![]() |
| (Pixabay/SyauqiFillah) |
Tintanesia - Tradisi tutur kata di lingkungan pesantren Madura ini memuat unsur kebijaksanaan dan estetika, yaitu menghadirkan kesadaran bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga ruang pembentukan sikap artistik dalam berkhidmat. Fenomena tersebut mencerminkan kedalaman kearifan lokal yang telah mendarah daging dalam denyut nadi santri kita sebagai upaya untuk menyeimbangkan antara kecerdasan intelektual dan kehalusan budi pekerti dalam keseharian.
Meski benih modernitas sering kali menawarkan gaya bicara yang lugas dan instan, namun atmosfer ketakziman kental dalam setiap kosakata yang diucapkan santri saat menghadap gurunya. Hal itu terlihat dari bagaimana santri asal Jrengik hingga pelosok Madura merangkai kalimat, yakni tampak akrab dengan intonasi pelan dan ritmis yang memperkaya pendekatan batin kita dalam memaknai hubungan spiritual antara murid dan kiyai bagi kehidupan.
Nada Berirama Simbol Penghormatan Santri pada Kiyai
Gaya bicara yang meliuk lembut laksana lagu sejatinya menyiratkan perjalanan tak pernah berhenti menuju pembersihan ego di hadapan sang guru, yaitu menggambarkan betapa adab lebih utama daripada sekadar pengetahuan formal.
1. Filosofi Suara yang Teratur dan Berkah
Kehati-hatian dalam mengatur volume suara menghadirkan simbol penataan hati, yaitu menggambarkan proses penyampaian maksud yang dilandasi oleh niat tulus mencari rida ilahi. Kondisi itu, pasalnya memancarkan pesan bahwa setiap getaran suara yang keluar di depan kiyai merupakan pantulan dari kesucian batin, sehingga keberkahan ilmu dapat terserap dengan sempurna ke dalam jiwa santri bagi lingkungan kita.
2. Makna Keheningan dan Ketepatan Waktu
Sikap menunduk dan menunggu waktu yang tepat untuk menjawab menghadirkan simbol kedewasaan emosional, yaitu menggambarkan kemampuan santri dalam mengendalikan diri dari sifat tergesa-gesa. Kejadian itu, pasalnya memberi ruang bagi kita untuk merenungi bahwa dalam budaya pesantren, diam yang penuh adab jauh lebih berharga daripada kefasihan bicara yang mengabaikan rasa hormat dalam keseharian kita.
Bahasa Halus sebagai Manifestasi Ketaatan Batin
Struktur bahasa Madura tingkat tinggi yang digunakan para santri memancarkan pesan bahwa setiap pemilihan kata adalah bentuk pengakuan atas kemuliaan derajat seorang pendidik spiritual.
1. Kesakralan Kosakata dalam Komunikasi Pesantren
Rangkaian kosakata halus yang terpilih menghadirkan simbol penjagaan marwah guru, yaitu menggambarkan betapa santri sangat menghargai setiap tetes ilmu yang diberikan. Kondisi itu, pasalnya memberi ruang emosional yang membuat hubungan antara murid dan kiyai terasa memiliki tubuh dan napasnya sendiri, sehingga proses transfer pengetahuan berlangsung dalam suasana yang penuh dengan kelembutan bagi peradaban.
2. Perbedaan Gaya Bicara di Tengah Masyarakat
Kemampuan beradaptasi dengan nada bicara yang lebih tegas namun tetap sopan saat berada di luar pesantren menghadirkan simbol integritas kepribadian, yaitu menggambarkan identitas santri sebagai individu yang berilmu sekaligus berwibawa. Hal tersebut, pasalnya memancarkan pesan bahwa pendidikan karakter di Madura berhasil mengasah kepekaan sosial agar santri mampu menempatkan diri dengan bijak dalam berbagai situasi sosial bagi kita.
Warisan Adab dalam Percakapan di Era Modern
Keajekan tradisi tutur kata ini menghadirkan simbol keteguhan budaya, yaitu menggambarkan pentingnya menjaga identitas lokal di tengah derasnya arus komunikasi digital yang sering kali kehilangan etika.
1. Transformasi Tutur Kata Menjadi Nilai Ibadah
Memandang setiap percakapan sebagai bagian dari laku spiritual menghadirkan simbol kesadaran kosmos, yaitu menggambarkan bahwa setiap interaksi manusiawi harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Nah, dari sinilah kita diajak memahami bahwa berbicara dengan hati yang tenang adalah kunci untuk menciptakan keharmonisan sosial yang abadi di tengah dunia yang semakin bising dan mekanis bagi kita.
2. Kesantunan sebagai Benteng Moral Masa Kini
Ketulusan santri dalam merawat bahasa halus menghadirkan simbol perlawanan terhadap budaya bicara keras yang nir-adab, yaitu menggambarkan kekuatan moral yang lahir dari kelembutan batin. Nah, dari konsistensi tersebutlah citra santri Madura tumbuh sebagai penjaga gawang etika yang mengajak kita semua untuk kembali menengok akar kebijaksanaan dalam bertutur kata demi menjaga martabat kemanusiaan dalam keseharian.
Partisipasi kita dalam merenungi kehalusan tutur kata santri menyiratkan perjalanan panjang menuju pemahaman tentang hakikat penghormatan yang tidak boleh hilang oleh perubahan zaman. Fenomena ini, pasalnya memberi ruang bagi setiap jiwa untuk melihat bahwa adab dalam berbicara adalah cerminan dari hati yang bening, yang mampu memancarkan cahaya kedamaian bagi siapa saja yang mendengarnya.
Nah, dari sinilah kita perlu memahami bahwa setiap kalimat sopan yang kita ucapkan adalah bahasa pengingat agar kita tetap memelihara kemuliaan akhlak. Mari kita terus teguh memelihara kepekaan ini, sehingga karakter estetik kebudayaan kita tetap memancarkan simbol keberanian untuk tetap santun, menghargai martabat sesama, serta menjaga kesucian lisan dalam setiap embusan napas perjuangannya.
Penulis: Fau
#Etika_Santri #Budaya_Madura #Adab_Pesantren #Kearifan_Lokal #Refleksi_Batin
