![]() |
| Makam Islam di Indonesia dengan pohon-pohon besar |
tintanesia.com - Sudah ngopi, Cak? Sore itu suasana di perbatasan Desa Tenggar terasa adem, tapi ada cerita kecil yang sering lewat begitu saja tanpa sempat dipikir panjang oleh orang yang terburu-buru. Cerita ini tentang Akandra, kontraktor muda yang lagi naik daun, yang langkahnya terasa lebih berat dari biasanya seolah membawa ambisi sebesar gunung di pundaknya.
Di desa itu, Cak, orang-orang punya kebiasaan sederhana saat melintas makam, cukup menunduk atau mengucap doa sebagai bentuk menghormati aturan adat yang sudah lama dijaga. Kebiasaan itu bukan soal percaya hal aneh, tapi lebih ke menjaga rasa hormat pada lingkungan dan orang-orang sebelum mereka. Cara hidup seperti ini mengakar kuat seperti akar pohon tua yang diam-diam menjaga tanah tetap utuh.
Jalan yang Terlihat Biasa, Tapi Menyimpan Pesan
Sore itu, Cak, Akandra melangkah tanpa menoleh sedikit pun ke arah makam, padahal warga sekitar biasa memperlambat langkah di titik itu. Baginya, semua hal cukup dinilai dari logika dan hasil kerja, sehingga kebiasaan seperti itu terasa tidak penting. Sikapnya mengeras seperti pintu yang jarang dibuka hingga berdebu.
Sesampainya di rumah kontrakan, suasana terasa agak canggung bukan karena hal aneh, tapi karena pikirannya sendiri yang terus mengulang kejadian sore tadi. Obrolan warga yang sempat ia dengar mulai teringat, apalagi nada bicara mereka yang terdengar serius. Perasaan tidak nyaman itu tumbuh pelan seperti air yang menetes terus-menerus hingga memenuhi wadah.
1. Obrolan Warung dan Nasihat yang Tak Langsung Diterima
Keesokan paginya, Akandra mampir ke warung kopi dekat pasar, tempat orang biasa berbagi cerita tanpa beban. Di sana ada Pak Sarman yang dikenal bijak, yang mendengarkan cerita Akandra dengan tenang tanpa menyela. Cara bicaranya sederhana, tapi terasa dalam seperti sumur lama yang menyimpan banyak kisah.
Akandra tetap pada pendiriannya, Cak, karena merasa semua yang ia rasakan hanya efek pikiran yang terlalu lelah dan bukan hal yang perlu dibesar-besarkan. Ia menganggap aturan adat hanya kebiasaan lama yang tidak relevan dengan kehidupan modern. Keyakinannya berdiri tegak seperti tiang yang tak mudah digoyang angin.
Pak Sarman tidak memaksa, hanya menyampaikan bahwa menghormati kebiasaan bukan soal percaya atau tidak, tapi soal menjaga hubungan baik dengan lingkungan sekitar. Obrolan itu membuat suasana warung jadi lebih hening karena beberapa orang ikut memperhatikan. Nasihat itu masuk perlahan seperti angin sejuk yang menyelinap tanpa terasa.
2. Benturan dengan Keluarga dan Ego yang Memuncak
Malamnya, Cak, suasana rumah memanas saat Dela mencoba mengingatkan agar kakaknya kembali mengikuti aturan adat yang berlaku di desa. Nada bicaranya bukan marah, tapi lebih ke khawatir karena melihat perubahan sikap Akandra yang semakin keras. Kekhawatirannya terasa seperti benang yang ditarik pelan tapi terus menegang.
Akandra menolak, karena merasa tidak perlu mengikuti sesuatu yang tidak bisa diukur secara nyata. Baginya, keberhasilan datang dari usaha dan kerja keras, bukan dari mengikuti kebiasaan yang dianggap tidak penting. Egonya menjulang tinggi seperti tembok yang sulit ditembus dari luar.
Pertengkaran itu membuat suasana rumah jadi sepi, Cak, meski lampu masih menyala terang di setiap sudut. Dalam diam, pikiran Akandra mulai memutar ulang semua kejadian sejak sore sebelumnya. Rasa tidak tenang itu membesar seperti bola salju yang terus menggelinding.
3. Titik Balik yang Mengubah Cara Pandang
Pagi berikutnya, Cak, kondisi Akandra terlihat menurun karena kurang istirahat dan pikirannya yang terus bekerja tanpa henti. Warga yang melihatnya mulai khawatir karena sikapnya tidak seperti biasanya, lalu memanggil Pak Sarman untuk membantu menenangkan. Suasana pagi itu terasa tegang seperti udara yang menunggu hujan turun.
Dengan pendekatan tenang, Pak Sarman mengajak Akandra untuk kembali ke makam sebagai bentuk menghargai aturan adat yang sudah lama dijaga masyarakat. Ajakan itu tidak memaksa, tapi disampaikan pelan sehingga akhirnya diterima. Kesadarannya muncul perlahan seperti cahaya pagi yang masuk lewat celah jendela.
Saat sampai di makam, Cak, Akandra menunduk dan berdoa dengan tulus, bukan karena takut, tapi karena mulai memahami arti menghargai tradisi. Ia merasa lebih lega setelah melakukannya, seolah beban yang sejak kemarin dibawa akhirnya dilepaskan. Hatinya melunak seperti tanah kering yang tersiram hujan pertama.
Cerita ini, Cak, bukan soal benar atau salah, tapi tentang bagaimana seseorang belajar memahami kebiasaan yang hidup di tengah masyarakat. Tradisi sering kali hadir bukan untuk membatasi, tapi untuk menjaga hubungan antar manusia agar tetap selaras. Hidup terasa berat kalau dijalani tanpa mau melihat dari sudut pandang lain.
Akhirnya, Akandra belajar bahwa menunduk bukan berarti kalah, tapi bentuk menghargai yang justru menguatkan diri sendiri. Hal sederhana kadang menyimpan makna yang dalam kalau dijalani dengan hati terbuka. Menurut sampean, lebih baik tetap bertahan dengan cara sendiri, atau mulai pelan-pelan memahami kebiasaan yang sudah lama dijaga bersama?*
Penulis: Fau #Tradisi_Desa #Cerita_Refleksi #Budaya_Lokal
