga ruang pembentukan karakter kolektif. Meski zaman terus bergerak maju, namun suasana luhur Minangkabau harus tetap kental dalam setiap sendi kehidupan masyarakat. Hal itu terlihat dari semangat yang tumbuh di delapan korong, yakni tampak akrab dengan keinginan untuk menjaga marwah dan martabat nagari.

Kegiatan yang berpusat di Masjid Nurul Yaqin ini menyiratkan pesan bahwa perjalanan menjaga budaya tidak boleh berhenti, yaitu menggambarkan kerinduan kita akan tatanan sosial yang harmonis. Kemudian kehadiran para tokoh adat serta Bundo Kanduang dalam acara tersebut, memancarkan pesan bahwa proses pewarisan nilai tidak pernah menutup pintu bagi generasi muda. Lalu kolaborasi yang terbangun antarelemen masyarakat, menghadirkan simbol keberanian untuk menembus batas tantangan moral di era modern.

Menghidupkan Kembali Peran Urang Nan Ampek dan Tali Tigo Sapilin

Perpaduan unsur kepemimpinan tradisional tersebut memunculkan karakter sosial yang kuat, sehingga identitas budaya kita menjadi pengikat solidaritas antar warga. Identitas itu, pasalnya memberi ruang emosional yang membuat setiap interaksi di tengah nagari terasa memiliki tubuh dan napasnya sendiri. Nah, dari konsistensi menghidupkan peran Urang Nan Ampek inilah, citra masyarakat yang berdaulat secara budaya akan terus tumbuh dan terjaga.

1. Belajar Mencegah Sebelum Terjadi Hanyut

Nilai-nilai yang disampaikan para tokoh adat dalam forum tersebut, memberikan arah bahwa setiap individu harus mampu meminteh sabalun hanyuik. Hal itu, pasalnya mengajak kita untuk memiliki kepekaan terhadap degradasi moral yang mulai mengintai keseharian. Dari kesadaran itulah, setiap pepatah dan petitih yang dipelajari menjadi instrumen penting untuk memitigasi pergeseran budaya sebelum benar-benar kehilangan akarnya.

2. Adat Sebagai Penjaga Marwah Keluarga

Begitu juga dengan pengajaran etika dalam keluarga yang menyiratkan kedalaman budi pekerti, yaitu menekankan bahwa adat adalah panduan praktis dalam bertingkah laku. Hal tersebut, menggambarkan keindahan hubungan antara sesepuh dan generasi muda yang saling menghormati. Kemudian pemahaman yang mendalam terhadap tradisi luhur itu, memancarkan pesan bahwa setiap anak nagari memikul beban untuk menjaga nama baik lingkungan sosialnya.

Membangun Nagari Madani Berlandaskan Adat dan Syarak

Visi mewujudkan nagari madani ini memuat harapan tentang masyarakat yang maju namun tetap religius, yaitu menghadirkan keyakinan bahwa adat basandi syarak bukan sekadar slogan. Meski pengaruh luar terus berdatangan, namun filosofi syarak basandikan kitabullah tetap menjadi kompas dalam setiap pengambilan kebijakan nagari. Hal itu terlihat dari integrasi antara program pemerintah dan nilai spiritual, yakni tampak akrab dengan cita-cita kesejahteraan yang bermartabat.

1. Menemukan Makna di Balik Karakter

Kepemimpinan di nagari yang mengedepankan pembentukan karakter ini, memberikan pesan bahwa kemajuan fisik harus diiringi dengan kematangan mental. Hal itu, pasalnya memberi ruang bagi tumbuhnya sopan santun yang menjadi ciri khas manusia berbudaya. Nah, dari penanaman nilai tata krama tersebutlah, karakter generasi muda kita diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang teguh memegang prinsip agama dan norma sosial.

2. Kebijaksanaan dalam Menghadapi Zaman

Begitu juga dengan pemahaman tentang kecerdikan orang Minang yang menyiratkan ketajaman berpikir, yaitu menggambarkan kemampuan untuk membaca perubahan tanpa harus kehilangan jati diri. Hal tersebut, memancarkan pesan bahwa kebijaksanaan lokal tetap relevan untuk menjawab tantangan masa kini. Lalu penerapan nilai-nilai bijak itu dalam keseharian, menghadirkan simbol ketahanan budaya yang tidak akan pudar oleh arus globalisasi.

Adat Adalah Cara Kita Menghargai Diri Sendiri

Refleksi akhir dari rangkaian kegiatan di seluruh korong ini, memunculkan kesadaran bahwa menghargai adat adalah bentuk penghormatan tertinggi pada diri sendiri. Identitas itu, pasalnya memberi pijakan yang kuat agar kita tidak mudah terombang-ambing oleh nilai yang asing. Nah, dari keberlanjutan pelatihan inilah, harapan untuk melihat Nagari Kuranji Hulu yang madani dan berbudaya bukan lagi sekadar impian, melainkan kenyataan yang sedang kita bangun bersama.*

Penulis: Fau

#Budaya_Minangkabau #Nagari_Madani #Kearifan_Lokal #Pelestarian_Adat #Pendidikan_Karakter

Posting Komentar